Suara Sunyi dari Batu Hijau: Menenun “Saling Salingo” di Atas Rahim Tembaga

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Puncak Bukit Batu Hijau kini menggemakan deru mesin transisi energi dunia, bersahutan dengan nyanyian angin di rimbunnya jajaran pohon Merbau. Tiga dekade silam, wilayah di Kabupaten Sumbawa Barat ini adalah rimba purba yang sunyi. Kini, ekskavator raksasa memahat perut bumi demi melahirkan tembaga logam krusial bagi tulang punggung peradaban modern dan elektrifikasi masa depan.
Namun, hanya selemparan batu dari tebing pit aktif yang menganga sedalam ratusan meter, kehidupan terus berdenyut dalam ritme yang berbeda. Kepakan sayap ayam hutan mendarat takzim di atas hamparan kanopi sekunder yang mulai rapat. Dualitas kontras ini mewakili tarikan urat saraf antara ambisi ekstraksi global dan batas kesetiaan menjaga keseimbangan alam.
Bagi masyarakat Sumbawa Barat, leluhur mereka telah lama menitipkan sebuah suluh hidup melalui pusaka filosofis bernama Saling Salingo. Ia bukan sekadar pepatah, melainkan ikhtiar kolektif untuk saling menjaga, saling mengingatkan, dan bertindak selaras demi keselamatan bersama.
Semangat ini memastikan tidak ada satu jiwa pun, baik raga manusia maupun rona alam, yang telantar di tengah derasnya arus modernisasi. Di bawah langit Tana Sumbawa Barat, masyarakat menegaskan bahwa kearifan lokal inilah kompas moral sekaligus tuntutan mereka bagi pemulihan tanah kelahirannya yang tengah digarap industri.
Titik Pandang dari Garis Depan
Bagi Jorina Waworuntu, lingkungan hidup bukanlah sebaris kalimat kaku yang jamak tertuang dalam dokumen AMDAL, lembar regulasi, atau tumpukan laporan operasional. Lingkungan adalah ruang yang bernapas. Ia hadir dalam gemercik air yang membasuh wajah di pagi hari, udara bersih yang dihirup dalam-dalam, hingga hamparan tanah tempat kaki berpijak.
Lebih dari dua dekade silam, Jorina melangkah masuk ke Site Batu Hijau. Waktu berlalu, namun prinsipnya tetap ajek, menjaga alam adalah soal merawat denyut kehidupan itu sendiri.
Kini, sebagai Head of Environment Department PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Jorina menahkodai tim yang berdiri di garis depan untuk memastikan raksasa industri ini patuh pada hukum negara, sekaligus menantang diri melampaui standar yang ada demi menjawab ekspektasi besar masyarakat di luar pagar.

Di tengah deru mesin yang tak pernah lelap, refleksi Jorina justru bergaung lebih nyaring menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Ia bukan sekadar berbicara tentang target, melainkan tentang kewaspadaan. Saat menatap hamparan tebing yang mulai menghijau, suaranya melunak namun memancarkan ketegasan.
“Dampaknya nyata di depan mata. Cuaca kian sukar ditebak, curah hujan ekstrem datang, lalu disusul kemarau yang membakar lebih lama,” ujarnya lirih sembari menambahkan,
“Sistem secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa orang-orang yang memiliki komitmen. Itulah jiwa dari operasional kita.”
Memulihkan Luka Bumi dengan Sains
Komitmen ini tidak berhenti pada retorika. Desakan komunal agar bumi yang dikupas segera dipeluk kembali mendorong penerapan concurrent reclamation, sebuah ikhtiar memulihkan lahan secara bertahap.
Sampai akhir tahun 2025, total luasan lahan yang berhasil dihijaukan kembali mencapai 859,61 hektare, dengan capaian tahunan terbesar sepanjang sejarah Batu Hijau seluas 92,67 hektare pada tahun 2025. Berlanjut hingga pertengahan 2026, peta jalan pemulihan ekosistem terus dikebut pararel dengan operasional tambang.
