Malam Ketika Cerita-Cerita Mendapat Tepuk Tangan di Bawah Rinjani

KSB Nasional Regional

Sutan Zaitul Ikhlas

Udara dingin menyelimuti Sembalun, di kaki Gunung Rinjani, ketika halaman Edelweis Sembalun Villa disulap menjadi panggung megah penganugerahan Cerita Sasambo AMMAN 2026, Kamis malam, 8 Oktober 2026. Di tengah hawa pegunungan yang menusuk kulit, alunan musik travelling mengisi malam, mengiringi pertemuan para jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia. Tarian tradisional Sumbawa Barat bahkan turut memeriahkan perayaan. Gerak para penari yang lincah nan gemulai membawa kekayaan budaya tanah Pariri Lema Bariri (Paleba) ke tengah pertemuan para pengolah cerita.

Para jurnalis datang dengan cerita yang berangkat dari tempat berbeda. Ada yang menelusuri perkembangan industri pertambangan, ada yang mengikuti perubahan hutan dan pesisir, ada pula yang merekam perjuangan petani, pelaku usaha kecil, dan anak-anak yang belajar menjaga lingkungan. Malam itu, cerita-cerita yang tumbuh jauh dari Sembalun bertemu di satu panggung.

Cerita Sasambo AMMAN 2026 menghimpun 277 karya dari 111 jurnalis. Sebanyak 36 pemenang menerima penghargaan atas karya yang membawa beragam persoalan ke ruang publik. Angka-angka itu menggambarkan luasnya perhatian para peserta, tetapi nilai setiap karya tidak berhenti pada jumlah atau penghargaan. Dibaliknya, ada proses mencari fakta, menemui narasumber, memahami persoalan, dan menemukan cara agar kehidupan yang mereka saksikan dapat dipahami pembaca.

Vice President Corporate Communication AMMAN, Kartika Octaviana, menilai karya jurnalistik memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman masyarakat mengenai dinamika industri pertambangan.

“Bagi kami, setiap karya merupakan kontribusi berharga dalam memperkaya ruang informasi dan pemahaman masyarakat terhadap berbagai dinamika industri pertambangan,” ujar Kartika.

“Melalui ketekunan dalam menggali informasi dan kekuatan dalam merangkai cerita, para peserta telah menghadirkan karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga membantu publik melihat berbagai isu melalui sudut pandang yang lebih dekat dan manusiawi,” katanya.

Kekuatan sebuah karya juga menjadi perhatian para juri. Khairul Anwar, mantan wartawan senior Kompas, turut menilai tulisan para peserta bersama Ahmad Ikliluddin, General Manager Radar Lombok sekaligus Ketua PWI NTB. Penilaian tidak semata-mata bertumpu pada cara penulis merangkai kalimat, tetapi juga pada ketepatan fakta, penggunaan data, sudut pandang, dan kedalaman penggalian persoalan.

Ahmad Ikliluddin, General Manager Radar Lombok sekaligus Ketua PWI NTB. (Foto: Dok. AMMAN)

“Dalam menilai karya jurnalistik, kami melihat banyak aspek. Bukan hanya bagaimana cerita itu ditulis, tetapi juga bagaimana penulis menggali fakta, menggunakan data, membangun sudut pandang, dan menyampaikan persoalan secara utuh. Karya yang baik harus memiliki dasar yang kuat, akurat, dan mampu memberikan sesuatu yang berarti bagi pembaca,” ujar Ahmad Ikliluddin.

Ragam karya pemenang memperlihatkan luasnya medan yang dijelajahi para jurnalis. Sebagian membawa pembaca ke tengah perkembangan teknologi dan industri, sebagian lain mengajak mereka melihat apa yang terjadi pada alam dan kehidupan masyarakat. Dari sana, cerita bergerak menuju ruang yang lebih dekat, tempat orang bekerja, merintis usaha, merawat tradisi, dan mencari kemungkinan hidup yang lebih baik.

