Menguatkan Asa UMKM KSB: Jejak Pendampingan AMMAN di Balik Sate Jaran dan Permen Susu

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Bau harum susu segar bercampur legitnya gula karamel menguar di udara sebuah dapur sederhana di Desa Tapir, Kecamatan Seteluk, Sumbawa Barat. Di atas meja etalase kaca yang bersih dan tertata rapi, Feti (40) dengan penuh ketelitian menyusun puluhan bungkus permen susu buatan tangannya sendiri. Mengandalkan seratus persen susu murni lokal, yang diperah langsung dari hasil peluh para peternak sapi dan kerbau lokal tanpa bahan pengawet kimia, camilan manis bertekstur legit ini menawarkan cita rasa khas yang kini menjadi salah satu oleh-oleh incaran wisatawan. Label merek bertuliskan “Tapir Barokah” dengan desain minimalis namun elegan menempel sempurna di setiap kemasan ziplock transparan tersebut.
Siapa sangka, di balik kerapian presentasi produk yang kini terpajang manis, tersimpan perjalanan panjang penuh keraguan.
Dulu, Feti hanya mengandalkan cara tradisional dalam mengemas produk menggunakan kertas plastik seadanya. Pemasarannya pun terbatas dari mulut ke mulut, yang sering kali macet di tengah jalan. Kapasitas produksinya tertahan di angka belasan bungkus per hari akibat keterbatasan alat.
”Dulu saya sempat putus asa, Mas. Rasanya sudah enak tapi kok ya mentok di situ-situ saja. Kemasan gampang leleh, izin edar resmi juga belum punya,” kenang Feti, mengingat masa-masa awal saat usahanya hanya berputar di lingkungan sekitar tanpa identitas yang jelas.
Kisah Feti adalah potret nyata denyut nadi pelaku usaha kecil di pelosok pedesaan Sumbawa Barat. Mereka punya potensi produk luar biasa, namun kerap terbentur tembok tebal keterbatasan, mulai dari jangkauan pasar yang sempit, urusan izin yang rumit, hingga kebingungan mengelola modal dan pembukuan.
Di sinilah angin perubahan itu berembus. PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) hadir merajut asa bersama para mitra untuk mendampingi UMKM lokal agar tidak sekadar bertahan hidup, melainkan benar-benar mandiri dan berdaya saing.
Komitmen ini bukanlah cerita kemarin sore. Jejak nyata AMMAN dalam memacu kapasitas UMKM telah dirintis sejak lama. Program Branding dan Marketing yang digagas pada 2021 silam bekerja sama dengan NARASA sebagai mitra pelaksana telah sukses membina dan mengantar banyak pelaku usaha lokal di KSB untuk naik kelas.
Kini, estafet pemberdayaan itu kian diperluas dan diperkokoh. Memasuki akhir tahun 2025, AMMAN menginisiasi program pemberdayaan UMKM dan menghadirkan gelombang baru melalui kolaborasi strategis bersama Mastercard yang diimplementasikan melalui Mercy Corps Indonesia lewat program Mastercard Strive. Melalui program inilah para pelaku usaha seperti Feti mendapatkan pendampingan intensif yang menyentuh lini digital dan tata kelola modern.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengungkapkan pendampingan yang konsisten ini bermula dari kajian mendalam terhadap realitas UMKM di KSB, di mana banyak produk kala itu masih dikelola secara konvensional tanpa arah pasar yang terukur.
”Akibatnya, banyak pelaku UMKM KSB belum mampu melihat potensi pasarnya agar produksinya menjadi terukur dan mendapatkan lebih banyak akses pasar,” ungkap Aji.
Priyo Pramono selaku Vice President Social Impact AMMAN menambahkan, kolaborasi berkelanjutan ini merupakan bagian integral dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN dengan fokus membangun fondasi ekonomi lokal yang tangguh dan berkelanjutan.
”Pengembangan UMKM adalah upaya AMMAN untuk mendukung pertumbuhan kewirausahaan di KSB agar UMKM lokal dapat tumbuh menjadi penopang ekonomi lokal sekaligus pendorong pariwisata daerah. UMKM di KSB memiliki banyak potensi, tetapi memerlukan pendampingan untuk peningkatan kapasitas pelaku usaha dan memperkuat ekosistem penunjang,” ujar Priyo.
Langkah strategis ini mendapat sambutan hangat dari pemerintah daerah. Suryaman, S.SIP selaku Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Sumbawa Barat, melihat sinergi ini sebagai momentum krusial.
”Digitalisasi dan akses permodalan adalah kunci utama agar UMKM kita dapat bersaing di pasar yang lebih luas hingga tingkat nasional dan global. Kami mendukung penuh program ini untuk mencapai dampak ekonomi yang signifikan dan berkelanjutan, khususnya bagi pelaku usaha perempuan,” tegas Suryaman.
Semangat kolaborasi lintas waktu dan sektor tersebut kini benar-benar mendarat di tangan yang tepat. Melalui kolaborasi AMMAN, Mastercard dan Mercy Corps Indonesia melalui program Mastercard Strive yang berjalan sejak akhir 2025, Feti mendapatkan ragam pembekalan, mulai dari onboarding ke platform Micromentor, edukasi literasi keuangan, hingga strategi pemasaran digital.

