Sutan Zaitul Ikhlas

Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika rombongan meninggalkan Desa Menemeng. Udara masih menyimpan kesejukan. Embun bertahan di rerumputan, sementara hamparan sawah di kiri-kanan membentang mengikuti jalur yang akan ditempuh menuju Tiu Suntuk.

Lima kilometer terbentang di depan. Jarak yang tampak sederhana itu ternyata menyimpan banyak cerita. Sawah, pematang, tanah yang licin, hingga bentang alam yang perlahan berubah menjadi bagian dari perjalanan yang tidak sekadar mengukur jarak.

Rombongan PWI Kabupaten Sumbawa Barat menempuh rute itu dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka membawa satu gagasan besar yang menjadi tema perjalanan,“Jalan Perjuangan Pariwisata Kerakyatan.”

Dari Menemeng, perjalanan berlangsung ringan. Beberapa peserta berjalan beriringan, sebagian lainnya sesekali berhenti untuk mengabadikan gambar. Hamparan sawah menjadi latar yang terus berganti seiring langkah bergerak maju.

Jalur kemudian menyempit. Pematang di antara petak sawah hanya selebar sejengkal lebih. Langkah yang semula leluasa berubah menjadi lebih hati-hati. Kaki mencari pijakan, tubuh menjaga keseimbangan, sementara sesekali terdengar saling mengingatkan agar tidak salah menginjak.

Beberapa peserta sempat terpeleset hingga terhitung belasan kali lebih, bahkan ada yang sampai berkubang lumpur. Ada yang berhasil menjaga keseimbangan, ada pula yang harus berurusan dengan pijakannya sendiri yang sesekali meleset. Lucunya, ada pula yang semula mengaku terbiasa berjalan di pematang, namun akhirnya harus berkenalan lebih dekat dengan lumpur. Pengakuan itu pun akhirnya terdengar seperti lelucon yang sengaja disiapkan perjalanan pagi itu.

Celana dan sepatu yang kotor menjadi bagian dari perjalanan. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Lumpur justru memberi cerita tersendiri, sementara gurauan ringan membuat langkah berikutnya tetap terasa santai.

Dari pematang, jalur perlahan membuka ruang. Rombongan tiba di Tiu Suntuk ketika matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Mereka memilih beristirahat tak jauh dari titik pemantauan debit air yang berada di ketinggian. Dari tempat itu, bentang Tiu Suntuk  terbuka luas. Airnya jernih, memantulkan cahaya matahari, sementara angin sejuk bergerak perlahan. Lanskap itu seketika membayar lunas perjalanan lima kilometer yang penuh liku.

Menarik Napas di Tengah Perjalanan. Rombongan camping beristirahat sejenak di tengah perjalanan menuju Tiu Suntuk setelah menempuh jalur persawahan dan pematang yang penuh liku. (Foto: Dok. Sutan Zaitul Ikhlas)

Menjelang petang, perhatian beralih pada tempat bermalam. Tenda-tenda didirikan, pasak ditancapkan, tali direntangkan. Satu per satu tempat berteduh itu berdiri dan berjejer seperti bivak tentara perang.

Malam datang tanpa banyak suara selain jangkrik dan gemercik air Tiu Suntuk  yang bersahut-sahutan membentuk irama. Udara sejuk turun bersama gelap, membawa suasana yang berbeda dari riuh perjalanan sejak pagi.

Ketika malam semakin larut, peserta berkumpul dalam suasana yang lebih santai. Pengalaman di pematang, kondisi lingkungan yang dilewati, hingga potensi kawasan menjadi bahan obrolan. Dari cerita perjalanan, pembicaraan perlahan bergeser pada sesuatu yang lebih luas, bagaimana bentang alam dan kehidupan masyarakat dapat menjadi bagian dari pariwisata yang memberi manfaat kepada desa.

Suasana semakin hangat ketika Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah tiba di tengah lingkaran percakapan. Ia duduk bersama wartawan, aktivis lingkungan, tokoh dan pegiat pariwisata, tokoh pemuda, organisasi mahasiswa, serta masyarakat yang malam itu berada di Tiu Suntuk. Tidak ada suasana forum resmi. Percakapan berlangsung dalam jarak yang dekat, dengan Tiu Suntuk  dan suara malam menjadi latarnya.

