Suara Sunyi dari Batu Hijau: Menenun “Saling Salingo” di Atas Rahim Tembaga

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Perbukitan Sekongkang di Kabupaten Sumbawa Barat memperlihatkan bentang alam kontras yang menyimpan sunyinya sendiri. Di kawasan ini, komitmen konservasi vegetasi hutan sekunder yang rapat berjalan beriringan dengan aktivitas produksi di pit aktif Fase 8. Aktivitas ekstraktif tembaga ini hadir sebagai jawaban strategis terhadap kebutuhan dunia akan mineral kritis yang menopang transisi energi bersih dunia.

Kehadiran operasional pertambangan modern di Sumbawa Barat menjadi sebuah model percontohan berskala global mengenai bagaimana pemulihan ekosistem dirancang secara presisi sejak awal masa penambangan. Pola pandang lingkungan modern kini mulai bergeser dari pendekatan konvensional yang kaku menuju pemahaman terhadap nilai lokal setempat. Titik temu antara industri skala besar dan kelestarian alam bukan lagi sebuah utopia, melainkan realitas kerja yang tecermin di lingkar industri Sumbawa Barat.

Kehadiran ruang harmoni ini dijembatani oleh kesediaan industri untuk menghormati warisan leluhur masyarakat Sumbawa Barat yang dikenal sebagai Saling Salingo (Saling Menyayangi). Nilai komunal yang luhur ini tumbuh menjadi semangat kolektif di tengah masyarakat, serupa dengan napas gotong royong warga Sasak di Lombok maupun Mbojo di Bima- Dompu dalam menjaga kelestarian bentang kepulauan Nusa Tenggara Barat.

Sebagai tradisi adat asli Tau Samawa (orang Sumbawa), Saling Salingo adalah hukum rasa kuno yang mengatur etika timbal balik dalam kehidupan bermasyarakat. Konsep ini bertumpu pada tiga pilar utama, tulung saleng yaitu saling menolong, satingi saleng yaitu saling menghormati, dan satotang saleng yaitu saling mengingatkan. Dalam lanskap industri modern, nilai-nilai adat murni ini terus hidup sebagai napas kebersamaan di tingkat tapak. Semangat luhur masyarakat ini menciptakan iklim sosial yang mendukung keberhasilan program pembangunan dan kelestarian lingkungan di sekitar wilayah proyek. Ikatan emosional inilah yang kemudian melandasi lahirnya komitmen manajerial dalam merancang sistem perlindungan alam secara sistematis dan terukur.

Denyut Lanskap yang Bernapas

Pengelolaan lingkungan hidup di area operasional Batu Hijau diimplementasikan secara konsisten sesuai dengan dokumen AMDAL yang diakui pemerintah. Di bawah pengawasan Jorina Waworuntu selaku Head of Environment Department PT Amman Mineral Nusa Tenggara atau AMMAN, tata kelola lingkungan dirancang adaptif terhadap dinamika tapak.

Menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia, fokus utama perusahaan diarahkan pada penguatan ketahanan ekosistem guna mengantisipasi tantangan perubahan iklim global yang memengaruhi pola curah hujan regional.

“Dampak perubahan iklim nyata di depan mata kita, cuaca kian sukar ditebak,” ujar Jorina saat memberikan analisis mengenai fluktuasi cuaca di area operasional.

“Sistem secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa komitmen manusia di dalamnya. Itulah jiwa dari operasional kami.”

Pernyataan dari lini manajemen ini menegaskan bahwa adopsi teknologi pertambangan modern selalu berakar pada dedikasi sumber daya manusia yang konsisten di lapangan. Pemulihan alam diposisikan sebagai proses berkesinambungan yang mengikuti jam biologis alam. Hal inilah yang mendasari pelaksanaan program pemulihan lahan secara bertahap tanpa harus menunggu masa operasi selesai.

Perusahaan AMMAN menerapkan metode concurrent reclamation atau reklamasi berkelanjutan. Melalui metode ini, pemulihan lahan dikerjakan secara simultan bersamaan dengan jalannya lini produksi. Data internal hingga akhir tahun 2025 mencatat total lahan yang berhasil dihijaukan kembali mencapai 859,61 hektare, termasuk capaian tahunan seluas 92,67 hektare sepanjang tahun 2025. Memasuki paruh pertama tahun 2026, aktivitas pemulihan ekosistem ini dilanjutkan secara konsisten demi menjaga stabilitas lereng batuan.

Kehadiran ekosistem hijau di lereng bekas tambang ini membuka ruang kolaborasi teknik bersama pemantauan lapangan dan masyarakat lingkar tambang. Ketika bentang lahan fisik telah siap, langkah berikutnya adalah mempertemukan kekuatan rekayasa teknik dengan partisipasi aktif warga lokal.