Angka-angka ini adalah manifestasi pemahaman bahwa reklamasi bukanlah sekadar menanam pohon lalu ditinggal pergi. Apalagi ketika kulit bumi dikupas, batuan dalam tersingkap dan berisiko melahirkan zat asam.
Menjawab tantangan tersebut, Site Director sekaligus Mine Technical Manager dan Kepala Teknik Tambang (KTT), Wudi Raharjo , mengungkapkan bahwa penataan lahan menuntut ketelitian ilmiah.
“Kami melakukannya serius berbasis riset intensif. Targetnya adalah membentuk lereng yang stabil dan mengunci batuan agar tidak memengaruhi kualitas air permukaan,” urai Wudi.
AMMAN secara konsisten menggunakan coconet (jaring sabut kelapa) dan cocopeat untuk mengendalikan erosi serta mendukung reklamasi lahan bekas tambang yang curam. Guna memastikan keberlanjutan, AMMAN membangun rantai pasok sirkular ekonomi hijau bersama para pelaku UMKM lokal di lingkar tambang Sumbawa Barat. Sabut kelapa yang awalnya limbah domestik, kini diproduksi massal oleh kelompok usaha mikro desa menjadi rajutan jaring pelindung bumi.
Bagi Wudi, jaring hasil anyaman warga ini bukan sekadar penutup lahan, melainkan “ranjang” penyelamat benih di lereng curam.
“Penggunaan coconet adalah langkah krusial untuk menahan erosi mekanis sekaligus menjaga kelembapan tanah agar benih tanaman penutup bisa berkecambah aman dari sapuan hujan,” tegasnya.
Bagi masyarakat, metode ini harus divalidasi sains yang jujur. Terkait hal ini, tim peneliti Universitas Mataram (Unram) dalam naskah akademisnya memberikan catatan kritis di mana hijau di permukaan sering kali menipu jika tanah di bawahnya masih kaku. Suksesi ekologis yang jujur baru terjadi ketika struktur fisik dan kimia tanah reklamasi mampu mengundang kembali fauna tanah alami seperti Collembola. Kritik ini bukan angin lalu, melainkan kompas bagi AMMAN untuk menyempurnakan metode pemulihan ekosistemnya.

Transisi Energi dan Pengawasan Langit
Transformasi di Batu Hijau tak hanya menyentuh permukaan tanah, tetapi juga cara energi dipanen. Sejak 2022, PLTS berkapasitas 26,8 MWp memangkas emisi hingga 34.794 ton CO₂e sepanjang tahun 2025. Langkah ini diperkuat pembangunan Combined Cycle Power Plant (CCPP) berkapasitas 450 MW berbahan bakar gas sebagai jembatan menuju profil operasional rendah karbon.
Paralel dengan energi, manajemen air dikelola ketat melalui fasilitas desalinasi untuk mengurangi ketergantungan pada air tawar warga. Di atas langit, satelit memantau perubahan rona visual lahan menggunakan data Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Presisi teknologi ini adalah bentuk lain dari Saling Salingo, memastikan setiap jengkal pemulihan berjalan sesuai standar kepatuhan lingkungan.
Kemitraan Sirkular dan Pengakuan Pusat
Integrasi teknologi operasional dan kearifan lokal menemukan wujud paling puitis pada tangan warga. Di Desa Tongo, Kecamatan Sekongkang, aroma tanah basah dan kesibukan menyambut siapa pun yang datang ke bedeng semai.
Di sana, Adel Brigita, warga lokal yang mendedikasikan jemarinya untuk merawat kehidupan, tampak menyortir bibit dengan teliti. Baginya, angka produksi hanyalah angka jika tidak dibarengi rasa memiliki. Dengan tatapan teduh, ia mengenang masa saat tanah ini dianggap tak punya harapan.