Ketika Jalan Setapak Membuka Jalan bagi Pariwisata Kerakyatan

Dari sanalah pembicaraan mengenai pariwisata kerakyatan Brang Ene menemukan konteksnya. Perjalanan lima kilometer yang baru saja ditempuh bukan sekadar lintasan dari satu tempat ke tempat lain. Di sepanjang jalur itu, rombongan telah melihat sawah, pematang, sungai, perbukitan dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari lanskap desa.

Bagi wisatawan, apa yang dilewati pagi itu dapat menjadi pengalaman. Bagi masyarakat, ruang yang sama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Pertemuan dua sisi itulah yang kemudian membuka pembicaraan tentang bagaimana potensi desa dapat dikelola tanpa kehilangan wajah aslinya.

Di tengah percakapan itu, pariwisata kerakyatan menjadi salah satu pembahasan yang menarik perhatian Amar Nurmansyah. Ia melihat pariwisata Sumbawa Barat memiliki dua arus yang dapat berjalan beriringan. Di satu sisi ada pariwisata investasi, yang tumbuh dengan dukungan modal, fasilitas dan pengelolaan berskala besar. Di sisi lain ada pariwisata kerakyatan yang bertumpu pada desa, masyarakat, alam, budaya, pertanian, kerajinan, UMKM dan kehidupan lokal.

Dialog di Tiu Suntuk. Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah berdialog bersama peserta camping, aktivis lingkungan, pegiat pariwisata, tokoh pemuda, organisasi mahasiswa dan masyarakat di Tiu Suntuk. Percakapan malam itu membahas potensi dan arah pengembangan pariwisata kerakyatan Brang Ene. (Foto: Dok. Khairuddin Enk)

Menurutnya, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru ada hubungan yang bisa dibangun di antara keduanya. Pariwisata investasi dapat menjadi pintu masuk wisatawan ke Sumbawa Barat. Setelah wisatawan datang, bagaimana agar perjalanan mereka tidak berhenti di kawasan investasi? Bagaimana mereka juga mengenal desa, persawahan, bentang alam, kuliner, kerajinan dan kehidupan masyarakat?

“Yang kita bangun bukan hanya tempat wisatanya. Yang paling penting masyarakatnya ikut hidup. Ada usaha yang tumbuh, ada kesempatan yang terbuka, dan manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh warga,” ujar Amar.

Pembicaraan kemudian mengarah ke Maluk dan Sekongkang, dua kawasan yang telah lebih dahulu dikenal wisatawan. Arus kunjungan dari kawasan itu dapat diarahkan untuk mengenal sisi lain Sumbawa Barat, termasuk Brang Ene dan Brang Rea.

Persawahan, suasana desa, kuliner lokal, produk UMKM, kerajinan, homestay hingga perjumpaan dengan warga dapat menjadi bagian dari perjalanan. Apa yang bagi masyarakat merupakan keseharian, bagi wisatawan justru dapat menjadi pengalaman yang tidak mereka temukan di tempat lain.

Gagasan itu bukan sesuatu yang berhenti di meja pembicaraan. Di Brang Ene, pemerintah daerah sedang menyiapkan jalur wisata sekitar lima kilometer yang melintasi persawahan, bantaran sungai hingga perbukitan di Desa Menemeng, Mura, Kalimantong, dan Mujahidin. Jalur ini dirancang dengan lima check point yang dikelola melalui BUMDes masing-masing desa atau BUMDes Bersama. Titik-titik itu bukan sekadar tempat berhenti. Di sana masyarakat dapat menjual hasil pertanian, produk lokal dan kuliner, sekaligus menyediakan ruang bagi wisatawan untuk beristirahat.

Dengan konsep itu, perjalanan wisata tidak berhenti pada pemandangan. Setiap titik membuka kemungkinan perjumpaan antara pengunjung dan aktivitas ekonomi masyarakat. Wisatawan berjalan, desa bergerak, dan hasil yang muncul di sepanjang jalur diharapkan kembali ke masyarakat.

Menariknya, jalur itu tidak dibangun dengan mengambil ruang hidup masyarakat secara berlebihan. Pemerintah daerah menyatakan pembangunan dilakukan tanpa pembebasan lahan. Jalur diupayakan seminimal mungkin agar kepemilikan masyarakat tetap terjaga, sementara saluran irigasi dan akses alat pertanian tetap diperhatikan.