”Program itu banyak memberikan pembekalan seperti bagaimana mengelola keuangan, pemasaran produk, dan kemasan,” ujar Feti antusias.
Dari yang awalnya meraba-raba, Feti kini paham cara memisahkan kas pribadi dan keuangan usaha, mempercantik kemasan Tapir Barokah agar lebih tahan lama, hingga memasarkannya lewat platform digital. Buahnya langsung manis dirasakan, kapasitas produksinya kini melonjak hingga tiga kali lipat.
Hebatnya lagi, kebangkitan usaha Feti turut memutar roda ekonomi para peternak lokal di KSB. Pasokan susu segar yang ia butuhkan kini mendatangkan berkah tersendiri bagi para pemilik ternak sapi dan kerbau di sekitar desa, menciptakan ekosistem gotong royong yang saling menghidupkan.
Jauh belasan kilometer dari dapur Feti, gelombang kebangkitan serupa juga terpancar dari sudut desa yang berbeda. Di Desa Tana Kakan, Kecamatan Taliwang, Sus merajut asa lewat lapak kuliner tradisional sate kuda khas Sumbawa Barat atau lebih akrab disebut Sate Jaran oleh warga setempat.
Menariknya, apa yang disajikan Sus jauh dari kesan warung sate konvensional. Di saat kuliner sejenis kerap disajikan seadanya, Sus berani tampil beda dengan kemasan modern yang rapi dan profesional.
Daging Jaran (Kuda) pilihan yang diolahnya diperoleh langsung dari para peternak lokal setempat, memastikan kualitas kesegaran terbaik sekaligus menjaga tradisi kuliner daerah tetap lestari. Pada lembar kemasan yang dicetak apik, terselip sebuah slogan menggelitik, “Sekali Gigit Langsung Nendang”, sebuah strategi promosi cerdas yang langsung memikat mata pembeli.

Bagi Sus, pendampingan dari kolaborasi AMMAN, Mastercard dan Mercy Corps Indonesia melalui program Mastercard Strive menjadi napas baru yang membawa Sate Jaran miliknya melintasi batas wilayah sebagai oleh-oleh premium yang higienis.
”Dulu kami mengelola usaha seadanya, jalan apa adanya tanpa pembukuan yang jelas. Dengan adanya pendampingan ini, kami diajarkan banyak hal mulai dari cara mengatur keuangan yang benar, memperluas jangkauan pembeli lewat digital, hingga menjaga kualitas pelayanan,” tutur Sus dengan mata berbinar.
”Sekarang, setiap kali ada event besar, terutama bazar yang diadakan PT AMMAN, kami selalu diundang untuk berjualan sekaligus memamerkan Sate Jaran kemasan ini. Ini peluang luar biasa bagi kami untuk mengenalkan kuliner lokal ke tingkat yang lebih tinggi,” tambahnya bangga.

Kini, pesanan permen susu Feti tidak lagi sekadar berputar di lingkup tetangga desa, melainkan merambah lintas wilayah hingga kabupaten tetangga. Sementara Sate Jaran Sus melenggang anggun sebagai oleh-oleh favorit dalam berbagai hajatan besar.
Dari dapur sederhana Feti hingga lapak Sate Jaran Sus, denyut ekonomi kerakyatan berdetak lebih kencang, membuktikan bahwa ketekunan lokal yang disandingkan dengan kolaborasi yang tepat mampu melahirkan kemandirian sejati.
”Sekarang kami tahu ke mana arah langkah usaha ini, dan yang paling penting, kami didampingi untuk terus maju,” ungkap Feti dan Sus senada dalam asa.
Pada akhirnya, kisah Feti dan Sus adalah pengingat yang menghangatkan hati. Di balik megahnya deru industri pertambangan, kebahagiaan warga dan senyuman pelaku usaha kecil di akar rumput adalah bentuk pembangunan yang paling hidup.
Ketika tangan-tangan yang dulu gemetar karena ragu kini terampil menggenggam peluang digital, masa depan cerah bukan lagi angan-angan. Batas geografis desa runtuh seketika, dan dunia luar membuka pintu seluas-luasnya.
Sebab pembangunan sejati tidak hanya diukur dari tingginya menara atau megahnya infrastruktur, melainkan dari bagaimana ia menyalakan asa di kepala-kepala desa terpencil. Di mana setiap bungkus permen susu dari susu peternak lokal dan tusukan Sate Jaran terbaik kini menjelma menjadi mercusuar kecil, membuktikan bahwa ketekunan manusia yang dipertemukan dengan kepedulian yang tepat, akan selalu menemukan jalannya untuk menembus batas dan menerangi semesta. **
