Menjemput Asa di Tanah Rantau: Ikhtiar Vokasi Mencetak Generasi Unggul Sumbawa Barat

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Deru mesin menggulung hari di bawah langit ibu kota siang itu. Bau oli pekat dan tumpukan besi tua menyambut langkah-langkah muda yang datang dari jauh. Di lantai lokakarya UT School, Jakarta, keringat yang bercampur debu sedang menempa ulang jalan hidup anak-anak daerah.

Sugeng Adi Prayoga (18) menunduk sejenak di samping komponen mesin berat. Ia meresapi jarak ribuan kilometer yang memisahkannya dari tanah kelahiran di Desa Benete, Maluk, Sumbawa Barat.

Sebagai anak seorang karyawan biasa, Sugeng paham betul mahalnya harga sebuah sertifikasi resmi, syarat mutlak untuk menembus kerasnya industri modern. Tanpa uluran tangan, biaya tinggi itu selamanya akan menjadi batu sandungan yang mengunci masa depan anak-anak muda daerah.

“Industri besar membutuhkan sertifikasi resmi, sementara biayanya sangat mahal untuk ukuran keluarga kami. Program Beasiswa Mekanik Alat Berat BACTH I AMMAN menjadi satu-satunya peluang nyata yang kami punya,”kenang Sugeng.

Program ini lahir dari rajutan kolaborasi antara PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, dan UT School. Menyisihkan ratusan pemuda dari berbagai wilayah dalam seleksi yang ketat, Sugeng menjadi salah satu dari 16 orang yang dinyatakan lulus. Ia dan rekan-rekannya kemudian melewati serangkaian orientasi sebelum akhirnya terbang dan menjejakkan kaki di lokakarya UT School, Jakarta.

Hari-hari di perantauan berjalan dengan kedisiplinan yang menguji mental. Selama satu tahun penuh, Sugeng dan belasan pemuda lainnya digembleng dengan kurikulum komprehensif, mulai dari Pembinaan Mental dan Disiplin (Bintalsik), In-Class Training, On-the-Job Training (OJT), hingga Uji Sertifikasi Kompetensi oleh BNSP-LSP ABI untuk mengantongi sertifikasi skema Preventive Maintenance.

Pagi hingga petang diisi dengan rutinitas padat, melatih ketepatan waktu, membedah teori mekanika berat, dan mempraktikkannya langsung di tengah bisingnya mesin pemotong besi serta tajamnya aroma oli. Meski lelah kerap mendera fisik, fokus Sugeng tidak pernah goyah.

“Lelah itu pasti, tetapi tekad kami sudah bulat untuk membuktikan bahwa anak daerah mampu bersaing,”tutur Sugeng.

Setiap kali jemarinya meraba kunci pas dan membongkar komponen mesin berukuran masif, ia sadar proses ini sedang membentuk masa depannya. Jauh dari keluarga membuat malam-malam di asrama menjadi ruang sunyi untuk beristirahat sekaligus mengevaluasi diri, sementara bayangan orang tua di kampung halaman menjelma bahan bakar utama untuk terus bertahan.

“Ini kesempatan yang tidak bisa datang dua kali. Kami harus kuat hingga masa pelatihan berakhir nanti,”tegas Sugeng.

Aksi, fokus, dan siap kerja! Peserta Beasiswa Pelatihan Dasar Mekanik Alat Berat Batch I AMMAN mulai serius membongkar komponen mesin pada sesi praktik di fasilitas UT School, Jakarta. (Foto: Dok. AMMAN)

Namun, pengorbanan di ruang pelatihan itu hanyalah permukaan dari tantangan yang jauh lebih besar. Di tingkat nasional, dinamika industri modern bergerak jauh lebih cepat ketimbang kesiapan tenaga kerja lokal. Situasi ini menuntut dunia pendidikan untuk berbenah agar generasi muda tidak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.

Sejalan dengan arus perubahan tersebut, dunia usaha didorong bergerak cepat menerjemahkan kebutuhan nyata di lapangan melalui ekosistem pelatihan yang terarah. Komitmen korporasi ini ditegaskan dalam kerangka strategis pengembangan SDM vokasi.

“Perkembangan industri 4.0 mengharuskan tenaga kerja untuk cepat beradaptasi dengan teknologi. Berbagai program pelatihan vokasi dirancang untuk menjawab kebutuhan industri dan juga visi pemerintah dalam mengembangkan wilayah, sehingga kami mendukung penuh kesiapan sumber daya manusia lokal yang berkualitas,” jelas Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana.

“Perkembangan industri 4.0 mengharuskan tenaga kerja untuk cepat beradaptasi dengan teknologi. Berbagai program pelatihan vokasi dirancang untuk menjawab kebutuhan industri dan juga visi pemerintah dalam mengembangkan wilayah.”

Pernyataan itu merefleksikan fokus utama Program Beasiswa Mekanik Alat Berat BACTH I yang dijalankan melalui kolaborasi trilateral ini, membekali generasi muda daerah dengan kompetensi teknis tersertifikasi agar siap memegang kendali di sektor industri modern.

Komitmen korporasi tersebut menemukan bentuk nyatanya ketika disandingkan dengan langkah strategis pemerintah daerah dalam memperkuat fondasi ketenagakerjaan lokal. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menjawabnya melalui revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah visi besar KSB Maju Luar Biasa.

