Menghirup Napas Bumi di Ceruk Batu Hijau

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas 

Matanya menatap lurus ke cakrawala, tempat bukit-bukit batu terkelupas oleh gerigi zaman. Di ceruk industri yang riuh oleh deru baja, Jorina Waworuntu melangkah dengan senyap yang terjaga.

Baginya, lingkungan hidup bukanlah sebaris kalimat kaku yang dipenjara dalam dinginnya dokumen Amdal, lembar regulasi, atau tumpukan laporan operasional yang membeku di bawah debu meja kerja. Lingkungan adalah ruang yang bernapas. Ia adalah rahim kosmis yang hadir dalam gemercik air yang membasuh wajah di fajar hari, udara bersih yang dihirup dalam-dalam hingga melonggarkan dada, serta hamparan tanah tempat kaki manusia belajar berakar dan berpijak.

Lebih dari dua dekade silam, sepasang kaki Jorina pertama kali menapak di Site Batu Hijau, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Waktu kemudian berjalan tanpa suara, menyisipkan rona putih di rambutnya, menenun usia di antara gemuruh mesin-mesin besi yang mencabik sepi landasan bumi.

Namun, jepitan waktu tak pernah mampu mengikis prinsipnya. Baginya, menjaga alam bukanlah perkara menghitung angka-angka mati di atas kertas, melainkan sebuah ikhtiar sunyi untuk merawat kembali denyut nadi kehidupan yang kian getir.

Kini, sebagai Head of Environment Department PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Jorina menakhodai tim yang berdiri di garis depan yang sunyi. Tugasnya ganda dan kerap kali meletihkan, memastikan raksasa industri ini patuh pada hukum negara, sekaligus menantang diri untuk melampaui batas standar yang ada. Namun, di tengah kuasa besar yang digenggamnya, ia memilih takzim, menunduk, dan menolak jemawa.

​”Lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Jorina, suaranya lirih namun bergaung penuh penegasan.

“Sistem secanggih apa pun tidak akan pernah berjalan tanpa orang-orang yang mewakafkan diri pada komitmen dan konsistensi.”

Refleksi Jorina bergaung lebih nyaring menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Di bawah tema global ‘Urgent Climate Action and Ecosystem Restoration’, ia memandang perubahan iklim bukan lagi sekadar dongeng sains yang berjarak atau ancaman fiktif di cakrawala masa depan.

​”Dampaknya nyata di depan mata. Cuaca kian sukar ditebak, curah hujan ekstrem tiba-tiba datang menghantam, lalu disusul kemarau yang membakar lebih lama,” kata Jorina.

Realitas inilah yang menjadi alarm keras bagi industri ekstraktif seperti pertambangan untuk mendefinisikan ulang arti keberlanjutan yang sesungguhnya.

Head of Environment Department AMMAN, Jorina Waworuntu, mengamati perkembangan vegetasi di area reklamasi Site Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. Lebih dari dua dekade mengabdi, Jorina konsisten mengawal integrasi antara operasional industri ekstraktif dan pemulihan ekosistem demi menjaga kualitas ruang hidup generasi masa depan.(Foto Dok, AMMAN)

​Membalut Luka Lambung Bumi

Di AMMAN, pengelolaan lingkungan bergerak melampaui sekat-sekat kepatuhan hukum (compliance). Kepatuhan diposisikan sebagai fondasi paling dasar, sementara struktur di atasnya dibangun lewat integrasi perencanaan, infrastruktur teknologi, dan penguatan kapasitas manusia.

Salah satu ujian terberat dari industri tambang terbuka adalah bagaimana membalut “luka” yang menganga pada permukaan bumi. Jawabannya ada pada keteguhan untuk merajut kembali hijau lahan.

Sampai ketukan akhir tahun 2025, perusahaan telah menghijaukan kembali 859,61 hektare lahan bekas tambang. Bahkan, tahun 2025 mencatatkan rekor luasan reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah domestik Batu Hijau, yakni mencapai 92,67 hektare. Sebuah ikhtiar masif untuk mengembalikan hak-hak alam yang sempat terenggut.

“Reklamasi itu bukan sekadar menanam pohon lalu ditinggal pergi,” jelas Jorina.