Azis Kurmala dari Antara News dan Thresa Sandra dari Investor Daily mengangkat tembaga dan kecerdasan buatan dalam kaitannya dengan perkembangan industri. Dani Jumadil dari Okezone menulis tentang teknologi di Batu Hijau, sedangkan Unang Silatang dari Arki FM, Sumbawa Barat, menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan di AMMAN sekaligus peran manusia yang tetap tak tergantikan.

Hendra Ardiansyah dari Samawarea membawa perhatian pada penyelesaian smelter dan kesiapan Sumbawa Barat menghadapi perkembangan industri. Heri Andi dari Suara NTB mengangkat integrasi hulu hingga hilir AMMAN di Batu Hijau melalui ATM Emas. Saudi dari Tambora Post menulis teknologi pengendalian pencemaran smelter, sementara Agustinus Yoga dari Kompas.id menelusuri kemungkinan ekonomi pascatambang di Batu Hijau.

Dari ruang industri, perhatian beralih ke tanah dan sumber penghidupan masyarakat. Ridwan Harahap dari OG Indonesia mengangkat kesuburan tanah dan perekonomian masyarakat Maluk. Ibrahim dari Warta Sumbawa menulis tentang petani yang menanam harapan di Benete, sedangkan Iwan Fardiansyah dari Kanal Sumbawa mengikuti pertumbuhan hutan dan harapan masyarakat Talonang.

Zainuddin dari Samawarea membawa pembaca ke perairan Teluk Benete dan tenun Kre Alang, warisan budaya Sumbawa. Tema-tema itu memperlihatkan wajah daerah yang lebih luas daripada industri yang berkembang di dalamnya. Ada tanah yang diolah, hutan yang perlu dipulihkan, laut yang menjadi sumber penghidupan, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hubungan antara lingkungan dan penghidupan juga hadir dalam cerita tentang usaha masyarakat. Ilham Syahroni dari Suara NTB mengangkat Dahlan yang mengolah sisa makanan menjadi pakan ikan serta usaha kopi yang tumbuh dari dapur sederhana di Desa Marga Karya. Budi Ratnasari dari Radar Lombok menulis tentang Black Garlic Syae’un yang menghidupkan kembali potensi bawang putih Sembalun.

Nurul Hidayati dari Lombok Post mengangkat Kuah Bakso Emak Seteluk dan peluang usaha bagi perempuan penyintas. Arief Rahman dari Kabar Baik mengikuti perjalanan Green Sajang Coffee, dari meja kayu sederhana menuju pasar digital. Di balik usaha-usaha itu, ada orang yang mencoba memberi nilai baru pada bahan yang tersedia, merawat keterampilan, dan memperluas pasar dengan segala keterbatasan yang mereka hadapi.

Karya-karya dalam format video dan media sosial memperluas cara cerita menjangkau masyarakat. Linggauni dari IDN Times NTB mengangkat upaya dekarbonisasi AMMAN melalui energi bersih dan smart grid. Dalam kategori media sosial tingkat nasional, Iwan Supriyatna dari Cobisnis, Whisnu Bagus dari Investor Trust, dan Andry Ansari dari StockAlpha menghadirkan karya di bidang inovasi dan teknologi.

Cerita keberlanjutan juga muncul melalui kopi Kawarama dan UMKM lokal yang diangkat Whisnu Bagus, Gemala Craft yang dirintis perempuan Sumbawa dalam karya Iwan Supriyatna, serta beasiswa dan impian anak-anak yang menjadi perhatian Rian Wahyudin dari Majalah Tambang.

Di tingkat NTB, Indra Irawan dari Kabar Media Citra, Imam Fauzan dari Media KSB, dan Linggauni dari IDN Times NTB mengangkat tema inovasi dan teknologi. Khairuddin Enk dari Arki FM, Lalu Azwin Hamdani dari Kicknews.Today, dan Ratna Dewi dari Selaparang TV menghadirkan cerita tentang tenun Mantar, penghijauan di Maluk, serta perempuan Sembalun.

