Di Bawah Roda Raksasa Benete, Doa Ibu Menjelma Kunci Torsi

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Bau solar dan minyak pelumas yang pekat menguar dari sela-sela baju kaos biru muda yang dikenakan Sugeng Adi Prayoga. Di bawah benderang lampu bengkel, tangan pemuda berusia 18 tahun ini dengan cekatan menyisir rangkaian rumit sistem hidrolik Caterpillar di hadapannya. Jari-jarinya yang mulai terbiasa dengan kerasnya logam tampak kontras dengan sorot matanya yang tenang namun penuh konsentrasi.

Bagi Sugeng, anak muda yang tumbuh di Desa Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Nusa Tenggara Barat (NTB), raksasa besi yang saban hari membelah bukit-bukit batu cadas Tana Pariri Lema Bariri dulunya adalah sebuah kemewahan yang berjarak. Deru mesin tambang menderu sejak fajar menyingsing, menyisakan debu yang berterbangan di sepanjang jalan lingkar tambang. Selama puluhan tahun, warga setempat kerap merasa hanya menjadi penonton di pinggir jalan, menyaksikan orang-orang dari luar daerah hilir mudik mengendalikan urat nadi ekonomi tanah kelahiran mereka.

Sugeng lahir dan tumbuh dari rahim pertautan budaya. Ayahnya, Sudarmono, adalah putra asli Sumbawa Barat yang lahir, besar, dan menggantungkan hidup di bumi Paleba sebagai karyawan di PT Parts Sentra Indomandiri (PSI). Sementara ibunya, Yayu Winarni, merupakan perempuan asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang sejak kecil merantau dan menetap di Pulau Sumbawa untuk mengurus rumah tangga.

Dari ruang keluarga yang sederhana di Benete itulah, mimpi-mimpi besar Sugeng mulai dirajut di tengah kepulan debu industri yang tak pernah tidur.Ketika gerbang pendaftaran Program Beasiswa Mekanik Alat Berat Batch I dibuka melalui program “AMMAN Scholars”, Sugeng tahu ini adalah kesempatannya untuk melompati dinding pembatas bernama kualifikasi global. Pengumuman kelulusannya disambut dengan keharuan yang luar biasa di rumahnya.

“Saat nama saya dinyatakan lolos, bapak dan ibu peluk saya sambil menangis. Kedua orang tua saya sangat bersyukur, karena bagi keluarga kami, beasiswa alat berat di UT School ini bukan sekadar pelatihan kerja biasa. Ini adalah jalan pembuka nasib yang selama ini seperti tidak terjangkau oleh anak-anak kampung seperti kami,” kenang Sugeng dengan suara yang bergetar.

Ditempa Menjadi Ksatria

Perjalanan menjemput keahlian itu nyatanya menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Mengingat fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemkab KSB saat itu masih dalam tahap pembangunan dan relokasi infrastruktur, para peserta Batch I ini harus dikirim langsung ke pusat pendidikan profesional UT School di luar daerah. Pemuda pesisir yang terbiasa dengan ritme hidup yang santai mendadak dilempar ke dalam tungku peleburan bernama Pembinaan Mental dan Sikap (Bintalsik).

Di bawah kedisiplinan yang semi militeristik, Sugeng dipaksa bangun jauh sebelum matahari terbit, berdiri tegak di bawah instruksi tanpa kompromi, dan mematuhi regulasi ketat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) industri pertambangan modern.

Di bilik bengkel yang bising, Peserta Batch I ini tak bosan memahami kontruksi mesin raksasa besi. Mata mereka memahat pengetahuan pada sebongkah logam. Di balik helm kuning itu, bersemi mimpi-mimpi yang kelak akan menggerakkan roda peradaban. Setiap putaran baut, setiap sambungan kawat, adalah aksara dalam puisi kerja mereka. (Foto Dok. AMMAN)

Culture shock atau benturan budaya sempat membuat fisiknya tumbang dan batinnya didera kerinduan mendalam akan rumah. Namun, di dalam ruang-ruang kelas yang padat teori dan bengkel kerja yang bising oleh dering kunci pas, Sugeng menemukan bahwa esensi pelatihan ini jauh melampaui urusan mesin.

