Sinergi Sirkular AMMAN: Mengubah Serat Aren Terbuang Menjadi Perajut Mandiri Ekonomi Warga

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Aroma khas serat aren menyeruak di antara tumpukan bahan alami yang sedang dipilah dengan teliti. Di bawah terik siang, suasana di sebuah bengkel kerja sederhana di Kabupaten Sumbawa Barat tetap terasa hidup. Ada gerak ritmis di sana. Tangan-tangan cekatan bergerak lincah di bawah arahan Tarmizi Pane.

Sosok penggerak lokal ini memelopori pemanfaatan serat ijuk pohon aren. Bahan yang dulunya kerap diabaikan dan dianggap limbah tak berharga, kini disulap menjadi lembaran pelindung lereng bernilai tinggi.

Geliat produktivitas ini tumbuh di Kecamatan Jereweh, tepatnya di Desa Beru. Di sinilah, lembaran pelindung tebing itu dianyam hingga berganti rupa menjadi ijuk blanket atau selimut serat alami penahan erosi.

Tidak kurang dari 20 ibu rumah tangga di desa itu terlibat aktif dalam rantai produksi. Di sela kesibukan mengurus keluarga, jari-jari mereka lincah merajut helaian demi helaian ijuk menjadi tameng tebing yang kokoh. Dari aktivitas ini, mereka memperoleh penghasilan tambahan yang stabil untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga secara mandiri.

“Kami merangkul lebih dari 20 ibu rumah tangga di desa ini untuk belajar bersama. Bahan yang dulunya dianggap kurang berguna, kini bisa diubah menjadi pelindung bumi yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Tarmizi Pane.

“Dari tangan-tangan mereka yang terbiasa mengurus domestik kini mampu menopang finansial keluarga secara mandiri. Ini adalah kebanggaan terbesar kami, dari anyaman ijuk ini, kemandirian itu lahir.”

Inovasi ijuk blanket yang lahir dari ketelatenan warga lingkar tambang memikul tugas besar di hulu. Bersama coconet (jaring sabut kelapa) produksi kelompok perajin lainnya, produk anyaman lokal ini menjadi garda terdepan dalam proyek rekayasa ekologi untuk menjinakkan tebing curam di Tambang Batu Hijau milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).

“Limbah lokal disulap jadi pelindung lereng tambang sekaligus penopang finasial warga.”

Kemitraan Sirkuler: Mengalirkan Berkah Tambang ke Akar Rumput

Tahapan teknis reklamasi pada lahan bekas tambang selalu diawali dengan penataan permukaan lahan dan pengelolaan tanah pucuk secara ketat. Penebaran tanah pucuk dilakukan sebagai media tumbuh tanaman, lalu dipadatkan hingga mencapai ketebalan maksimal 2,75 meter. Pemadatan ini memiliki fungsi mekanis yang vital, yaitu memperkecil pori-pori udara di dalam tanah agar air yang meresap tidak bereaksi dengan batuan asam yang berpotensi memicu terbentuknya air asam tambang. Setelah stabilitas tanah dasar tercapai, tantangan berikutnya adalah melindungi lapisan subur itu dari hantaman hujan tropis sebelum vegetasi sempat tumbuh.

Bentang hijau reklamasi AMMAN menggambarkan transformasi lahan bekas tambang Batu Hijau di Kabupaten Sumbawa Barat menjadi kawasan hutan mandiri yang subur dengan puluhan jenis flora lokal. (Foto: Dok: AMMAN)

Pengendalian erosi di lereng curam Tambang Batu Hijau kini beralih dari bahan impor ke metode biovegetatif. Sinergi sirkular di tapak tambang ini juga memanfaatkan limbah kardus domestik yang diolah kembali menjadi mulsa organik pelapis tanah. Bersama mulsa tersebut, produk lokal seperti ijuk blanket dan coconet dihamparkan karena memiliki struktur rapat dan tahan pelapukan. Karakteristik tersebut menjadikannya media yang efektif untuk menahan erosi sekaligus menjaga benih saat proses hydroseeding (teknik penanaman cepat lewat penyemprotan cairan campuran benih dan pupuk).