Di antara beragam persoalan yang diangkat para pemenang, satu cerita dari Sumbawa Barat membawa pembaca kembali ke kehidupan sehari-hari di sekolah. Bukan tentang mesin berteknologi tinggi atau proyek berskala besar, melainkan tentang seorang siswi yang belajar melihat sampah dengan cara berbeda.

Sutan Zaitul Ikhlas dari Harian NTB meraih penghargaan kategori Dampak Sosial dan Lingkungan melalui tulisan Jemari Kecil yang Mengajarkan Sampah Menjadi Manfaat. Cerita itu mengikuti Suci Januarsih, siswi SMPN 6 Taliwang, yang belajar mengelola sampah organik melalui kegiatan di Rumah Kompos Sekolah.

Sebelumnya, sampah rumah tangga biasa ditimbun atau dibakar bersama sampah lainnya. Setelah mengenal pengelolaan sampah di sekolah, Suci mulai memilah sisa makanan untuk dibawa ke rumah kompos dan diolah menjadi pupuk. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah perlahan mengubah kebiasaan di rumah.

Perubahannya tidak membutuhkan adegan besar. Ada sampah yang tidak lagi langsung dibuang atau dibakar, ada kebiasaan memilah yang mulai tumbuh, dan ada pengetahuan yang dibawa seorang anak ke tengah keluarganya. Hal sederhana itu memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan memperoleh makna lebih jauh ketika anak-anak dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kekuatan cerita Suci terletak pada kedekatannya dengan pengalaman pembaca. Persoalan sampah sering dibicarakan melalui angka, aturan, dan program. Melalui pengalaman seorang siswi, persoalan itu hadir dalam bentuk yang lebih nyata, sesuatu yang ditemukan di rumah, dipelajari di sekolah, lalu diubah melalui tindakan sederhana.

Sekolah pun tidak hanya menjadi tempat anak-anak menerima penjelasan. Melalui praktik pengelolaan sampah, mereka belajar mengenali persoalan di sekitar, memahami akibat dari kebiasaan sehari-hari, dan mencoba melakukan perubahan. Pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas ketika anak-anak dapat membawanya pulang.

Di tengah cerita tentang teknologi, smelter, energi bersih, dan perkembangan industri, pengalaman Suci menghadirkan ukuran kemajuan dari sudut yang berbeda. Perubahan juga dapat dilihat dari cara seseorang memperlakukan lingkungannya, dari kebiasaan yang diperbaiki, dan dari kepedulian yang tumbuh sejak usia sekolah.

Para jurnalis asal Kabupaten Sumbawa Barat yang meraih penghargaan dalam Cerita Sasambo AMMAN 2026 berfoto bersama di Sembalun, Lombok Timur, Kamis malam (8/10/2026).(Foto: Dok. AMMAN)

Malam di Sembalun mempertemukan para pemenang, tetapi sumber cerita mereka tersebar jauh melampaui panggung penghargaan. Ada Batu Hijau dan Benete, hutan dan pesisir, tempat usaha dan ruang kelas. Masing-masing menyimpan persoalan, harapan, serta orang-orang yang menjalani perubahan dengan cara mereka sendiri.

Ketika musik berhenti dan tepuk tangan mereda, para jurnalis akan kembali ke daerah masing-masing. Halaman Cafe Edelweis kembali menjadi bagian dari keseharian Sembalun. Sementara itu, kehidupan yang mereka tulis terus berjalan. Petani kembali mengolah tanah, pelaku usaha merawat dagangan, masyarakat menjaga lingkungannya, dan anak-anak membawa pelajaran sekolah ke rumah.

Penghargaan malam itu mungkin menjadi penanda berakhirnya sebuah kompetisi, tetapi cerita yang melahirkannya tidak selesai di panggung. Cerita-cerita itu akan terus hidup selama ada orang yang bersedia melihat lebih dekat, mendengar dengan sungguh-sungguh, dan menuliskan pengalaman manusia dengan jujur. Dari Sembalun, para jurnalis pulang membawa penghargaan. Yang lebih penting, mereka kembali ke tempat masing-masing, tempat cerita-cerita berikutnya menunggu untuk ditemukan.**

About The Author