Head of Environment Department PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Jorina Waworuntu, saat meninjau kerapatan vegetasi di salah satu zona reklamasi paralel Blok Batu Hijau. Dua dekade menjaga bentang alam pertambangan, baginya aksi iklim dan dekarbonisasi bukan sekadar angka statistik, melainkan disiplin moral untuk merawat ruang hidup bersama. (Foto Dok : AMMAN)

Menjahit Tanah dengan Sains dan Anyaman Warga

Setiap tahapan penataan batuan dalam operasional pertambangan menuntut mitigasi yang presisi demi mempertahankan kualitas air permukaan agar tetap sesuai dengan baku mutu lingkungan. Risiko berupa pembentukan aliran air asam akibat singkapan batuan dalam yang terpapar udara harus diatasi melalui rekayasa lereng yang cepat dan efisien.

Guna mengoptimalkan proses perlindungan tanah ini, perusahaan menggandeng peran aktif masyarakat melalui pengembangan rantai ekonomi sirkular yang inklusif. Di sinilah semangat tulung saleng di tingkat tapak mewujud dalam aksi nyata, mempertemukan keahlian teknik pertambangan dengan kreativitas para pelaku UMKM lokal yang memproduksi jaring penguat lereng.

Kepala Teknik Tambang AMMAN, Wudi Raharjo, menjelaskan bahwa penataan lereng-lereng curam dikunci menggunakan jaring pelindung alami berbahan dasar sabut kelapa yang disebut coconet.

“Kami melakukannya secara terukur berbasis riset intensif yang mendalam. Pemanfaatan coconet ini sangat krusial untuk menahan erosi tanah akibat curah hujan yang tinggi, sekaligus menjaga kelembapan mikro tanah agar benih tanaman penutup bisa tumbuh dengan baik,” urai Wudi.

Penjelasan teknis dari penanggung jawab operasional tambang tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan material alami terbukti efektif mereduksi dampak limpasan air hujan pada area reklamasi.

Kebutuhan logistik pelindung tanah ini dipasok langsung melalui kemitraan dengan UMKM perempuan di desa-desa lingkar tambang Sumbawa Barat. Sabut kelapa yang awalnya merupakan sisa pertanian perkebunan rakyat diolah oleh jemari lokal menjadi produk bernilai ekonomis tinggi sekaligus menjadi pelindung alami dalam program pemulihan vegetasi lahan.

Model pendekatan padat karya ini didasarkan pada parameter keberhasilan reklamasi yang terukur secara internal di lapangan. Pemulihan sejati tidak lagi dinilai dari sekadar pemandangan permukaan yang menghijau, melainkan pada kembalinya struktur tanah topsoil yang subur dan kaya akan unsur hara organik asli perbukitan Sumbawa Barat. Tanah reklamasi yang sempat mengalami tekanan aktivitas penataan kini dipastikan telah kembali memiliki tanda kehidupan alami yang mandiri untuk menyokong pertumbuhan pohon-pohon hutan lokal. Keberhasilan pemulihan di tingkat dasar tanah ini secara logis membutuhkan sistem pemantauan berskala makro agar setiap perkembangannya dapat terdokumentasi secara transparan.

Ibu-ibu di wilayah Tongo Sekongkang yang sedang menganyam sabut kelapa menjadi jaring coconet.(Foto Dok : AMMAN)

Pengawasan Langit dan Jantung Semai Tapak

Sistem pengawasan lingkungan di Batu Hijau memanfaatkan kemajuan teknologi dirgantara melalui pengindraan jauh satelit. Evaluasi dinamika tutupan lahan dilakukan secara berkala menggunakan data indeks vegetasi Normalized Difference Vegetation Index atau NDVI. Penggunaan teknologi berbasis spasial ini berfungsi sebagai instrumen pengawasan digital, sebuah perwujudan modern dari komitmen satotang saleng di tingkat sosial, untuk memastikan transparansi data perubahan dari batuan terbuka menjadi kawasan hijau pekat yang akurat.

Guna mendukung akurasi pemantauan digital dari udara tersebut, operasional di darat juga wajib ditopang oleh ekosistem energi rendah emisi agar tidak mengotori kawasan hutan yang sedang dipulihkan. Komitmen dekarbonisasi ini diwujudkan melalui pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS berkapasitas 26,8 Megawatt peak, yang telah berhasil mereduksi emisi karbon sebesar 34.794 ton sepanjang tahun 2025.

Inisiatif transisi energi ini diperkuat oleh pembangunan Combined Cycle Power Plant berkapasitas 450 Megawatt berbasis gas ramah lingkungan serta pengoperasian fasilitas desalinasi air laut demi memastikan bahwa kebutuhan utilitas industri sama sekali tidak mengganggu ketersediaan sumber air tawar bagi masyarakat sekitar.

Namun, seluruh kecanggihan teknologi berskala makro tersebut, mulai dari lensa satelit di stratosfer hingga infrastruktur energi bersih di daratan, pada akhirnya akan kehilangan maknanya jika tidak ditopang oleh kesiapan penyediaan bibit tanaman lokal di tingkat tapak yang paling dasar. Keberhasilan digital di langit pada akhirnya bertumpu pada ketelatenan manusia di tanah basah yang melakukan pembibitan secara langsung. Pada titik sentral inilah, gerakan masyarakat di akar rumput menemukan wujud nyatanya. Di fasilitas Community Nursery Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang, Adel Brigita mengelola pembibitan flora lokal secara profesional bersama kelompok masyarakat sekitar.