AMMAN mengintegrasikan hasil kerajinan warga dengan kebutuhan teknis tambang. Lapisan mulsa organik dan gulungan ijuk blanket serta coconet buatan warga dihamparkan di atas tebing bak selimut pelindung hayati. Anyaman ini seolah memasang badan memecah energi kinetik butiran hujan, menjaga kelembapan mikro tanah, sekaligus memeluk erat benih tanaman agar tidak hanyut terbawa air.

Komitmen jangka panjang PT AMMAN untuk menyerap hasil produksi komunitas memastikan roda ekonomi sirkular lokal terus berputar. Melalui model kemitraan ini, AMMAN mendapatkan jaring serat pelindung tebing yang efektif, sementara anyaman tangan warga menjadi penggerak ekonomi akar rumput yang mandiri.

“Integrasi produk lokal ke teknis reklamasi mengalirkan manfaat tambang ke akar rumput.”

Menakar Kerapatan Daun Dengan Presisi Tinggi

Sinergi ekonomi sirkular menempatkan anyaman serat alami buatan warga sebagai fondasi awal untuk menjaga benih di bumi. Demi memastikan pertumbuhan di lereng berjalan optimal, manajemen AMMAN beralih dari pengamatan visual konvensional di lapangan ke sistem pemantauan digital yang lebih presisi. AMMAN memanfaatkan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk mengukur kerapatan vegetasi di lereng tebing secara berkala langsung dari ruang kendali.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menjelaskan metode analisis NDVI digunakan untuk memastikan program pemulihan lahan berjalan lebih presisi dan efektif.

“Kami menganalisis citra satelit secara berkala untuk memantau perkembangan tingkat kehijauan di area lereng tebing. Berkat analisis NDVI ini, AMMAN mendapatkan data akurat mengenai keberhasilan penghijauan di lahan bekas tambang, di mana nilai indeks area tersebut kini mendekati angka +1, yang menunjukkan kepadatan daun hijau yang sangat tinggi, serupa dengan kondisi hutan alami,” papar Kartika.

Secara teknis, sistem penginderaan jauh ini bekerja dengan memanfaatkan rasio panjang gelombang cahaya kanal Merah dan Near-Infrared Radiation (NIR), baik dari citra satelit maupun foto udara. Sensor digital kemudian menerjemahkan tingkat kehijauan tanaman ke dalam rentang angka matematis antara -1 hingga +1. Angka positif mengonfirmasi wilayah yang hijau tertutup tanaman, angka negatif menunjukkan lahan terbuka, sedangkan nilai yang bergerak mendekati nol menjadi penanda tanaman masih jarang.

Melalui indikator kuantitatif tersebut, AMMAN mendapatkan validasi objektif bentangan mulsa, ijuk blanket, dan coconet buatan komunitas di hilir sukses menjaga proses penghijauan di tebing hulu hingga tumbuh menjadi hamparan hijau yang sehat.

Dua Dekade Jorina Waworuntu Menjaga Nafas Tapak Tambang

Konfirmasi ilmiah mengenai kehadiran oasis hijau dari ruang kendali digital tidak berdiri sendiri sebagai angka di atas kertas. Kerapatan daun yang tertangkap oleh sensor satelit mencerminkan akselerasi nyata dari perluasan area pemulihan lahan yang membentang di tingkat hulu. Keberhasilan metode biovegetatif dalam menjaga stabilitas tanah dasar kemudian mengantarkan AMMAN menembus rekor luasan restorasi lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Catatan performa lingkungan menunjukkan hingga akhir tahun 2025, AMMAN telah mereklamasi lahan seluas 859,61 hektare. Capaian reklamasi pada tahun 2025 saja mencapai 92,67 hektare, menjadi yang terbesar sepanjang sejarah operasi Batu Hijau. Di atas hamparan tebing curam yang dulunya merupakan batuan keras pascatambang, hamparan hijau penutup lereng kini tumbuh dengan stabil setelah berhasil melewati fase kritis hantaman erosi berkat perlindungan anyaman serat alami milik warga.

Komitmen pemulihan ekosistem ini dijalankan di tengah tantangan perubahan iklim yang nyata, seperti cuaca yang semakin sulit diprediksi, curah hujan ekstrem, hingga musim kemarau yang lebih panjang.

