Dari Perantauan hingga Dijuluki “Profesor Kelor”

Artikel KSB Regional Taliwang

Sutan Zaitul Ikhlas

Di sebuah ruang produksi di Jalan Sakura Raya, BTN Sweta, Mataram, daun-daun kelor yang sebelumnya tumbuh di kebun berubah menjadi bubuk hijau dan teh celup yang siap dikirim ke pasar. Mesin bekerja secara otomatis, mengolah bahan baku yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, tetapi bagi Nasrim telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup sekaligus usaha yang dibangunnya selama puluhan tahun.

Nasrim lahir di Malaju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, pada 1972. Jauh sebelum dikenal sebagai pelaku usaha kelor, ia pernah merantau ke Makassar pada 1988 dan bekerja sebagai cleaning service. Pendidikan formalnya hanya sampai SMP, sementara modal yang dimiliki untuk memulai usaha juga terbatas.

Pada 1993, Nasrim mencoba membangun usaha dengan kondisi yang serba sederhana, tanpa jaringan luas dan tanpa mengenal banyak orang yang dapat membuka jalan menuju pasar.

“Saya memulai dari bawah. Pendidikan saya hanya SMP, modal juga kecil, dan ketika memulai usaha saya tidak mengenal siapa-siapa. Jadi, semua dijalani sambil belajar dari pengalaman,” kata Nasrim.

Pengalaman sebagai perantau membuatnya terbiasa menjalani pekerjaan dari tahap paling dasar. Dari sana, ia mulai memahami bahwa usaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Kemauan untuk belajar, membaca peluang dan bertahan ketika menghadapi kesulitan menjadi bekal yang terus dibawanya sampai menemukan peluang pada tanaman kelor.

Nasrim melihat kelor bukan sekadar tanaman yang mudah ditemukan di sekitar permukiman. Ia melihat peluang yang lebih besar pada kandungan nutrisi dan pemanfaatannya sebagai bahan pangan serta produk herbal. Pengetahuan tentang kelor terus ia kembangkan hingga akhirnya pada 2016 ia mulai mengolah daun kelor menjadi bubuk.

“Dari kelor saya melihat ada peluang yang besar karena tanaman ini punya banyak manfaat dan bisa diolah menjadi berbagai produk. Saya memilih mengembangkannya dalam bentuk yang mudah digunakan masyarakat, seperti bubuk dan teh,” ujarnya.

Dari proses pengolahan itu lahir berbagai produk berbahan kelor, mulai dari bubuk Sasambo Dom hingga teh celup Kidom, Moraike dan Aqilla. Produk-produk itu dikembangkan melalui usaha Tri Utami Jaya dan CV Teh Kelor Nusantara, dengan kegiatan produksi yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Pasar yang ditembus juga tidak berhenti di dalam negeri. Produk jamu berbahan kelor pernah mendapat permintaan dari Singapura dan Jepang. Permintaan dari luar negeri menjadi pengalaman penting bagi Nasrim untuk memahami bahwa tanaman yang selama ini tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat ternyata memiliki nilai ekonomi yang dapat menjangkau pasar internasional.

“Ketika ada permintaan dari luar negeri, saya semakin yakin bahwa kelor bukan hanya tanaman biasa. Ada pasar yang membutuhkan dan ada peluang yang bisa dikembangkan dari sini,” katanya.

Perjalanan usaha itu tidak selalu berjalan mulus. Nasrim pernah mengalami kecelakaan bisnis yang membuatnya harus kembali menata langkah. Pengalaman itu justru memperkuat cara pandangnya dalam menjalankan usaha karena setiap persoalan menjadi bagian dari proses belajar.

“Dalam usaha pasti ada jatuh bangunnya. Saya pernah mengalami kecelakaan bisnis, tetapi dari situ saya belajar bagaimana mengelola usaha dengan lebih baik dan lebih hati-hati,” tutur Nasrim.

Kini, usaha yang dahulu dirintis dari keterbatasan telah berkembang dengan kapasitas produksi sekitar 30 ton per bulan. Peralatan produksi sudah menggunakan sistem otomatis, sementara omzet usaha berada di kisaran Rp100 juta.

Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, Nasrim mengembangkan budidaya kelor di lahan sekitar lima hektare di Dompu dan menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah.

Menurut Nasrim, keberlanjutan usaha kelor tidak cukup hanya mengandalkan proses produksi. Ketersediaan bahan baku dari petani juga harus dijaga agar rantai usaha dapat terus berjalan. Karena itu, pengembangan kebun dan kerja sama dengan daerah lain menjadi bagian dari langkahnya memperkuat usaha.

“Kalau ingin usaha ini terus berkembang, bahan baku juga harus tersedia. Karena itu kami tidak hanya memikirkan produksi, tetapi juga budidaya dan kerja sama dengan daerah lain supaya kelor bisa terus tersedia,” ujarnya.

Kelor sendiri dikenal memiliki beragam kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif yang membuatnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan produk herbal. Nasrim melihat potensi itu sebagai ruang untuk mengembangkan produk yang praktis dikonsumsi masyarakat, termasuk produk yang dipasarkan dengan manfaat untuk membantu menjaga daya tahan tubuh dan mendukung proses detoksifikasi.

Perjalanan Nasrim kemudian melahirkan sebuah julukan yang terdengar besar untuk seorang lelaki yang pendidikan formalnya hanya sampai SMP: “Profesor Kelor”. Sebutan itu tidak lahir dari gelar akademik, melainkan dari ketekunan Nasrim mempelajari, mengolah dan mengembangkan kelor selama bertahun-tahun hingga tanaman itu menjadi bagian dari kehidupan dan usahanya.

“Saya tidak pernah mengejar gelar Profesor Kelor. Sebutan itu muncul karena saya lama bergelut dengan kelor. Saya sendiri masih terus belajar karena semakin dipelajari, semakin banyak hal yang bisa dikembangkan dari tanaman ini,” katanya.

Nasrim bahkan kembali menempuh pendidikan melalui program paket pada 2025. Keputusan itu menjadi bagian lain dari perjalanan hidupnya yang menunjukkan bahwa proses belajar tidak berhenti ketika seseorang sudah meninggalkan bangku sekolah.

Di balik perkembangan usaha dan julukan yang kini melekat, ada satu pencapaian yang memiliki arti lebih dalam bagi Nasrim. Dari perjalanan panjang membangun usaha, ia mampu mengumrahkan kedua orang tuanya.

Bagi seorang anak yang pernah merantau dengan pekerjaan sederhana dan memulai usaha dari keterbatasan, kesempatan membawa orang tua ke Tanah Suci menjadi salah satu kebahagiaan terbesar yang diraihnya.

“Yang paling membahagiakan bagi saya bukan hanya usaha berkembang. Saya bersyukur bisa mengumrahkan kedua orang tua. Itu salah satu hal yang sangat saya syukuri dari perjalanan panjang ini,” ucapnya.

Dari Malaju, Dompu, perjalanan Nasrim membentang hingga Makassar, lalu berlanjut ke dunia usaha dan pengolahan kelor di Mataram. Puluhan tahun berlalu sejak ia bekerja sebagai cleaning service, tetapi semangat untuk terus belajar tidak ikut berhenti. Kini, dari kebun kelor di Dompu hingga mesin produksi di Sweta, Nasrim membangun sebuah rantai usaha yang mempertemukan petani, bahan baku, teknologi dan pasar dalam satu perjalanan panjang.

Daun-daun kelor itu terus bergerak melalui mesin, berubah menjadi bubuk dan teh celup, lalu dikemas untuk menemukan konsumennya. Di balik setiap kemasan ada perjalanan seorang lelaki yang pernah memulai hidup perantauan dengan ijazah SMP dan modal seadanya, kemudian menemukan jalan hidupnya melalui tanaman yang dahulu dianggap sederhana.

Bagi Nasrim, kelor bukan sekadar komoditas. Tanaman itu telah menjadi ruang belajar, sumber penghidupan dan jalan yang membawanya mewujudkan impian untuk membahagiakan orang tua, sekaligus membuktikan bahwa sebuah usaha dapat tumbuh dari tempat yang sederhana ketika dijalani dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.

About The Author