“Dahulu ada rasa penasaran dan sangsi di dalam hati, apakah lahan bekas tambang yang berbatu keras bisa hijau kembali seperti dulu,” kata Adel mengisahkan awal keterlibatannya.

“Tetapi dengan adanya semangat Saling Salingo yang hidup di antara kami, kami memilih untuk bergerak bersama. Sekarang, kelompok masyarakat kami justru menjadi bagian paling penting dalam rantai penyediaan bibit untuk menyuplai kebutuhan reklamasi perusahaan.”

Pelibatan masyarakat secara inklusif ini terbukti mampu membangun optimisme kolektif terhadap masa depan lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi mandiri di tingkat perdesaan.

Sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan tahun 2026, kapasitas produksi fasilitas pembibitan komunitas ini stabil di kisaran 250.000 hingga 300.000 bibit per tahun, dengan volume pasokan rata-rata mencapai 50.000 bibit setiap bulannya.Lebih dari 99 jenis varian tanaman asli Sumbawa Barat dibudidayakan di sini, termasuk jenis pohon kayu keras bernilai ekologis tinggi seperti Ipil, Suren, Sentul, dan Binong. Tanaman produktif seperti Aren, Rotan, dan Kemiri juga dikembangkan untuk memulihkan habitat alami fauna endemik seperti burung gosong kaki-merah dan rusa. Seluruh rangkaian inovasi teknologi bertanggung jawab dan kemandirian masyarakat inilah yang kemudian mendapat pengakuan resmi dari otoritas tertinggi negara.

Pulang ke Rahim Alam

Konsistensi tata kelola lingkungan yang terintegrasi dari pengawasan satelit hingga pembibitan tingkat desa ini berwujud pada pemenuhan standar regulasi nasional yang ketat. Kepatuhan operasional yang melampaui standar wajib mengantarkan AMMAN meraih predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Penghargaan resmi pemerintah ini menjadi pengakuan objektif atas dedikasi bersama antara aspek industri dan pelibatan aktif komponen masyarakat di sekitar area operasional.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menjelaskan bahwa jalinan kolaborasi bersama komunitas lokal merupakan esensi utama dari strategi penciptaan nilai bersama yang berkelanjutan.

“Bagi kami, setiap cerita perubahan di lapangan adalah langkah nyata menuju masa depan yang bermakna. Tradisi adat yang luhur menjadi energi utama yang mendasari partisipasi aktif warga dalam menyambut program pemberdayaan masyarakat dan pemulihan lingkungan yang inklusif,” ungkap Kartika.

Melalui pendekatan ini, fokus komunikasi korporasi bergeser pada akuntabilitas publik yang transparan dan inspiratif. Budaya lokal ditempatkan sebagai modal sosial utama untuk memperkuat ikatan emosional yang baik antara industri, masyarakat, dan bentang alam tempat mereka bertumbuh bersama.

Apresiasi terhadap model pengelolaan lingkungan ini juga ditegaskan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pemerintah daerah menyadari bahwa ketangguhan ekologi wilayah kepulauan akan tercipta secara optimal melalui terbangunnya kesadaran organik masyarakat tapak yang didukung oleh kemitraan lokal yang kokoh dalam mengawal keanekaragaman hayati secara mandiri.

Jemari warga merawat bibit pohon endemik di bedeng semai berbasis masyarakat (community nursery) Desa Tongo, Kecamatan Sekongkan, Sumbawa Barat. Melalui filosofi adat Saling Salingo, masyarakat lingkar tambang mengambil peran aktif menuntut sekaligus mengawal pemulihan lingkungan dengan menyuplai ratusan ribu bibit untuk area reklamasi. (Foto Dok : AMMAN)

Pada akhirnya, waktu bergerak menuju satu titik temu di mana seluruh investasi teknologi, deretan angka statistik, dan infrastruktur megah di Batu Hijau akan menguji ketahanan hakikinya. Kontrak karya pertambangan memiliki batas kalender yang pasti, dan mesin-mesin raksasa pada masanya kelak akan berhenti beroperasi, meninggalkan keheningan perbukitan Sekongkang kembali pada pelukan alam.

Namun, jalinan relasi yang tulus dan rasa memiliki yang tumbuh di antara tanah dan manusianya akan tetap bertahan melintasi generasi. Nilai sejati dari sebuah ikhtiar industri berkelanjutan tidak hanya diukur berdasarkan volume konsentrat tembaga yang dikapalkan ke pasar global. Ia tertinggal dalam desau angin yang menggerakkan selembar daun Merbau lokal di lereng reklamasi, mengalir bersama jernihnya sumber mata air permukaan yang terjaga, dan hidup di dalam rasa optimis warga Sumbawa Barat yang terus merawat masa depan bumi yang lestari.

About The Author