“Di sini kami memang mengambil jurusan mekanik alat berat, menguliti bagaimana sistem hidrolik bekerja, hingga merawat mesin raksasa agar tetap presisi. Namun, yang diajarkan para instruktur di UT School ini jauh lebih tinggi dari sekadar memutar baut,” cerita Sugeng mengalir.

Ia menjeda kalimatnya sejenak, membetulkan posisi berdiri yang sebelumnya menunduk lalu melanjutkan dengan nada mantap.

“Kami dirombak dari dalam. Kami dididik untuk tidak sekadar menjadi buruh pemegang kunci pas, tetapi menjadi manusia yang memiliki jiwa integritas yang jujur, santun dalam berperilaku, ahli di bidangnya, dan berani mengambil keputusan di lapangan. Kami diajarkan menjadi ksatria besi yang disegani karena karakter, bukan karena belas kasihan.”

Memutus Rantai Ironi

Sumbawa Barat memang menyimpan karakteristik ekonomi yang unik sekaligus menantang. Sektor ekstraktif pertambangan merupakan mesin utama daerah yang menyumbang hampir 80 persen dari Produk Domestik Regional Buruto (PDRB). Namun, kilau angka statistik itu sering kali menyimpan ironi tebal di hulu ketenagakerjaan lokal, tingkat keterserapan anak muda setempat kerap terbentur oleh tingginya standar kualifikasi yang diminta pasar global.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menolak membiarkan warganya terus-menerus terasing di lumbung kemakmuran sendiri. Melalui cetak biru Industrialisasi Ketenagakerjaan KSB Maju Luar Biasa, Pemkab KSB menggandeng PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) dan UT School (lembaga pendidikan di bawah naungan PT United Tractors) untuk merevitalisasi sistem vokasi daerah secara fundamental.

Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, menegaskan kolaborasi trilateral ini merupakan manifesto politik kesejahteraan untuk memutus rantai ketergantungan dan kepasrahan kultural. Pihak pemerintah daerah mendorong agar proses seleksi berjalan secara transparan dan akuntabel melalui rangkaian Tes Potensi Akademik (TPA), wawancara mendalam, hingga pemeriksaan kesehatan (medical check-up) guna memastikan bahwa yang terpilih adalah mereka yang benar-benar siap ditempa.

“Kami menegaskan sejak awal kepada pihak korporasi dan lembaga diklat, kami tidak ingin anak-anak KSB lulus hanya karena faktor kedekatan atau belas kasihan kuota formalitas daerah. Itu merendahkan martabat mereka,” ujar Amar Nurmansyah dengan tegas saat melepas para peserta di Taliwang.

Bupati menambahkan  tanah Sumbawa Barat telah memberikan kemakmuran yang melimpah bagi negeri ini, dan kini sudah saatnya anak-anak muda setempat menjemput kedaulatan ekonominya sendiri.

“Mereka harus tegak berdiri di atas keringat, kedisiplinan, dan kompetensi sejati. Kita sedang menyiapkan sebuah angkatan kerja yang mampu menjadi tuan yang mengendalikan raksasa-raksasa besi itu, bukan lagi penonton yang terpinggirkan dan meratapi nasib di tanah kelahirannya sendiri,” tambahnya.

Investasi Peradaban Pascatambang

Dari sudut pandang korporasi, program ini bukan sekadar pemenuhan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) yang bersifat karitatif atau seremonial belaka. Bagi AMMAN, mempersiapkan kapasitas lokal dengan standar internasional adalah bagian krusial dari strategi keberlanjutan wilayah, terutama dalam menyongsong fase pascatambang (mine closure) yang tidak bisa dihindari di masa depan.

