Bukan Sekadar Mitra, Kominfo KSB Posisikan Media Sebagai ‘Sekupu’ Kebijakan

Taliwang,harianntb.online,- Suasana santai dan sarat makna menyelimuti pertemuan antara Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sumbawa Barat dengan puluhan awak media dalam tajuk Coffee Morning di Kantin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Selasa (7/4)

Di tengah kepulan aroma kopi, Kepala Dinas Kominfo Sumbawa Barat, Dedy Damhudi, melontarkan sebuah analogi menarik yang mendefinisikan ulang posisi pers di mata pemerintah daerah secara filosofis namun lugas.

Dedy menegaskan media massa bukan sekadar mitra kerja formal, melainkan memiliki peran ganda yang sangat krusial, yakni sebagai “Sekutu” sekaligus “Sekupu”.

Istilah ini sengaja di gunakan untuk menggambarkan kedekatan emosional dan fungsional yang seharusnya terjalin demi kemajuan daerah.

Sebagai sekutu, media diharapkan menjadi garda terdepan dalam mendiseminasikan program pembangunan.

” Sementara sebagai sekupu (merujuk pada kedekatan layaknya saudara) media diharapkan mampu memberikan masukan dan kritik konstruktif yang tulus demi kebaikan bersama,” ungkapnya.

Dalam diskusi yang penuh kehangatan tersebut, Kominfo membuka ruang lebar bagi para jurnalis untuk membedah berbagai isu strategis yang tengah menjadi buah bibir masyarakat, termasuk polemik mengenai Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLVA) daerah. Tak hanya soal angka dan kebijakan, pertemuan ini juga menyentuh berbagai dinamika sosial yang memerlukan penyamaan persepsi antara pengambil kebijakan dan penyampai informasi.

​Dedy Damhudi menekankan bahwa dirinya ingin menghapus sekat formalitas yang seringkali menghambat komunikasi. Ia bertekad menjadikan Dinas Kominfo sebagai lembaga yang friendly atau bersahabat bagi insan pers. Dengan pendekatan yang lebih humanis, diharapkan setiap kebijakan daerah dapat tersosialisasi dengan akurat tanpa meninggalkan residu kebingungan di tengah publik.

Semangat kolaborasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat ingin memposisikan media sebagai kontrol sosial yang konstruktif sekaligus sahabat dalam membangun daerah.

​”Saya ingin kita membangun hubungan yang benar-benar friendly, di mana komunikasi tidak lagi terhambat oleh sekat birokrasi yang kaku, terutama saat kita berdiskusi tentang isu-isu krusial maupun kebijakan daerah lainnya.” demikian Dedy Damhudi. Tan