Jorina Waworuntu, Head of Environment Department AMMAN. (Foto: Dok. AMMAN)

Cara pandang dalam menghadapi tantangan itu dibentuk oleh Jorina Waworuntu, Head of Environment Department AMMAN, yang telah tinggal dan bekerja selama lebih dari dua dekade di Site Batu Hijau. Bagi Jorina, keberhasilan pengelolaan lingkungan di tapak tambang tidak pernah lahir dari kerja satu orang saja. Ia membagikan sebuah pandangan mendalam mengenai arti penting lingkungan sebagai ruang hidup.

“Lingkungan bukan sekadar istilah yang hidup di dalam dokumen, regulasi, atau laporan operasional. Lingkungan adalah ruang hidup. Ia hadir dalam air yang kita gunakan, udara yang kita hirup, tanah tempat kita berpijak, tumbuhan di sekitar kita, hingga manusia yang menjadi bagian dari ekosistem itu sendiri. Menjaga lingkungan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban, tetapi menjaga kualitas kehidupan itu sendiri,” tegas Jorina, seraya merefleksikan bahwa sebuah sistem hanya akan berjalan jika didukung oleh orang-orang yang memiliki komitmen dan konsistensi.

“Reklamasi bukan sekedar mengejar angka rekor, melainkan komitmen menjaga kualitas ruang hidup.”

Menggandeng Komunitas: Menjaga Akar, Merawat Kemandirian Warga

Prinsip menjaga kualitas kehidupan secara menyeluruh menempatkan perluasan lahan hijau di puncak tebing Batu Hijau harus berakar kuat pada ketekunan komunitas lokal di tingkat bawah. Kerja operasional sengaja memadukan pemulihan lingkungan berjalan selaras dengan program pengembangan kapasitas komunitas demi memastikan ketahanan ekonomi warga sekitar.

Kebijakan tata kelola sosial AMMAN yang dipaparkan oleh Kartika Octaviana menegaskan arah program berfokus penuh pada penciptaan nilai kemandirian jangka panjang bagi warga di Kabupaten Sumbawa Barat.

“Program reklamasi berbasis komunitas merupakan bagian dari komitmen jangka panjang AMMAN untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar tambang. Kami tidak hanya fokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga pada pembangunan kapasitas ekonomi lokal yang akan terus berjalan, bahkan setelah masa operasional tambang berakhir.”

Paralel dengan implementasi teknologi berskala makro, aktivitas pemulihan lingkungan tetap diawali dari penguatan program pembibitan. Program Pembibitan Komunitas (Cummunity Nursery) digerakkan di lapangan dengan merangkul kelompok tani lokal Desa Sekongkang dan Desa Tongo.

Di sela-sela hamparan persemaian hijau, Adel Brigita bertindak sebagai penggerak utama yang setia merajut kemitraan bersama komunitas tani setempat. Melalui ketelatenan menyemai bibit flora lokal, kesadaran kolektif perlahan tumbuh menjadi energi perekat kebersamaan di tingkat bawah. Kedekatan emosional di tingkat tapak membuat setiap hitungan teknis pembibitan dikerjakan dengan penuh tanggung jawab, bukan lagi sekadar target kerja di atas kertas.

Saat menjabarkan mekanisme pelaksanaan program di lapangan, Adel Brigita menegaskan keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadi kunci utama keberlanjutan pemulihan alam jangka panjang.

“Konsistensi dan komitmen kelompok tani Desa Sekongkang dan Desa Tongo menjadi motor penggerak utama pembibitan komunitas,” ungkap Adel Brigita.

“Masyarakat memegang kendali penting dalam rantai penyediaan vegetasi endemik. Hal ini membuktikan pendekatan inklusif mampu menyuplai kebutuhan material reklamasi AMMAN secara mandiri sekaligus menggerakkan ekonomi desa.”

Keterlibatan inklusif tersebut terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi mandiri. Sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan tahun 2026, kapasitas produksi pembibitan komunitas kawalan Adel Brigita bersama mitra tani lokal stabil di kisaran 250.000 hingga 300.000 bibit per tahun. Rantai penyediaan bibit berfungsi penuh menghijaukan lereng tambang AMMAN, sekaligus memulihkan habitat alami keanekaragaman hayati fauna lokal.