Kurikulum satu tahun penuh yang memadukan In-Class Training dengan On-the-Job Training (OJT) langsung di area operasional pertambangan dirancang dengan tingkat fleksibilitas keahlian yang sangat tinggi. Tujuannya adalah membentuk keterampilan transfungsional (transfunctional skills) yang membuat para pemuda ini memiliki daya saing global, terlepas dari apakah mereka kelak bekerja di AMMAN atau di industri manufaktur lainnya di seluruh dunia.

Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengungkapkan  perusahaan meletakkan visi jangka panjang yang besar di atas pundak generasi muda Tana Samawa melalui program “AMMAN Scholars” ini. Investasi yang digelontorkan bukan sekadar untuk menghasilkan mekanik siap pakai, melainkan bentuk investasi peradaban.

“Kami melihat bentangan masa depan yang luar biasa pada anak-anak muda KSB dan KS. Pintu vokasi berkualitas global ini sengaja kami buka selebar-lebarnya demi merombak struktur sosial dan ekonomi daerah. Kita ingin mereka tidak lagi menjadi pelaku pasif yang menunggu lowongan kerja saban sore,” tutur Aji Suryanto jernih.

Lebih jauh, Aji menjelaskan keterampilan yang adaptif ini dipersiapkan agar kelak, ketika ekskavator raksasa berhenti mengeruk bijih tembaga, jemari-jemari terlatih putra daerah inilah yang akan memimpin pemulihan lingkungan.

“Saat tambang ini selesai, mereka adalah orang-orang yang paling siap merawat mesin-mesin pemulih ekosistem, melakukan reklamasi hijau yang berkelanjutan, dan menjaga tanah ulayat mereka tetap berdaya secara ekonomi tanpa kehilangan kelestariannya,” tegasnya.

Optimisme ini bukan sebuah utopia yang rapuh, melainkan berdiri kokoh di atas fondasi fakta empiris. Data akumulatif dari program pengembangan kapasitas serupa yang dijalankan AMMAN pada periode sebelumnya menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Sekitar 170 putra daerah berhasil digembleng dengan tingkat keterserapan di industri pertambangan menyentuh angka 90 persen, sebuah angka yang sekaligus membungkam skeptisisme publik terhadap kualitas tenaga kerja lokal.

Waktu kini terus bergulir menuju Mei 2027, saat Sugeng Adi Prayoga dan rekan-rekannya sesama ksatria lokal bersiap menghadapi ujian sertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Alat Berat Indonesia (BNSP – LSPABI) untuk skema Preventive Maintenance.

Di sudut bengkel pelatihan yang riuh oleh desis kompresor udara, Sugeng kembali meraih kunci pasnya, mengencangkan baut dengan presisi hitungan milimeter yang ajek. Di kepalanya, bayangan wajah sang bapak yang bekerja keras di perusahaan dan ketulusan senyum sang ibu di meja makan Benete menjadi bahan bakar emosional yang tak pernah habis.

Ada cerita yang tak sempat diucapkan oleh bising pabrik, namun terbaca jelas dari tajamnya mata mereka. Pemuda-pemuda ini dengan seragam yang senada dan tekad yang sewarna berdiri melingkari sebuah peta rencana. Di sanalah, di atas lembaran putih itu, takdir sebuah konstruksi sedang dipahat dengan penuh rasa tanggung jawab.(Foto Dok. AMMAN)

“Pelatihan ini berat, tapi saya tahu doa ibu dan harapan bapak mengalir di setiap putaran kunci pas ini,” bisik Sugeng lembut, pandangannya menerawang menembus atap bengkel.

“Harapan terbesar saya hanya satu, saya ingin lulus dengan predikat terbaik dan memegang sertifikat internasional itu. Saya ingin pulang ke Benete, mencium tangan bapak dan ibu.Saya ingin membuat mereka berdua tersenyum tanpa perlu cemas lagi akan masa depan.”

Di bawah bentangan langit Sumbawa Barat, deru mesin hidrolik raksasa kini tak lagi terdengar sebagai nyanyian besi yang angkuh dan mengancam. Suara itu mulai melunak, menjelma menjadi sebuah ritme kemandirian baru yang digerakkan oleh jemari anak-anak muda setempat, tegak di atas tanah mereka sendiri.