Skor SROI 4,09: Di Balik Kemenangan Lestari Awards 2026 PT AMMAN di Akar Rumput

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Di sudut-sudut kelas, di antara riang suara anak-anak dan lembaran buku yang dibalik, selalu ada cerita lain yang kerap terlewati. Ini tentang daun-daun kering yang berguguran di halaman sekolah, bungkus-bungkus permen, sisa bekal yang tertinggal di bangku, dan bagaimana sebuah siklus kehidupan baru bermula dari hal-hal kecil yang sering diabaikan.
Bagi kebanyakan orang, sampah hanyalah akhir dari sebuah cerita. Limbah kotor ini biasanya langsung disapu, ditumpuk di sudut belakang, lalu dilupakan begitu saja. Namun, ruang-ruang kelas di Sumbawa Barat kini secara perlahan menolak cara pandang lama tersebut.
Melalui Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) yang didukung sepenuhnya oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), sampah tidak lagi dibiarkan menjadi masalah. Di tangan anak-anak sekolah, limbah dirawat menjadi berkah. Mereka diajak langsung melatih kepekaan, menyentuh tanah, dan memilah sisa makanan sejak dini demi menjaga kelestarian bumi tempat mereka tumbuh.
Kebiasaan baru ini perlahan namun pasti mengubah wajah sekolah-sekolah di tanah Bumi Pariri Lema Bariri. Halaman menjadi lebih sejuk, polusi tanah akibat sampah plastik dan sisa makanan berkurang drastis, dan bahan-bahan organik yang dulunya membusuk kini disulap menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.
Gerakan ini tentu bukan kisah yang lahir dalam semalam. Sejak dirintis pada tahun 2022 silam, SMPN 1 Maluk dan SMPN 6 Taliwang setapak demi setapak membiasakan para siswanya dengan prinsip hidup minim sampah. Kini, rutinitas menjaga alam itu telah tumbuh subur menjadi karakter dan budaya sehari-hari sebelum proses belajar mengajar dimulai.
SMPN 6 Taliwang, yang menjadi salah satu sekolah perintis, memeluk erat komitmen ini dengan penuh kesadaran. Menyandang predikat sebagai institusi Adiwiyata, mereka tidak ingin predikat kebersihan tersebut hanya berhenti sebagai slogan manis di dinding kelas.
”Sekolah kami yang berstatus institusi Adiwiyata senantiasa memegang komitmen untuk mengedukasi siswa agar terbiasa memilah sampah, baik organik, anorganik, maupun B3. Dari pembiasaan sederhana ini, kami melihat perubahan perilaku yang luar biasa pada diri anak-anak. Mereka kini menjadi sangat peduli pada kebersihan lingkungan sekitar mereka,” tutur Kepala Sekolah SMPN 6 Taliwang, Taofik Rahman, dengan nada bangga.
langkah mulia ini kian mantap berkat hadirnya fasilitas pengolahan mandiri di sudut sekolah.
”Pada mulanya, rumah kompos kami berdiri dalam kesederhanaan yang luar biasa, hanya berdindingkan bilik seadanya. Namun, berkat dukungan nyata dan berkelanjutan dari PT AMMAN, tempat sederhana ini berubah total menjadi pusat belajar mandiri yang representatif. Di sinilah anak-anak melihat langsung bagaimana sampah organik diubah menjadi sesuatu yang berguna,” imbuh Taofik.
Perubahan karakter itu ternyata tidak tinggal di gerbang sekolah saja. Ia merangsek masuk ke ruang-ruang keluarga dan paling jelas terlihat dari keseharian para siswa di rumah masing-masing.
Suci Januarsih, salah seorang siswi SMPN 6 Taliwang, merasakan sendiri bagaimana ilmu dari sekolah berhasil mengubah kebiasaan keluarganya secara total.
”Dulu, saya dan keluarga sudah biasa menimbun sampah rumah tangga di belakang rumah lalu membakarnya begitu saja sampai asapnya mengepul ke mana-mana. Tapi sekarang, sejak tahu cara mengolah sampah organik di sekolah, kebiasaan itu berubah total. Saya rutin mengumpulkan sisa dapur ke dalam ember khusus dari sekolah, lalu membawanya ke rumah kompos untuk diolah menjadi pupuk,” cerita Suci dengan mata berbinar penuh semangat.
Tentu saja, tuntunan kesadaran di dada anak-anak ini tidak boleh dibiarkan padam di tengah jalan. Para guru memegang peran yang sangat fundamental untuk menjaga nyawa gerakan ini tetap menyala di lapangan.
Tenaga pendidik seperti Deden Purnawan, misalnya, secara konsisten membersamai murid-muridnya setiap pagi untuk memilah dan mengantar sampah organik menuju Rumah Kompos Sekolah (RUMPOS), sebuah fasilitas mandiri yang kini berdiri kokoh di setiap sekolah binaan.
”Kami ingin anak-anak tidak sekadar menghafal teori kebersihan demi mengejar nilai ujian di atas kertas. Kami ingin mereka terbiasa merawat lingkungannya sendiri setiap hari, dengan kesadaran dan tangan mereka sendiri,” ujar Deden lembut.
Siklus ekologis yang bersemi di bangku sekolah ini juga membutuhkan sokongan teknis yang tidak boleh putus. Di lapangan, konsistensi itu dijaga dengan sangat telaten oleh Bambang, selaku mitra pelaksana program yang mengawal operasional harian rumah kompos agar tetap berjalan prima.