“Pemerintah daerah bersama pihak perusahaan membentuk satuan tugas bersama. Ikhtiar ini digerakkan untuk memastikan pengembangan Balai Latihan Kerja bukan sekadar memindahkan gedungnya, kelak agar seluruh program pelatihan di dalamnya mampu menjadi wadah pencetak tenaga kerja unggul yang kompeten, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja industri modern,” papar Bupati H. Amar Nurmansyah.

“Pemerintah daerah bersama pihak perusahaan membentuk satuan tugas bersama. Ikhtiar ini digerakkan untuk memastikan pengembangan Balai Latihan Kerja bukan sekadar memindahkan gedungnya.”

Langkah taktis ini kemudian diterjemahkan ke dalam kerja nyata di lapangan, memastikan anak-anak muda lingkar tambang benar-benar memegang kemudi atas masa depan daerahnya sendiri.

Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menegaskan komitmen jangka panjang perusahaan untuk memastikan kehadiran industri pertambangan memberikan dampak sosial yang transformatif. Melalui pembukaan akses pelatihan vokasi yang terstruktur dan terstandarisasi, program ini dirancang agar generasi muda setempat memiliki daya saing tinggi dan siap mengisi posisi strategis secara berkelanjutan.

“Kami melihat potensi besar pada pemuda Sumbawa Barat dan Sumbawa. Melalui program beasiswa ini, AMMAN ingin membuka akses seluas-luasnya terhadap pendidikan vokasi berkualitas, agar putra daerah tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku utama di industri alat berat,” jelas Aji.

“AMMAN merupakan mitra strategis pemerintah, terutama dalam program pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan sumber daya manusia. Salah satu komitmen AMMAN adalah mendukung pengembangan BLK melalui renovasi bangunan dan inisiasi program pelatihan dasar mekanik alat berat batch 1. Ke depannya, komitmen ini terus ditingkatkan melalui program-program pelatihan angkatan kerja lain. Selain itu, AMMAN juga melakukan pemberdayaan ekonomi untuk UMKM di KSB dan Kabupaten Sumbawa. Tematik program lainnya juga adalah pariwisata berkelanjutan di KSB dan Kabupaten Sumbawa,” tambahnya.

Seluruh rangkaian pembinaan dan sinergi lintas sektor ini pada akhirnya bermuara pada capaian penyerapan kerja yang terukur. Manager Community Development AMMAN, Dimas Purnama, menjelaskan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang rekam jejaknya telah terbukti melahirkan tenaga kerja terserap tinggi.

“Sekitar 90 persen peserta telah mendapatkan penawaran kerja. Ini menunjukkan bahwa pelatihan yang tepat dapat membuka peluang kerja yang nyata,” pungkas Dimas.

Jejaring yang dirajut lembaga pelatihan vokasi ini bukan sekadar retorika. UT School mencatat, alumninya telah lama berkiprah di berbagai sektor industri berskala global, baik di dalam maupun luar negeri. Institusi ini memiliki rekam jejak kemitraan yang kuat dalam memfasilitasi penempatan lulusan ke luar negeri, mulai dari program pemagangan teknis ke Jepang hingga jaringan rekrutmen internasional ke Taiwan dan Jerman.

Di luar pagar lokakarya, Jakarta terus berdenyut tanpa jeda, membawa arus mobilitas tinggi yang kerap membuat siapa pun merasa kecil. Namun, di hadapan deru kota yang asing itu, langkah kaki Sugeng justru terasa kian mantap.

Peserta Beasiswa AMMAN Batch I tampak antusias mempelajari dan memahami denah komponen mesin saat sesi pelatihan teori di UT School Jakarta sebagai langkah awal penyiapan tenaga ahli alat berat lokal yang kompeten. (Foto: Dok. AMMAN)

Bagi Sugeng dan rekan-rekannya, perjalanan panjang ini baru separuh jalan. Setiap modul yang tuntas dipelajari bukan sekadar syarat administratif untuk kelulusan.

Di baliknya, tersimpan taruhan nama baik daerah dan harapan besar agar program kolaborasi ini terus berlanjut bagi generasi muda Sumbawa Barat berikutnya.

“Harapan kami besar sekali. Semoga apa yang kami tempa di sini bisa menjadi pembuka jalan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga membuktikan bahwa kami mampu diandalkan di tingkat nasional,” tambahnya menutup obrolan di sela peralihan sesi praktik.

Garis akhir bagi 16 pemuda yang menempuh pendidikan vokasi ini masih membentang hingga April 2027 mendatang. Mereka masih harus merampungkan lembar demi lembar teori, menempa diri dalam kerasnya latihan lapangan, hingga resmi menggenggam sertifikasi keahlian di tangan.

Namun, jauh melampaui urusan teknis mesin dan selembar sertifikat kompetensi, apa yang sedang dirajut di ruang-ruang kelas Jakarta hari ini adalah sebuah kepastian yang sabar.

Sebab kelak, ketika masa pelatihan usai dan pintu penempatan kerja membuka jalannya, Sugeng dan belasan pemuda tangguh itu tidak lagi pulang membawa tanya. Mereka kembali dengan kepala tegak, membawa keahlian nyata, dan membuktikan masa depan Sumbawa Barat ada di tangan putra-putri terbaiknya.

About The Author