Dari Hutan Aren ke Lereng Tambang: Teknologi Hijau Pemulihan Batu Hijau

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Pagi bergerak perlahan di sebuah rumah produksi sederhana di Desa Beru, Kecamatan Jereweh, Sumbawa Barat. Di dalam ruangan itu, serat-serat hitam bertekstur kasar tersusun rapi. Tangan-tangan terampil para perempuan desa sibuk memilah, merapikan, dan menganyamnya menjadi lembaran baru. Bahan tradisional yang selama ini dipandang sebelah mata, kini bersiap menjalankan peran yang jauh lebih besar.
Langkah awal perubahan itu bermula dari sentuhan tangan komunitas lokal, tempat serat hitam atau ijuk itu mengalami metamorfosis fungsi. Material alami dari pohon aren secara taktis ditransformasikan menjadi Ijuk Blanket, sebuah inovasi teknologi hijau berbentuk geotekstil hayati (bio-geotextile) yang dirancang khusus untuk menjaga kestabilan struktur tanah pada area reklamasi Tambang Batu Hijau.
Inisiatif ini digerakkan oleh Tarmizi Pane, pengelola sekaligus mitra kerja PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Ia melihat potensi besar di balik seikat serat aren yang selama ini hanya dianggap sebagai hasil alam biasa. Melalui pengolahan yang tepat, ijuk mampu menjadi bahan baku teknologi tepat guna yang tidak hanya mendukung pemulihan lingkungan, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Namun, perjalanan Ijuk Blanket tidak dimulai dari ruang produksi. Sebelum membentang di lereng tambang, material ini lebih dulu melewati perjuangan panjang para pengarit ijuk di hutan.
Memanen ijuk bukan pekerjaan ringan. Tanpa perlengkapan pengaman modern, para pengarit harus memanjat pohon aren yang tinggi dan licin. Kekuatan tangan dan kaki menjadi tumpuan utama untuk menjaga keseimbangan di ketinggian. Ancaman alam seperti embusan angin, sengatan lebah, hingga koloni semut hitam yang bersarang di sela pelepah menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi demi mendapatkan serat aren. Hal itu dipahami betul oleh Jamal, salah seorang pengarit ijuk setempat yang merasakan beratnya pekerjaan itu.
“Kalau sudah di atas pohon, taruhannya nyawa. Angin kencang dan sengatan lebah itu sudah jadi makanan sehari-hari kami. Tapi rasa lelah rasanya hilang waktu tahu kalau ijuk yang kami ambil dengan bersusah payah ini dipakai untuk menghijaukan kembali tanah kelahiran kami,” ungkap Jamal.
Dari tangan para pengarit seperti Jamal, bahan baku kemudian bergerak menuju rumah produksi untuk melewati tahap pembersihan, penyusunan, hingga proses penenunan.
Di ruang produksi, lebih dari 20 ibu rumah tangga melanjutkan estafet pekerjaan. Mereka mengelola seluruh proses, mulai dari menyiapkan bahan hingga menghasilkan anyaman ijuk yang siap digunakan sebagai material pendukung reklamasi. Aktivitas baru ini menghadirkan warna berbeda dalam keseharian mereka. Selain menjadi sumber pendapatan tambahan untuk membantu kebutuhan keluarga, rumah produksi itu juga tumbuh menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Tarmizi Pane menyaksikan sendiri perubahan yang terjadi di tengah lingkungan sosial itu.
“Lewat program ini, para ibu bisa mandiri secara finansial. Lebih dari itu, tumbuh rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang sangat erat di antara mereka,” ujar Tarmizi.

Kini, rumah produksi di Desa Beru menjadi penghubung antara pengetahuan lokal masyarakat dengan kebutuhan teknologi lingkungan. Setiap lembar Ijuk Blanket membawa cerita panjang, mulai dari pohon aren di hutan, ketangguhan para pengarit, hingga ketekunan jemari perempuan desa.
Kolaborasi ini sejatinya telah dirintis oleh AMMAN sejak 2015. Perusahaan mengembangkan pemanfaatan serat aren serta coconet (sabut kelapa) produksi masyarakat lingkar tambang yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pelatihan berkelanjutan, pendampingan, dan bantuan alat produksi, para perajin diberdayakan untuk menghasilkan material alami dengan standar industri.
Dalam ekosistem ini, AMMAN bertindak sebagai pembeli utama (offtaker) yang menyerap seluruh hasil produksi Ijuk Blanket dan coconet. Kepastian pasar menjadi fondasi penting yang menjamin keberlanjutan usaha masyarakat sekaligus memberikan arah pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Pemilihan ijuk sebagai instrumen rekayasa lingkungan bukan hanya karena ketersediaannya sebagai bahan alami, tetapi juga karena karakter seratnya yang memiliki kemampuan teknis untuk mendukung proses pemulihan lahan. Serat aren dikenal kuat, elastis, memiliki daya tahan terhadap kelembapan tinggi, serta mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah.
Pada area reklamasi, karakter tersebut menjadi penting karena tanah bekas tambang umumnya memiliki struktur yang masih rapuh dan rentan mengalami erosi. Ijuk Blanket berfungsi sebagai lapisan pelindung awal yang membantu menjaga permukaan tanah tetap stabil, mempertahankan kelembapan, sekaligus memberi ruang bagi tanaman penutup (cover crops) untuk tumbuh hingga vegetasi alami mampu mengambil alih fungsi perlindungan.
