Menenun Saling Salingo di Batu Hijau: Komitmen Reklamasi Berkelanjutan AMMAN

Oleh: SUTAN ZAITUL IKHLAS

Dinamika Operasional di Bumi Pariri Lema Bariri

Kabupaten Sumbawa Barat kini berkembang menjadi pusat pertumbuhan industri hulu yang strategis. Di bagian selatan wilayah, bentang alam menyajikan pemandangan kontras yang nyata. Kawasan hutan sekunder yang menjadi habitat alami fauna lokal, seperti burung gosong kaki merah, kini berdampingan langsung dengan kompleks operasional pertambangan modern skala besar.

Di pit Fase 8, Kecamatan Sekongkang, kawah operasional raksasa menjadi pusat aktivitas penambangan tembaga. Armada truk berkapasitas besar bergerak simultan di kedalaman bumi, menjemput konsentrat tembaga sebagai mineral penentu penyokong transisi energi bersih dunia. Pasokan strategis tidak lagi dikirim mentah menyeberangi lautan, melainkan dialirkan seutuhnya untuk diserap fasilitas pemurnian domestik (smelter) yang telah beroperasi penuh sejak paruh pertama tahun 2026.

Integrasi industri hulu dan hilir menuntut manajemen operasional tingkat tinggi. Demi mendukung masa depan energi global yang ramah lingkungan, manajemen operasional berkomitmen mengelola ekstraksi batuan keras di perut bumi secara aman, efisien, dan terukur.

Falsafah Saling Salingo Sebagai Etika Tapak Tambang

Aktivitas ekstraksi pertambangan modern di Sumbawa Barat tidak berjalan terpisah dari nilai kemanusiaan. Di bawah pengelolaan manajemen baru, komitmen operasional berjalan selaras dengan warisan filosofis masyarakat asli suku Sumbawa melalui nilai Saling Salingo. Falsafah komunal bertujuan mengatur etika timbal balik dalam tatanan hidup bersama. Nilai luhur bergerak seirama dengan konsep gotong-royong warga Sasak di Lombok serta kearifan suku Mbojo di Bima, mengukuhkan ikatan emosional Sasambo yang adaptif terhadap modernitas zaman.

Di Sumbawa Barat, konsep kebersamaan bertumpu pada tiga pilar adat Tau Samawa, yaitu tulung saleng (saling menolong), satingi saleng (saling hormat), dan satotang saleng (saling mengingatkan). Etika lokal dihidupkan sebagai fondasi tingkat tapak untuk merawat kestabilan sosial sekaligus menjaga kelestarian alam sekitar.

Menjaga keberlanjutan lingkungan berarti mengintegrasikan regulasi hukum negara dengan tindakan nyata di lapangan. Di area operasional Batu Hijau, seluruh tata kelola lingkungan diimplementasikan secara konsisten mengikuti dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) resmi.

Bagi Head of Environment Department AMMAN, Jorina Waworuntu, bentang alam Pulau Sumbawa adalah ruang hidup riil yang harus dijaga kelestariannya. Lebih dari dua dekade hidupnya diabdikan untuk mengawal keseimbangan ekosistem di tapak tambang.

Head of Environment Department AMMAN, Jorina Waworuntu, saat meninjau kerapatan vegetasi di salah satu zona reklamasi paralel Blok Batu Hijau. (Foto; Dok. AMMAN)

“Lingkungan bukan sekadar istilah yang hidup di dalam dokumen, regulasi, atau laporan operasional,” tegas Jorina Waworuntu.

“Ia adalah ruang hidup yang hadir dalam air yang digunakan, udara yang dihirup, tanah tempat berpijak, tumbuhan di sekitar, hingga manusia yang menjadi bagian dari ekosistem itu sendiri. Jadi, menjaga lingkungan bukan hanya tentang memenuhi kewajiban, tetapi menjaga kualitas kehidupan.”

“Di area operasional hulu, teknologi mutakhir hanya akan mencapai efisiensi terbaiknya ketika berjalan selaras dengan kearifan lokal.”

Reklamasi Berkelanjutan dan Sains Pemulihan Lereng

Pernyataan Jorina mewujud nyata pada permukaan lereng batuan yang tertata melalui metode concurrent reclamation (reklamasi berkelanjutan) yang berjalan seiring lini produksi konsentrat. Pemulihan lingkungan tidak diletakkan di akhir cerita saat seluruh kandungan mineral habis dikuras.

Hingga akhir tahun 2025, total lahan yang berhasil dihijaukan kembali mencapai 859,61 hektare. Angka mencakup capaian pemulihan tahunan seluas 92,67 hektare sepanjang periode 2025, mencatatkan diri sebagai salah satu pemulihan vegetasi terbesar dalam sejarah operasional Tambang Batu Hijau. Target pemulihan dikejar melampaui sekadar menanam pohon, melainkan memicu suksesi ekologis menuju pembentukan hutan mandiri yang tangguh.