Ada pula rencana transportasi untuk mengantar pengunjung kembali ke titik awal perjalanan serta enam unit bungalow di kawasan Bendungan Tiu Suntuk sebagai penunjang akomodasi yang dapat dikerjasamakan dengan BUMDes.
Semua itu bertemu pada satu prinsip, pembangunan harus memberi manfaat yang lebih besar daripada mudharat bagi masyarakat.

Brang Ene tidak perlu meninggalkan wajah pedesaannya untuk menjadi tujuan wisata. Justru kehidupan yang sudah tumbuh di sana menjadi kekuatan. Persawahan, air, lingkungan, budaya, kerajinan, kuliner dan keramahan warga merupakan bagian dari pengalaman yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.

Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sumbawa Barat, Fahrozi Amrullah ST, melihat gagasan tersebut dari sisi desa. Menurutnya, pariwisata kerakyatan harus tumbuh dari bawah dan masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama.

Masyarakat tidak cukup menjadi orang yang menyaksikan wisatawan datang dan pergi. Mereka dapat mengelola layanan, mengembangkan homestay, membuka usaha, menyediakan kebutuhan wisatawan, mengolah kerajinan, menawarkan kuliner lokal, serta menghidupkan potensi yang sudah ada di sekitar mereka.

“Pariwisata kerakyatan itu harus tumbuh dari bawah. Masyarakat menjadi pelaku, bukan sekadar penonton. Potensi yang ada di desa dikelola bersama sehingga manfaatnya kembali kepada masyarakat,” ujar Fauzi.

Pernyataan itu terasa dekat dengan perjalanan yang baru saja ditempuh. Lima kilometer dari Menemeng membawa rombongan melewati sawah dan pematang yang menjadi bagian dari keseharian warga. Apa yang mereka lalui dengan berjalan kaki sesungguhnya merupakan ruang hidup yang sedang dipersiapkan untuk menerima lebih banyak orang.

Namun, yang perlu disiapkan bukan hanya jalurnya. Anak-anak muda dan penggerak lokal perlu memiliki kemampuan untuk mengelola peluang yang datang. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana melayani wisatawan, mengembangkan produk, menjaga lingkungan, sekaligus mempertahankan karakter desa.

Ketua PWI Kabupaten Sumbawa Barat, Khairil Zakariah, melihat kegiatan itu lebih dari sekadar perjalanan dan camping. Menurutnya, wartawan tidak hanya memiliki tugas menulis apa yang terjadi, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam mengawal program daerah, termasuk pariwisata kerakyatan di Brang Ene, Sumbawa Barat.

“Wartawan tidak hanya menulis. Ada tanggung jawab untuk ikut mengawal program-program daerah, termasuk pariwisata kerakyatan ini. Kita ingin melihat dari dekat bagaimana gagasan itu tumbuh, apa yang sudah berjalan, dan apa yang masih perlu didorong,” kata Khairil.

Bagi Khairil, pariwisata kerakyatan memiliki ruang yang luas untuk berkembang karena kekuatannya berada di tengah kehidupan masyarakat. Sawah, desa, aktivitas warga, produk UMKM hingga potensi alam dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

“Wisata kerakyatan harus memberi ruang kepada masyarakat untuk menjadi pelaku. Kalau masyarakat ikut bergerak, ikut mengelola dan merasakan manfaat ekonominya, pariwisata bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru di desa,” ujarnya.

Malam semakin larut. Tiu Suntuk tetap tenang di bawah langit malam. Tenda-tenda berdiri dibawah pijar lampu temaram, sementara suara air dan jangkrik masih terdengar dari kejauhan. Perjalanan pagi tadi menyisakan lumpur di sepatu, cerita tentang pematang, dan pemandangan yang sulit dilupakan. Tetapi dari perjalanan sederhana itu pula terlihat bahwa jalan lima kilometer dapat membawa pembicaraan yang jauh lebih panjang. Tentang desa yang tidak harus mengubah wajahnya untuk menerima wisatawan. Tentang masyarakat yang tidak cukup menjadi penonton. Tentang sawah, air, sungai, kuliner, kerajinan dan kehidupan sehari-hari yang dapat memiliki nilai ketika dikelola dengan baik.

Dari Menemeng menuju Tiu Suntuk, lima kilometer itu akhirnya bukan sekadar jarak. Ia menjadi sebuah perjalanan untuk melihat bagaimana jalan yang membelah sawah dapat mempertemukan alam, masyarakat dan gagasan tentang pariwisata yang manfaatnya kembali ke tempat dari mana perjalanan itu bermula. **

About The Author