Berbeda dengan geotekstil sintetis berbahan plastik yang sulit terurai, material berbasis ijuk dan coconet memiliki keunggulan ekologis karena dapat menyatu dengan proses pemulihan ekosistem. Kandungan lignin yang tinggi pada serat ijuk membuatnya tidak mudah lapuk sehingga mampu bertahan lebih lama di lapangan sebelum akhirnya terurai secara alami.
Struktur anyaman yang memiliki pori-pori alami juga memungkinkan sirkulasi udara dan pergerakan air tetap berlangsung. Kondisi tersebut membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi perkembangan akar dan pertumbuhan vegetasi di area reklamasi.
“Dari serat sederhana, lahir solusi besar untuk bumi.”
Di medan reklamasi Batu Hijau, Ijuk Blanket dan coconet dihamparkan pada lereng-lereng kritis yang membutuhkan proteksi awal. Material alami ini membantu mengikat lapisan tanah permukaan, mengurangi risiko terbawanya sedimen akibat air hujan, sekaligus menjadi media pendukung bagi tumbuhnya tanaman hingga kawasan tersebut mampu membangun ekosistem yang lebih stabil.
Dari proses panjang di tingkat tapak hingga penerapannya di area reklamasi, Ijuk Blanket menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan lokal dapat dipadukan dengan kebutuhan industri untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan.
Hingga akhir 2024, teknologi penahan erosi alami ini telah memproteksi lahan reklamasi seluas 799,53 hektare. Angka tersebut terus berkembang seiring peningkatan program pemulihan lahan. Bahkan pada 2025, AMMAN mencatat capaian reklamasi tahunan terbesar sepanjang operasional Tambang Batu Hijau dengan tambahan pemulihan lahan seluas 92,67 hektare. Total akumulasi lahan yang berhasil direklamasi kemudian mencapai 859,61 hektare pada akhir 2025.
Capaian reklamasi tersebut tidak berdiri sendiri. Di balik luasan lahan yang berhasil dipulihkan, terdapat proses panjang yang melibatkan warga sekitar sebagai bagian dari rantai solusi lingkungan. Material yang dihasilkan dari tangan warga kemudian mengambil peran penting dalam mendukung pemulihan area bekas tambang.
Keberhasilan program hijau ini berjalan seiring dengan meningkatnya kemandirian warga. Produksi Ijuk Blanket dan coconet menempatkan masyarakat lingkar tambang sebagai bagian penting dalam rantai teknologi pemulihan lingkungan, bukan sekadar penerima manfaat.
Sejalan dengan perluasan area reklamasi, keterlibatan khalayak dalam produksi material alami juga terus berkembang. Hingga 2025, jumlah masyarakat lingkar tambang yang diberdayakan melalui produksi Ijuk Blanket dan coconet secara kumulatif mencapai 167 orang. Mereka tidak hanya terlibat dalam proses produksi, tetapi juga menjadi bagian dari inovasi yang menghubungkan potensi lokal dengan kebutuhan pemulihan lingkungan berskala industri.
Komitmen lingkungan yang terintegrasi ini akhirnya membuahkan pengakuan. Pada tahun 2026, AMMAN dianugerahi predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas upaya perusahaan dalam menjalankan operasi pertambangan yang tidak hanya memperhatikan aspek produksi, tetapi juga mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menegaskan bahwa merangkul warga dalam program pemulihan lahan merupakan strategi jangka panjang perusahaan. AMMAN berkomitmen agar kehadiran industri mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
“Fokus kami tidak hanya pada pemulihan alam, tetapi juga pada penguatan kapasitas ekonomi lokal. Kami ingin memastikan perputaran ekonomi warga tetap tumbuh dan mandiri, bahkan setelah masa operasional tambang nanti berakhir,” jelas Kartika.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keberhasilan reklamasi tidak hanya diukur dari luasnya lahan yang kembali hijau, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat dapat tumbuh bersama dalam proses pemulihan tersebut.
Kisah Ijuk Blanket menjadi bukti nyata bahwa inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau formula yang rumit. Sering kali, inovasi tumbuh dari kemampuan membaca potensi yang ada di sekitar, lalu mengolahnya menjadi solusi yang mampu menjawab persoalan besar.
Dari tangan kekar para pengarit di hutan, serat aren mengalir ke rumah produksi, ditenun dengan penuh ketekunan oleh para ibu, hingga akhirnya membentang menjaga raga lereng Batu Hijau. Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa teknologi hijau tidak hanya dibangun oleh mesin dan peralatan modern, tetapi juga oleh pengetahuan lokal, ketekunan manusia, dan kolaborasi berbagai pihak yang memiliki tujuan sama.
Di balik selembar Ijuk Blanket, ada ekosistem yang saling menghidupi. Ada peluh kerja keras di pedalaman hutan, ada asa yang tumbuh di rumah produksi, dan ada rekayasa sains yang membantu memulihkan kembali fungsi tanah. Rangkaian proses tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan dapat tumbuh ketika industri dan masyarakat berjalan dalam satu arah, saling memperkuat untuk menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi.
“Ketika alam, teknologi, dan masyarakat bergerak dalam satu arah.”
Pada akhirnya, serat hitam dari pohon aren itu bukan lagi sekadar penahan erosi. Ia telah menjadi simpul pengikat antara manusia dan alam, antara ketekunan masyarakat dan masa depan bumi yang lestari.
Di lereng Batu Hijau, Ijuk Blanket terus bekerja dalam diam. Namun dari jalinan serat sederhananya, ia menyampaikan pesan kuat bahwa inovasi teknologi hijau sering kali berakar dari kearifan lokal yang paling bersahaja.**