Pertemuan rekayasa sains dan pelibatan warga mewujud nyata pada bentang lereng curam pit Fase 8 Sekongkang. Tahapan penataan batuan menuntut mitigasi teknik yang presisi demi mempertahankan kualitas air permukaan. Risiko air asam tambang diatasi melalui rekayasa kemiringan lereng yang cermat.

Guna mengunci tanah pucuk (topsoil) dari gerusan erosi air hujan, perusahaan menggandeng peran aktif masyarakat melalui rantai produksi material reklamasi sirkular berupa coconet. Di atas permukaan lereng, dihamparkan jaring sabut kelapa untuk meredam aliran air hujan sekaligus menjaga kelembapan tanah agar benih flora lokal dapat bertunas dengan baik. Proyek sepenuhnya digerakkan oleh kelompok masyarakat desa-desa lingkar tambang Sumbawa Barat. Sisa sabut kelapa hasil pertanian warga yang semula merupakan limbah, kini dikumpulkan, dijemur, dipilin, dianyam secara terstruktur, lalu diserap langsung untuk kebutuhan operasional.

Bagi industri hulu, keputusan merangkul material lokal merefleksikan kepatuhan fungsional terhadap regulasi industri yang akuntabel. Keberhasilan integrasi antara rekayasa teknik permukaan tebing dan pelibatan sosial warga berjalan sejalan dengan kaidah teknik pertambangan yang baik (good mining practices) yang wajib bertumpu pada asas keberlanjutan baku.

“Kegiatan reklamasi lahan bekas tambang yang kami laksanakan secara paralel merupakan wujud komitmen nyata untuk mengembalikan kondisi lahan ke rupa semula. Sesuai dengan visi dalam menjalankan usaha, AMMAN tidak pernah mengabaikan aspek lingkungan di sekitar kawasan operasional,” tegas Site Director sekaligus Kepala Teknik Tambang AMMAN, Wudi Raharjo.

Melalui model ekonomi sirkular, korporasi mendapatkan jaring serat pelindung tebing yang efektif, sedangkan anyaman tangan warga lingkar tambang menjadi stimulus ekonomi akar rumput yang mandiri.

“Melalui anyaman jaring sabut kelapa dari tangan warga, pertambangan modern mengelola pemulihan lingkungan secara lebih ramah dan berkelanjutan.”

Digitalisasi Udara dan Pembibitan Komunitas

Sinergi fungsional di permukaan tebing membutuhkan instrumen pemantau yang objektif dari udara. Sistem pengawasan lingkungan di Batu Hijau memanfaatkan teknologi pengindraan jauh melalui data indeks vegetasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Instrumen spasial berbasis satelit menjadi wujud modern dari komitmen satotang saleng, sebagai sikap saling mengingatkan secara digital agar data perubahan kawasan hijau dipantau secara akurat serta transparan.

Pengawasan udara diimbangi langkah dekarbonisasi di bumi, seperti pengoperasian pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 26,8 Megawatt peak, pembangunan Combined Cycle Power Plant berkapasitas 450 Megawatt berbasis gas ramah lingkungan, serta fasilitas desalinasi air laut agar utilitas industri tidak mengganggu ketersediaan sumber air tawar bagi kebutuhan domestik masyarakat.

Seluruh kecanggihan teknologi berskala makro tetap bertumpu pada kesiapan penyediaan bibit tanaman di tanah subur melalui program Community Nursery (Pembibitan Komunitas). Program yang digerakkan di lapangan merangkul kelompok tani lokal Desa Sekongkang dan Desa Tongo.

Di area tapak, Adel Brigita bertindak sebagai perwakilan perusahaan sekaligus penggerak utama yang merajut kemitraan bersama komunitas tani setempat. Melalui ketelatenan menyemai bibit flora lokal, kesadaran kolektif tumbuh menjadi energi perekat kebersamaan di tingkat bawah.

Meninjau mekanisme teknis pelaksanaan program di lapangan, Adel Brigita menjelaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadi kunci keberlanjutan pemulihan alam jangka panjang.

“Konsistensi dan komitmen kelompok tani Desa Sekongkang dan Desa Tongo menjadi motor penggerak utama pembibitan komunitas,” ungkap Adel Brigita.

“Masyarakat kini memegang kendali penting dalam rantai penyediaan vegetasi endemik. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan inklusif mampu menyuplai kebutuhan material reklamasi perusahaan secara mandiri sekaligus menggerakkan ekonomi desa.”

Aktivitas kelompok tani lokal Sekongkang yang sedang telaten menanam benih di Community Nursery. (Foto: Dok. AMMAN)

Keterlibatan inklusif terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi mandiri. Sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan tahun 2026, kapasitas produksi pembibitan komunitas kawalan Adel Brigita bersama mitra tani lokal stabil di kisaran 250.000 hingga 300.000 bibit per tahun. Rantai penyediaan bibit berfungsi penuh untuk menghijaukan lereng tambang Sekongkang, sekaligus memulihkan habitat alami keanekaragaman hayati fauna lokal.

