Dari Wangi Bawang Hingga Kilau Tenun Sembalun

Ditulis Oleh : Sutan Zaitul Ikhlas

SAEHUN  membalikkan siung-siung bawang putih di atas meja kayu. Aromanya khas, namun warnanya tak lagi putih. Lewat proses fermentasi yang panjang, bawang-bawang itu berubah menjadi hitam pekat, manis, dan kenyal, dikenal sebagai black garlic.

Di tangan perempuan asal Sembalun ini, komoditas lokal yang dulunya kerap dihargai murah saat panen raya, kini mulai mengemas pasar global dan memikat dompet para pelancong mancanegara.

​Saehun tidak sendirian. Di sudut lain kaki Gunung Rinjani, Dwi Ariska sedang sibuk menata helai-helai kain tenun khas Sembalun. Ia tidak sekadar menjual selembar kain. Dwi menawarkan sebuah pengalaman, mengajak para pendaki gunung yang lelah untuk duduk, memegang alat tenun tradisional, dan belajar memilin benang. Sebuah paket wisata edukatif yang ia jalin bersama para pemandu trekking Rinjani.

​Dua perempuan ini adalah potret kecil dari pergeseran besar yang sedang terjadi di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Selama bergenerasi-generasi, tanah subur di bawah bayang-bayang Rinjani serta pesisir berangin di Jerowaru adalah ruang bagi petani konvensional dan nelayan tradisional. Namun, alam yang molek lambat laun membuka pintu baru, pariwisata.

​Pariwisata bukan sekadar urusan pemandangan molek, ia adalah urusan kesiapan manusia. Mengubah pola pikir dari agraris ke industri jasa membutuhkan lompatan keberanian.

Sektor pariwisata kini semakin dilirik sebagai sumber mata pencaharian yang menjanjikan, namun mengembangkannya butuh peningkatan kapasitas dan keterampilan usaha yang relevan.

​Melihat celah tersebut, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama organisasi nirlaba Forward Indonesia, menginisiasi sebuah program pemberdayaan sejak Januari 2025. Mereka menamainya GUMI SERI—akronim dari Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau. Program ini dirancang untuk mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terpilih agar mampu bersaing tanpa kehilangan akar budayanya.

​Program ini menjembatani dua karakter wilayah yang kontras namun saling melengkapi di Lombok Timur. Di kawasan pegunungan Sembalun, sekitar 60 persen UMKM bergerak di sektor jasa seperti pemandu wisata dan homestay, sementara sisanya terbagi rata antara kerajinan tangan dan olahan pangan.

Di sisi lain, kawasan pesisir Jerowaru menunjukkan geliat serupa dengan 65 persen pelaku usaha di sektor jasa, dan 35 persen sisanya bertumpu pada produksi makanan-minuman olahan.

​Melalui GUMI SERI, warga tidak dijejali teori muluk-muluk. Mereka diajak duduk bersama untuk belajar literasi keuangan, manajemen usaha, hingga membedah anatomi bisnis mereka sendiri menggunakan bagan Business Model Canvas (BMC). Dari yang awalnya mengelola uang berdasarkan ingatan, kini mereka mulai akrab dengan pembukuan yang rapi. Hasilnya, para peserta kini memiliki arah usaha yang lebih terstruktur untuk meningkatkan daya saing bisnis mereka.

​Dampak pelatihan itu mulai terasa di dapur-dapur dan kedai-kedai warga. Di Sembalun, Desi Wida Hadiana mendirikan kedai kopi di tengah hamparan sawah. Ia tak hanya menjual pemandangan dan kafein. Desi mulai mempraktikkan ekonomi sirkular, mengolah limbah ampas kopi di kedainya menjadi sabun batangan organik.

​Tidak jauh dari sana, Sri Azizah, pengelola Homestay Tapak Rinjani, melihat peluang dari kamar-kamar yang ia sewakan. Ia sadar, pelancong kerap bingung mencari buah tangan saat hendak pulang. Sri kini memproduksi jajanan kering khas setempat, memastikan uang para wisatawan berputar lebih lama di desanya.

​Menariknya, program ini perlahan meruntuhkan sekat geografis. Pelaku usaha di dinginnya gunung Sembalun dan hangatnya pesisir Jerowaru kini mulai saling terhubung. Mereka membangun rantai pasok dan promosi bersama. Seorang wisatawan yang menghabiskan malam di kaki Rinjani, kini dengan mudah diarahkan untuk melanjutkan liburannya ke pantai-pantai di Jerowaru, menciptakan ekosistem pariwisata yang saling menguatkan.

​”Melalui GUMI SERI, AMMAN berharap dapat memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan bisnis dan meningkatkan kapasitas mereka sebagai pelaku usaha mandiri,” ujar Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN.

“Kami percaya, kearifan lokal yang dikelola secara profesional dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata Lombok Timur,” imbuhnya.

​Matahari perlahan turun di Sembalun, menyisakan siluet Rinjani yang megah. Di wilayah yang dulunya hanya mengandalkan hasil bumi mentah, kini lahir para wirausahawan baru yang melek manajemen modern. GUMI SERI menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, kearifan lokal dapat tumbuh seiring dengan praktik manajemen modern.

Dari pesisir Jerowaru hingga puncak Rinjani, benang-benang harapan itu kini sedang ditenun menjadi sebuah masa depan ekonomi yang lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan.