Suara Sunyi dari Batu Hijau: Menenun “Saling Salingo” di Atas Rahim Tembaga

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Angin pegunungan membawa aroma khas di cakrawala Site Batu Hijau. Wangi rimbun Merbau pekat bersanding deru ritmis mesin hidrolik. Di bawah sana, bumi Kabupaten Sumbawa Barat menyingkapkan isinya. Ekskavator raksasa bergerak teratur, memahat dinding vertikal pada pit aktif sedalam ratusan meter. Dari rahim batuan itu, urat tembaga dikupas dan dikapalkan demi agenda besar dunia, transisi energi bumi.
Namun, hanya selemparan batu dari bibir lingkar tambang, kehidupan pedalaman tetap bergulir tenang. Seekor ayam hutan melompat santai di atas ranting sekunder yang mulai rapat. Sebuah pemandangan kontras yang hidup berdampingan.
Ada kedekatan dinamis antara kebutuhan industri global dan kerinduan bersahaja manusia lokal untuk tetap merawat ruang hidup mereka. Bagi masyarakat Tana Samawa, pertemuan dua kepentingan ini dijembatani oleh jangkar moral purba bernama Saling Salingo. Kearifan ini bukan sekadar pepatah tua upacara adat. Bagi Tau Samawa (orang Sumbawa), kata dasar saleng mengikat konsep timbal balik secara komunal, tulung saleng (saling menolong), satingi saleng (saling hormat), dan satotang saleng (saling mengingatkan). Spirit kebersamaan tersebut menjadi tali pengikat yang serupa dengan napas gotong royong masyarakat Sasak maupun Mbojo di bentang kepulauan NTB.
Di bawah langit Sumbawa Barat, kearifan ini yang bertransformasi menjadi kompas moral sekaligus cetak biru operasional. Ia menuntun kesadaran bahwa industri di atas rahim tembaga ini tidak berkelana sendirian. Ia bertumbuh bersama rona alam dan memulihkan kembali tanah tempatnya berpijak melalui kemitraan jujur dengan manusia di luar pagar.
Denyut Lanskap yang Bernapas
Di dalam wilayah operasional, nilai Saling Salingo mewujud nyata di meja kerja Jorina Waworuntu. Sebagai Head of Environment Department PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Jorina paham betul bahwa lingkungan hidup bukanlah sebaris kalimat kaku dalam dokumen AMDAL di lemari arsip, melainkan urusan dekat dengan keseharian, kejernihan air di fajar hari dan udara segar yang dihirup tenang.
Dua dekade silam, Jorina melangkah masuk ke wilayah kerja ini dengan seragam lapangan kaku. Kini, menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, di tengah kelanjutan pembukaan Fase 8 tambang Batu Hijau, laku satotang saleng saling mengingatkan untuk menjaga keseimbangan terasa kian penting.
“Dampak perubahan iklim nyata di depan mata kita, cuaca kian sukar ditebak,” ujar Jorina.
“Sistem secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa komitmen manusia di dalamnya. Itulah jiwa dari operasional kami.”
Komitmen itu mewujud pada metode concurrent reclamation. Ini adalah manifestasi teknis Saling Salingo, di mana perusahaan memulihkan lahan secara bertahap, beriringan dengan kegiatan penambangan yang terus berjalan. Catatan hingga akhir tahun 2025 menunjukkan total 859,61 hektare lahan telah dihijaukan kembali, termasuk capaian tahunan seluas 92,67 hektare sepanjang 2025. Memasuki pertengahan 2026, pemulihan ekosistem ini terus dilanjutkan dengan ritme konsisten.

Menjahit Tanah dengan Sains dan Anyaman Warga
Mengupas batuan bumi selalu menyisakan tantangan ilmiah yang menuntut ketelitian. Batuan dalam yang tersingkap membutuhkan penanganan khusus agar kualitas air permukaan tetap terjaga. Di sinilah prinsip tulung saleng (saling membahu) bergerak melintasi batas pagar industri, menghubungkan keahlian teknik dan peran masyarakat.
Kepala Teknik Tambang AMMAN, Wudi Raharjo, mengungkapkan bahwa penataan lereng bekas tambang dikunci menggunakan jaring sabut kelapa bernama coconet. Jaring pelindung bumi ini dirajut langsung oleh tangan-tangan pelaku UMKM lokal di lingkar tambang Sumbawa Barat melalui rantai ekonomi sirkular. Sabut kelapa yang awalnya hanya sisa domestik, kini diproduksi teratur oleh kelompok usaha desa sebagai penahan erosi alami.
Bagi Wudi, coconet anyaman warga ini adalah hamparan pelindung bagi benih yang baru disemai.
“Kami melakukannya secara terukur berbasis riset intensif. Penggunaan coconet krusial untuk menahan erosi akibat hujan sekaligus menjaga kelembapan agar benih tanaman penutup bisa tumbuh baik,” urai Wudi.
Kesungguhan ekologis ini diperkaya perspektif akademis dari Universitas Mataram (Unram). Keberhasilan pemulihan lingkungan sejati terjadi ketika struktur fisik dan kimia tanah reklamasi mampu mengundang kembali fauna renik alami seperti Collembola. Makhluk kecil pembentuk humus inilah penanda bahwa ekosistem hutan telah kembali hidup mandiri. Masukan ilmiah kampus inilah yang memandu AMMAN menyempurnakan metode pemulihan ekosistemnya, bukti nyata bahwa industri modern bersedia berkaca pada jernihnya sains.