Menegakkan Warisan di Bumi Pariri

Komitmen perlindungan alam tidak membatasi diri hanya pada pagar wilayah konsesi tambang hulu. Sesuai dengan prinsip Saling Salingo, dampak positif dialirkan secara sistematis hingga menyentuh zona penyangga luar melalui program PERTAMAS (Perhutanan Sosial dan Transformasi Penghidupan Masyarakat).

Lewat inisiatif strategis, AMMAN bermitra resmi dengan KPH Sejorong-Mataiyang di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB, guna menggelar metode agroforestri pada lahan perhutanan lokal. Komoditas bernilai ekonomi tinggi, seperti kopi rarak dan minyak kayu putih, ditanam berdampingan untuk mengembalikan fungsi tangkapan air regional. Langkah kolaboratif mencatat persentase tumbuh tanaman lokal hingga lebih dari 95 persen dari target tapak. Keberhasilan ekologis berkontribusi nyata dalam menyokong program Desa Berdaya, sekaligus menanggulangi kemiskinan ekstrem warga lingkar hutan.

Paralel dengan pemulihan ekologi, penguatan ketahanan komunitarian digarap secara komprehensif melalui program inkubator wirausaha Bale Berdaya, guna mendampingi ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dalam meningkatkan daya saing pasar dan mengurus legalitas usaha. Inisiatif melahirkan kemandirian agar daerah tidak mengalami ketergantungan mutlak pada operasional tambang di masa depan.

Dedikasi terintegrasi dari pengawasan satelit hingga pemberdayaan tapak akhirnya membuahkan predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Penghargaan bergengsi menjadi validasi atas komitmen operasional yang melampaui kepatuhan biasa (beyond compliance). Langkah nyata pembuktian diwujudkan melalui efisiensi energi terbarukan, serta sirkularitas daur ulang limbah kardus operasional menjadi mulsa organik penyubur tanah lereng reklamasi.

Di dalam ekosistem korporasi yang dinamis, pencapaian dipandang bukan sebagai garis akhir, melainkan cerminan integritas jangka panjang. Cara pandang ini melandasi strategi penciptaan nilai bersama korporasi.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menggarisbawahi pencapaian lingkungan tersebut secara gamblang.

“Pencapaian PROPER Hijau merupakan manifestasi atas integritas AMMAN dalam menerapkan praktik operasional yang bertanggung jawab,” jelas Kartika Octaviana.

“Praktik keberlanjutan merupakan investasi strategis jangka panjang perusahaan untuk mendorong inovasi ekologis, sekaligus memberikan dampak positif yang terukur bagi masyarakat Sumbawa Barat.”

 “Praktik keberlanjutan merupakan investasi strategis jangka panjang perusahaan untuk mendorong inovasi ekologis sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.”

Seiring berjalannya waktu, operasi penambangan Fase 8 di Batu Hijau dijadwalkan hingga tahun 2030, sebelum secara bertahap bertransisi menuju pengembangan Cebakan Elang. Namun, warisan sejati Kecamatan Sekongkang bukanlah lubang galian pascatambang atau sekadar deretan angka profit pada laporan tahunan korporasi. Warisan sesungguhnya berupa ekosistem alam yang dipulihkan secara berkelanjutan, serta detak ekonomi akar rumput yang tetap mandiri.

Sore hari, senja perlahan turun di langit Sekongkang, menyisakan semburat jingga di atas lereng-lereng hijau bekas tapak tambang. Di beranda rumah yang tak jauh dari bukit, jemari lincah warga lingkar tambang masih setia menyelesaikan anyaman sabut kelapa terakhir. Jaring-jaring coconet yang ditenun sepanjang siang menjadi penutup hari yang produktif untuk mendukung pemulihan alam.

Jemari lincah seorang ibu lingkar tambang yang tengah menganyam sabut kelapa (coconet) untuk mengunci tanah pucuk (topsoil) dari gerusan erosi air hujan di lereng reklamasi Batu Hijau. (Foto: Dok. AMMAN)

Pada akhirnya, ketika semua tembaga selesai digali dan deru mesin raksasa tidak lagi terdengar, yang tersisa di Bumi Pariri Lema Bariri adalah sebuah warisan kehidupan. Melalui napas Saling Salingo, kelestarian alam tidak lagi dirawat oleh dinginnya dokumen regulasi atau laporan kepatuhan, melainkan oleh kehangatan komitmen masyarakat yang tumbuh bersama hijaunya hutan reklamasi. Di atas tanah pemulihan, masa depan Sumbawa Barat berbisik tenang bahwa alam telah kembali pulang.

About The Author