Prosesnya menyerupai rekonstruksi ekosistem yang rumit dan penuh ketelitian. Dimulai dari penyelamatan lapisan tanah pucuk (topsoil) yang kaya nutrisi ibarat mengumpulkan kembali remah-remah berkah yang tersisa menata kembali topografi lereng agar tidak runtuh, mengendalikan erosi agar sedimen tidak mengeruhkan nadi-nadi sungai, menebar tanaman penutup (cover crops), hingga merawat bibit-bibit pohon lokal agar mampu mandiri dan tegak di tanah yang baru.

Langkah konservasi ini juga merembet keluar dari batas pagar wilayah lingkar tambang. Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) digenjot hingga mencakup area sekitar 3.600 hektare. Di pesisir, kolaborasi ditenun melalui program perhutanan sosial, konservasi laut Gili Balu lewat gerakan Transformasea, hingga perlindungan penyu di pantai selatan Sumbawa. Hidup, pada akhir pekan, dijaga dari hulu hingga ke ujung ombak.

Sejumlah petugas melakukan pemantauan kawasan pesisir di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Selain fokus pada reklamasi lahan internal, komitmen perlindungan lingkungan juga diperluas lewat konservasi laut Gili Balu dan rehabilitasi daerah aliran sungai seluas 3.600 hektare demi menjaga keseimbangan ekosistem wilayah pertambangan. (Foto Dok. AMMAN)

Sajak Surya dan Presisi Langit

Menjawab tantangan dekarbonisasi, lanskap energi di Batu Hijau perlahan mulai berganti warna. Sejak tahun 2022, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 26,8 MWp telah memanen energi dari kemurahan matahari Sumbawa Barat. Sepanjang tahun 2025 saja, ladang panel surya ini berhasil memangkas emisi sekitar 34.794 ton CO₂e.

Langkah ini diperkuat dengan pembangunan Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 450 MW. Pembangkit berbahan bakar gas ini disiapkan sebagai jembatan transisi menuju profil operasional yang jauh lebih rendah karbon.

Paralel dengan urusan energi, manajemen air dipompa guna menghadapi anomali musim yang kian tak menentu. Fasilitas desalinasi air laut didirikan di Benete dan Sejorong, menyulap air asin demi mengurangi sedotan terhadap sumber air tawar alami yang menjadi hak masyarakat. Di atas langit, mata satelit berkala memantau perubahan rona visual lahan, menyuplai data riil agar tim lingkungan bisa mengeksekusi keputusan secara presisi. Teknologi dan nurani berjalan beriringan.

Sunyi yang Menggerakkan

Menariknya, di tengah kepungan teknologi digital, investasi miliaran rupiah, dan megahnya infrastruktur tambang, sudut pandang Jorina justru tetap membumi. Ia selalu pulang pada esensi paling purba, manusia dan kebiasaan kecilnya.

Bagi wanita yang saban tahun tak pernah absen mencangkul tanah, mengotori tangan demi menanam pohon secara mandiri ini, kepedulian tidak bisa dipaksakan lewat jargon korporat yang mentereng namun dingin. Ia harus tumbuh menjadi otot refleks, sebuah kebiasaan yang mengalir otomatis dalam nadi keseharian.

​”Aksi iklim tidak perlu menunggu sebuah kebijakan makro yang megah dari atas podium. Ia bermula dari hal-hal kecil yang konsisten di sekitar kita, mematikan lampu yang tak terpakai, menghemat air, memilah sampah, dan tidak abai pada prosedur sekecil apa pun di area kerja,” tuturnya filosofis.

Dari ceruk tambang Batu Hijau, kisah Jorina dan timnya menjadi sebuah pengingat sunyi. Bahwa pada akhirnya, keberlanjutan bukanlah sebuah garis finis yang riuh, bukan pula target statistik demi memuaskan lembar saham investor. Ia adalah sebuah ziarah panjang yang sunyi, sebuah perjalanan yang menuntut disiplin batin, kolaborasi tanpa batas, dan ketulusan moral.

Sebab, merawat lingkungan sejatinya bukanlah tentang menyelamatkan planet bumi yang perkasa ini. Ini adalah cara kita, manusia, merawat peradaban kita sendiri agar tetap punya tempat berteduh, hari ini, esok, dan bagi generasi yang saat ini bahkan belum lahir ke dunia.

(Tulisan ini disadur dan dielaborasi berdasarkan data dan laporan resmi dari rilis pers PT Amman Mineral Nusa Tenggara).

About The Author