“Dahulu kami ragu lahan bisa pulih. Tetapi lewat prinsip Saling Salingo, kami ikut bergerak dengan jemari sendiri. Sekarang, kelompok kami menjadi jantung dari suplai bibit reklamasi,” ujarnya.
Sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026, target produksi Community Nursery tetap berjalan stabil di kisaran 250.000 hingga 300.000 bibit tanaman per tahun. Kelompok masyarakat di lingkar tambang secara rutin menyuplai rata-rata 50.000 bibit tanaman setiap bulannya.
Mengacu pada data keberlanjutan, setelah rekor tertinggi 303.381 bibit, suplai konstan di 2025-2026 diproyeksikan menyumbang akumulasi lebih dari 400.000 bibit untuk menghijaukan kembali area hulu.
Keberhasilan Community Nursery terletak pada dedikasi membudidayakan lebih dari 99 jenis varian bibit tanaman asli (native species) Sumbawa Barat. Setiap bibit dikategorikan ke tiga fungsi utama.
Kelompok pertama adalah tanaman kayu keras lokal seperti Ipil (Intsia bijuga) spesies yang dalam daftar merah IUCN mendekati kepunahan bersama Suren, Sentul, dan Binong sebagai pilar hutan sekunder. Kelompok kedua adalah Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti Aren, Rotan, dan Kemiri yang memiliki nilai ekonomi. Kelompok ketiga adalah tanaman konservasi seperti pohon penyimpan air dan penghasil buah lokal untuk memulihkan rantai makanan fauna endemik.
Fokus pada tanaman slow growing ini adalah tentang membangun rumah agar satwa Sumbawa bisa pulang. Program ini terbukti menjaga kemandirian suplai bibit, sekaligus memastikan perputaran ekonomi hijau berkelanjutan bagi Desa Sekongkang dan Desa Tongo.
Komitmen yang terjaga dari tingkat tapak ini akhirnya berbuah pengakuan pusat. Kementerian Lingkungan Hidup RI menganugerahkan predikat PROPER Hijau kepada AMMAN. Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, memaknai ini sebagai perjalanan panjang.
“Setiap inisiatif dirancang untuk menciptakan nilai bersama bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB yang baru dilantik pada April 2026, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi, S.T., M.Si, dalam amanat koordinasi daerah menyimpulkan bahwa ketangguhan ekologi terwujud berkat keterlibatan aktif warga. Penghargaan ini membuktikan bahwa berkat dorongan kuat masyarakatnya melalui prinsip kemitraan lokal, dunia usaha di NTB berkontribusi nyata pada pelestarian keanekaragaman hayati nasional.

Pencerahan di Batas Cakrawala
Bagi Jorina, yang saban tahun tak absen mencangkul tanah untuk menanam pohon secara mandiri, semua infrastruktur megah ini kembali pada satu esensi dasar: manusia. Baginya, aksi iklim bukan tentang menunggu kebijakan makro, melainkan tindakan kecil yang konsisten.
“Mematikan lampu yang tak terpakai, menghemat air, memilah sampah, dan tidak abai pada prosedur di area kerja,” tuturnya filosofis sembari menatap cakrawala.
Saat matahari condong ke barat, bayang ekskavator memanjang di dinding pit Batu Hijau. Kejayaan industri tidak dihitung dari seberapa dalam silinder tembaga digali, melainkan terkunci pada selembar daun Merbau yang tumbuh, pada rahim tanah gembur yang melahirkan kehidupan renik, dan pada senyum warga yang merajut hari esok tanpa rasa cemas.
Teknologi modern yang beroperasi di dalam pagar dan kearifan kuno Saling Salingo yang dihidupkan masyarakat di luar pagar berjalan beriringan. Sekeping tembaga bagi peradaban global tidak harus dibayar dengan kepunahan masa depan lokal. Hutan yang merapat di tepi tebing menganga adalah saksi bisu di mana manusia mampu melangkah pulang menuju pelukan alam, menjaga agar bumi Sumbawa Barat utuh dan menyembuhkan dirinya sendiri.