”Gerakan ini bisa terus bernyawa dan bertahan karena ditopang oleh semangat gotong royong yang tulus. Ada keringat para guru yang tak kenal lelah, dukungan penuh dari pemerintah daerah, hingga komitmen nyata dari AMMAN yang bersatu padu menjaga bumi Sumbawa Barat,” ungkap Bambang.
Dari Halaman Sekolah Menuju Harumnya Tanah
Dari kerja-kerja nyata di halaman sekolah dan pendampingan teknis yang tekun inilah akhirnya lahir sebuah rantai manfaat yang luar biasa. Sampah organik yang diolah secara higienis kini menghasilkan produk nyata yang diberi nama Pupuk Organik Sekolah Kita (POSTA).
Hebatnya lagi, pupuk buatan tangan anak-anak sekolah ini tidak hanya mendekam di dalam gudang. Manfaatnya justru merambah luas ke berbagai sektor penting, mulai dari menghijaukan kembali area operasional tambang AMMAN, mendukung program penghijauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menyuburkan tanaman hias di hotel-hotel, hingga menjadi bahan uji coba yang menjanjikan untuk budidaya kopi di Desa Rarak Ronges.
Jika ditarik ke atas kertas, angka-angka keberhasilan berbicara dengan sangat jujur. Berdasarkan audit operasional yang dilakukan dari tahun 2022 hingga 2025, gerakan yang mulanya hanya bermula dari dua sekolah perintis kini telah melebarkan sayapnya secara masif hingga merangkul total 11 sekolah pada tahun 2026 ini.
Lebih dari 159,47 ton sampah organik berhasil diselamatkan dari ancaman kepulan asap pembakaran. Kerja keras kolektif itu sukses menghasilkan 83,63 ton kompos POSTA berkualitas tinggi, sekaligus memangkas hingga 710 perjalanan truk pengangkut sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Secara dampak sosial ekonomi, program ini menorehkan angka yang sangat gemilang dengan skor Social Return on Investment (SROI) mencapai 4,09. Angka ini memberikan makna yang jelas bahwa setiap rupiah investasi sosial yang ditanamkan telah menghasilkan manfaat berlipat ganda bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Melihat riak perubahan sosial yang begitu besar di tengah masyarakat, pemerintah daerah tentu tidak tinggal diam. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sumbawa Barat, pihak pemerintah menyatakan kesiapannya untuk memperluas gerakan hijau ini ke cakupan wilayah yang lebih luas demi memperkuat ketahanan lingkungan secara berkelanjutan.
”Melihat semangat luar biasa dari belasan sekolah yang sudah berjalan ini, kami berketetapan hati untuk mereplikasi program inspiratif ini ke sekolah-sekolah lain di Sumbawa Barat. Sektor pendidikan memiliki jumlah siswa yang sangat besar, menjadikannya ruang paling strategis dan efektif untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Lewat pupuk kompos ini, kita semua diajak belajar bahwa tidak ada sampah yang benar-benar sia-sia jika dikelola dengan benar,” papar Kepala Dinas Diskominfo KSB, Dedy Damhudy M. Khatim.
Sinergi lintas sektor yang terbangun apik ini membuktikan bahwa Program Pengelolaan Sampah Sekolah bukan lagi sekadar tugas tambahan dari sekolah, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan kebudayaan baru di tengah masyarakat. Beberapa sekolah mitra bahkan sukses mengharumkan nama daerah dengan meraih penghargaan Adiwiyata bergengsi di tingkat provinsi hingga nasional.
Bagi AMMAN sendiri, program ini merupakan wujud nyata dari komitmen investasi sosial jangka panjang bahwa kepedulian perusahaan tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan fisik semata atau sekadar membagikan bantuan sesaat.
Priyo Pramono, Vice President Policy & Permitting and Social Impact AMMAN, menegaskan kembali bahwa esensi terdalam dari seluruh rangkaian program ini adalah menanamkan kemandirian yang mengakar kuat langsung dari tingkat akar rumput.
”Bagi kami, mendampingi program ini adalah sebuah proses panjang menanam investasi sosial jangka panjang. Kami ingin memastikan fasilitas rumah kompos dan sistem yang ada benar-benar dihidupkan oleh kemandirian pihak sekolah itu sendiri, hingga akhirnya bertransformasi menjadi budaya sehari-hari yang mengakar kuat. Ketika kesadaran itu tumbuh subur, dampaknya akan melompat jauh melampaui pagar sekolah,” ungkap Priyo penuh keyakinan.
Puncak Prestasi di Panggung Nasional
Perjalanan panjang merawat bumi dari ruang-ruang kelas sederhana itu akhirnya menemukan muara yang sangat membanggakan. Program inspiratif ini secara resmi dinobatkan sebagai inisiatif terbaik dalam kategori Waste Management pada ajang bergengsi nasional, Lestari Awards 2026.
Pengakuan terhormat dari Kompas Gramedia (KG) Media, sebagai kelompok usaha media terkemuka di Indonesia yang secara konsisten mengawal praktik bisnis berkelanjutan, menjadi bukti nyata atas konsistensi panjang AMMAN bersama para mitra strategisnya dalam merawat alam.

Lebih dari sekadar hiasan trofi di atas lemari, pencapaian ini menjadi bukti hangat bahwa dari kepedulian kecil di bangku sekolah, sebuah gerakan hijau kini telah menyebar luas ke penjuru desa, menembus batas-batas institusi, dan menyemai masa depan bumi tanah KSB yang jauh lebih lestari.
