Prokopim Setda KSB
Di balik selembar kartu yang kini erat dalam genggaman warga Sumbawa Barat, tersimpan ribuan tapak kaki yang tak tercatat sejarah. Ada pagi yang dipaksa datang lebih cepat, dan malam yang enggan berakhir.
Per 15 April 2026, 90,07 persen napas lega telah terukir. Dari 51.018 kartu yang dicetak, 45.950 telah menemukan tuannya. Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini jejak perlawanan melawan jarak, waktu, dan letih.
Tim itu menyisir Taliwang hingga ke Rarak Ronges yang tersembunyi. Mereka mengetuk pintu di Sekongkang sampai Poto Tano yang jauh. Satu tujuan, memastikan tak satu pun kepala keluarga tertinggal.
Jalannya tidak pernah lurus. Ada nama yang belum terpanggil bukan karena dilupakan, tapi karena raga sedang merantau, langkah terhalang, atau administrasi yang membelenggu.
Di situlah ujian sesungguhnya dimulai. Tim kembali membongkar data hingga larut. Menjadwal ulang tanpa jemu. Mengurai kusutnya administrasi. Sebab bagi mereka, satu kartu yang tak sampai adalah janji yang belum lunas.

Di balik capaian ini berdiri kokoh Tim Sekretariat Kartu Sumbawa Barat Maju. Markasnya di Bagian Administrasi Pembangunan Setda KSB, tapi medan tempurnya adalah jalanan terjal. Mereka bukan penjaga data. Mereka penantang medan. Menembus pelosok, melawan panas terik, pulang saat bintang sudah meninggi. Semua demi memastikan satu kartu tidak salah alamat.
Bagi mereka ini bukan mengejar persen. Ini tentang darah pengabdian. Tentang menghadirkan negara bukan lewat pidato, tapi lewat tapak sepatu yang rela kotor.
Dan langkah ini belum selesai. Penelusuran terus berlanjut. Pintu kembali diketuk bagi yang sempat terlewat. Simpul administrasi diurai satu per satu, tanpa lelah.
“ 90,07 persen itu bukan garis finis,” tegas salah seorang anggota Tim Sekretariat KSB Maju, sekilas matanya tak lepas dari daftar nama.
“Selama masih ada satu kepala keluarga yang tangannya kosong, sepatu kami pantang digantung,” imbuhnya.

Komitmen itu menggema, sekeras tekad Bupati Sumbawa Barat di awal 2026 lalu dimana tak boleh ada warga yang belum menggenggam Kartu Sumbawa Barat Maju. Karena setiap kartu yang sampai bukan sekadar kettas plastik. Ia menyimpan cerita yang sama. Cerita tentang manusia-manusia tanpa sorot lampu, yang memilih berpeluh dalam senyap. Demi satu hal sederhana: pelayanan sampai, kepercayaan tumbuh.
Disempurnakan : Tim @harianntb.online
