BMKG : Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Lebih Panjang, dan Lebih Kering

Taliwang, harianntb.online,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, serta lebih kering dibanding rata-rata klimatologis 1991–2020.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, awal musim kemarau terjadi bertahap mulai April hingga Juni 2026. Dari 699 zona musim, 114 zona musim (16,3%) sudah memasuki kemarau pada April, disusul 184 zona musim (26,3%) pada Mei, dan 163 zona musim (23,2%) pada Juni.

” Jika dibandingkan kondisi normal, 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah mengalami awal kemarau lebih cepat, sementara hanya 173 zona musim (23,7%) sesuai pola biasanya,” ungkapnya seperti di rillies dalam situs resmi BMKG.

BMKG memprakirakan akumulasi curah hujan selama kemarau di 451 zona musim (46,5% wilayah) berada pada kategori bawah normal. Puncak musim kemarau diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026 di 429 zona musim (61,4%). Sebanyak 410 zona musim (58,7%) diprediksi mencapai puncak lebih cepat dari biasanya.

Durasi kemarau tahun ini juga lebih lama. Sebanyak 400 zona musim (57,2% wilayah) diperkirakan mengalami kemarau melebihi kondisi normal. BMKG menyebut kondisi ini dipicu berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026 yang beralih ke fase netral. BMKG juga memantau potensi perkembangan menuju El Niño pada pertengahan hingga akhir tahun.

BMKG menjelaskan awal musim kemarau umumnya dimulai dari wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Nusa Tenggara, Bali, dan sebagian Jawa, kemudian bergerak ke wilayah lain secara bertahap seiring pergerakan angin monsun.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, ditandai dengan hari tanpa hujan yang lebih panjang serta peningkatan suhu udara pada siang hari.

BMKG meminta peringatan dini ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Di sektor pertanian, petani disarankan mengatur ulang jadwal tanam serta memilih varietas tahan kekeringan, hemat air, dan berumur panen singkat.

Pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat melalui optimalisasi tampungan dan perbaikan sistem distribusi. Kesiapsiagaan terhadap penurunan kualitas udara dan risiko kebakaran hutan dan lahan juga harus ditingkatkan. Prediksi ini disusun berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan kondisi iklim global yang memengaruhi pola hujan di Indonesia sepanjang 2026. Tan