Bersama tangan-tangan terampil warga lokal, setiap bibit yang disemai hari ini adalah investasi hijau untuk pemulihan lingkungan dan masa depan yang lestari di sekitar wilayah operasional. (Foto: Dok. AMMAN)

Menariknya, denyut hijau dari persemaian ini tidak berhenti di wilayah lingkar tambang saja. AMMAN mengalirkan semangat kemandirian tersebut lebih jauh hingga ke Desa Talonang melalui program Perhutanan Sosial.

Lewat pendekatan tiga kelola yaitu mengelola kawasan, kelembagaan, dan usaha, masyarakat tani hutan diberdayakan secara legal untuk menanam pohon bernilai ekonomi. Selain menjaga kelestarian hutan, sistem agroforestri ini menanam tanaman komoditas seperti nangka, alpukat, kelengkeng, hingga pete yang kelak buahnya dapat dipanen warga sebagai sumber kehidupan ekonomi berkelanjutan.

“ Bukti hidup bahwa deru industri raksasa dan bisikan kearifan lokal bisa berjalan seirama tanpa harus saling meniadakan.”

Keberhasilan model integrasi ekonomi hijau dan pelibatan sosial pada fasilitas pembibitan lingkar tambang membawa AMMAN dianugerahi Penghargaan Subroto dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Penghargaan tertinggi ini diraih untuk bidang Inovasi Penyediaan, Pembangunan, dan Pengelolaan Fasilitas Pembibitan atau Persemaian melalui Program Inovasi Persemaian Masyarakat atau Community Nursery. Rekognisi bergengsi ini mengonfirmasi komunitas lokal mampu bertransformasi menjadi mitra strategis yang menentukan keberhasilan target lingkungan AMMAN secara mandiri.

Mahkota Hijau dari Panggung Jakarta

Integrasi terukur antara keterampilan tangan masyarakat, capaian angka luasan rekor, dan ketatnya validasi teknologi penginderaan jauh membawa AMMAN memenuhi aspek penilaian tertinggi dari regulator nasional. Langkah pengelolaan lingkungan yang melampaui batas kepatuhan standar membuat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan resmi menganugerahi AMMAN peringkat PROPER Hijau atau Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan.

Apresiasi atas ketangguhan ekologis ini dikukuhkan dalam sebuah momentum berharga pada April 2026 lalu di Jakarta. Di atas panggung kehormatan, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan pesan mendalam bahwa penghargaan ini bukan sekadar penilaian teknis di atas kertas, melainkan bentuk kepercayaan penuh untuk mendorong industri nasional bergerak lebih hijau.

“Pencapaian ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah penghargaan,” tegas Menteri Hanif, mengingatkan seluruh pelaku industri tambang akan tanggung jawab besar yang mereka pikul dalam mendedikasikan berbagai upaya demi memperkuat ketahanan lingkungan nasional.

Bagi AMMAN sendiri, rekognisi kepatuhan tata kelola lingkungan ini menjadi jangkar komitmen yang semakin kokoh. Kartika Octaviana kembali mempertegas prinsip mendasar yang melandasi setiap keputusan investasi operasional korporasi.

“Pencapaian PROPER Hijau ini adalah manifestasi atas integritas AMMAN dalam menerapkan praktik operasional yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kami meyakini keberlanjutan merupakan investasi strategis jangka panjang. Oleh karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pemenuhan kepatuhan, tetapi terus mendorong inovasi untuk menciptakan dampak positif yang terukur bagi lingkungan dan masyarakat,” ungkap Kartika.

Pada akhirnya, selembar mulsa organik, ijuk blanket, dan jaring-jaring coconet dilereng tebing bukan lagi sekedar material pelindung tanah yang pasif. Lembaran bersahaja itu kini menjadi bukti nyata, bahwa deru industri skala besar dan denyut pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seirama tanpa harus saling meniadakan.

Kolaborasi ini melahirkan dampak ganda yang terukur. Di hulu, mata satelit mengonfirmasi tebing Batu Hijau yang dulunya batuan keras kini tumbuh menjadi hamparan hijau yang sehat. Sementara di hilir, warga Desa Talonang mulai membangun kemandirian ekonomi dari pepohonan komoditas yang mereka tanam sendiri. Melalui sinergi ini, AMMAN dan komunitas lokal telah melangkah melampaui selembar dokumen kepatuhan merawat bumi sekaligus memastikan masa depan kehidupan di atasnya tetap berjalan berkelanjutan.

About The Author