Pengawasan Langit dan Jantung Semai Tapak
Penerapan Saling Salingo sebagai kesadaran bersama juga merambah ke lini energi dan teknologi modern. Sejak 2022, hamparan panel surya PLTS berkapasitas 26,8 MWp telah memangkas emisi hingga 34.794 ton CO₂e sepanjang 2025. Langkah ini diperkuat pembangunan Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 450 MW berbahan bakar gas sebagai jembatan transisi energi, sejalan pengoperasian fasilitas desalinasi agar operasional industri tidak mengurangi sumber air tawar warga.
Di atas langit Sumbawa Barat, teknologi satelit memantau perubahan rona visual lahan menggunakan data indeks vegetasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Presisi teknologi ini menjadi bentuk modern dari satotang saleng, memastikan setiap perkembangan area hijau di lapangan tercatat akurat dan transparan.
Namun, seluruh kecanggihan teknologi itu bermula dari sentuhan tangan di tanah basah Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang. Di bedeng semai Community Nursery, Adel Brigita mendedikasikan waktunya merawat bibit kehidupan. Ujung jemarinya tampak sedikit menghitam oleh pupuk kompos, tanda kerja keras yang tulus.
“Dahulu ada rasa penasaran, apakah lahan bekas tambang bisa hijau kembali,” kenang Adel.
“Tetapi melalui prinsip Saling Salingo, kami bergerak. Sekarang kelompok kami menjadi bagian penting dari penyediaan bibit untuk reklamasi.”
Sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026, produksi pembibitan ini berjalan stabil di kisaran 250.000 hingga 300.000 bibit per tahun. Rata-rata 50.000 bibit dipasok setiap bulan oleh kelompok masyarakat untuk menghidupkan kembali area hulu.
Lebih dari 99 jenis varian asli (native species) Sumbawa Barat dibudidayakan di sini. Pohon kayu keras seperti Ipil (Intsia bijuga) tumbuh berdampingan dengan Suren, Sentul, Binong, serta varietas bernilai ekonomi seperti Aren, Rotan, dan Kemiri. Fokus pada tanaman lokal dan pohon buah ini adalah bagian dari sakiki saleng, berbagi ruang hidup agar satwa Tana Samawa dapat kembali menemukan habitatnya.
Pulang ke Rahim Alam
Konsistensi yang terjaga dari tingkat tapak ini mengantarkan AMMAN meraih predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup RI.
Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, menekankan pentingnya kolaborasi kultural ini sebagai bagian dari perjalanan panjang menciptakan nilai berkelanjutan bagi masa depan daerah.
“Bagi kami, setiap cerita di lapangan adalah langkah nyata menuju perubahan yang bermakna. Tradisi lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan energi utama bagi program pemberdayaan dan pemulihan lingkungan yang inklusif,” ungkap Kartika.
Apresiasi senada datang dari pemerintah daerah. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB menegaskan bahwa ketangguhan ekologi NTB membutuhkan sinergi utuh. Keseimbangan lingkungan akan tercipta secara berkelanjutan melalui keterlibatan aktif warga dan kemitraan lokal yang kokoh untuk mengawal keanekaragaman hayati.
Pada akhirnya, seluruh infrastruktur megah dan teknologi presisi ini kembali pada satu esensi dasar yakni hubungan antar manusia.
Bagi Ahmad (56), warga dari Sekongkang, Saling Salingo adalah tentang warisan yang baik untuk masa depan. Berdiri di perbukitan seberang sembari membenahi letak kain sarungnya yang ditiup angin, matanya yang teduh menatap vegetasi reklamasi yang mulai menutup dinding atas tambang. Suaranya terdengar tenang menyambut senja.
“Zaman memang terus maju, dan kami tahu material di dalam bumi ini dibutuhkan dunia,” kata Ahmad pelan.
“Kami hanya ingin memastikan bahwa kelak, hutan hijau ini menyambut kami kembali, dan mata air kami tetap mengalir jernih.”

Saat matahari condong ke barat, bayang-bayang ekskavator memanjang di area pit Batu Hijau. Nilai dari sebuah industri pertambangan pada akhirnya tidak hanya diukur dari volume konsentrat tembaga yang dikapalkan. Ia juga tercermin pada selembar daun Merbau yang berhasil tumbuh di atas lahan yang telah dipulihkan, pada tanah gembur yang melahirkan kembali kehidupan alami, dan pada rasa optimis warga lingkar tambang dalam menyambut hari esok.
Pengolahan sumber daya untuk peradaban modern berjalan selaras dengan pemeliharaan ekologi lokal. Hutan yang tumbuh merapat di tebing tambang menjadi sebuah bukti, bahwa di hadapan alam, manusia selalu menemukan jalan untuk menjaga rumah mereka sendiri.