Dari Altar Rinjani hingga Lembah Brang Ene: Merajut Kemandirian di Rahim Wisata Kerakyatan

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Di bawah bayang Rinjani yang megah, matahari Sembalun tidak sekadar terbit. Ia membangunkan aroma tanah yang basah dan wangi bawang yang getir. Di atas meja kayu yang lapuk, jemari Saehun (45) liris membalikkan siung bawang putih. Tak ada warna putih di sana. Di tangan perempuan ini, lewat laku sabar fermentasi berhari-hari, bawang itu telah legam, kenyal, dan mengecap rasa manis yang getir.

Black garlic, orang kota menyebutnya. Bagi Saehun, komoditas ini adalah jalan sunyi melawan takdir harga panen yang kerap diinjak tengkulak. Ia mengenang masa sulitnya,

“Dulu, saat panen raya tiba, bawang kami seperti tak berharga. Bumi memberi melimpah, tetapi kantong kami tetap kering.”

Matanya menatap kabut yang mengurung lembah. Namun kini, duka itu menguap. Komoditas yang dulunya murah itu merayap menembus pasar global, memikat dompet para pelancong mancanegara di kaki gunung.

Jemari Ibu Saehun bersama para perempuan tangguh Sembalun bergerak liris di atas lantai tanah, memilah siung-siung bawang putih (garlic) pilihan di bawah asuhan program GUMI SERI. (Foto Dok, Sutan Zaitul Ikhlas)

Lembah Sembalun sedang bertaruh dengan waktu, merajut modernitas di atas alas tradisi. Di sudut lain, Dwi Ariska duduk bersila di balik alat tenun kayu tradisional. Suara ketukan kayu—tak-tek, tak-tek—terdengar seperti detak jantung desa yang purba. Di jarinya, benang katun dipilin membentuk motif garis khas Sembalun. Dwi tidak sedang menjual kain semata, melainkan mengulurkan sepotong ingatan. Ketika para pendaki turun dari puncak Rinjani dengan lutut gemetar, Dwi mengajak mereka singgah untuk belajar memilin benang sendiri.

“Kain ini punya nyawa,” tutur Dwi lembut.

“Jika mereka ikut menenunnya, walau hanya satu senti, mereka membawa pulang sebagian dari jiwa Rinjani. Ada cinta di dalamnya.”

Gagapnya Jiwa Agraris di Gerbang Industri Jasa

Transisi dari mencangkul tanah hingga menyambut tamu asing tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Selama berabad-abad, masyarakat Lombok Timur baik yang menetap di dinginnya pegunungan Sembalun maupun yang terpanggang angin asin di pesisir Jerowaruad alah manusia konvensional. Mereka akrab dengan ketidakpastian cuaca, tetapi gagap menghadapi logika pariwisata.

Mengubah pola pikir petani subsisten menjadi penyedia jasa memerlukan lompatan psikologis yang rawan memicu gegar budaya.Realitas lapangan ini diakui Dinas Pariwisata Lombok Timur. Mereka melisankan tantangan bahwa keindahan alam dari kemegahan Rinjani hingga gugusan gili akan terasa hampa tanpa kesiapan manusianya. Tugas terberat pemerintah adalah mentransformasi mentalitas masyarakat menjadi pelaku industri jasa yang visioner.

Di tengah perjuangan itulah, kolaborasi multipihak hadir bagai oase yang mempercepat peta jalan pariwisata berkelanjutan.PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Forward Indonesia mengambil peran aktif sejak Januari 2025 melalui gerakan GUMI SERI (Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau). Intervensi perusahaan merambah ke perubahan radikal pada rantai pasok dan perluasan komoditas lokal ke panggung internasional.

AMMAN membedah anatomi bisnis warga menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC). Hasilnya, produk lokal tidak lagi dipandang sebatas hasil bumi mentah. Melalui standardisasi mutu dan digitalisasi pemasaran, layanan homestay, pangan olahan, serta kriya tenun bertransformasi menjadi produk premium.

Bawang hitam (black garlic) hasil kurasi ketat ini kini merambah pasar Asia Timur dan Asia Tenggara, seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Taiwan, tempat kesadaran akan produk kesehatan organik berbasis kearifan lokal sedang tumbuh pesat.

Niat baik ini ditegaskan oleh Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, sebagai bentuk pertanggungjawaban masa depan. AMMAN tidak ingin sekadar meninggalkan jejak operasional tambang, melainkan warisan peradaban ekonomi yang tangguh, tempat kearifan lokal dikelola profesional dan bermartabat.

Sentuhan nyata program ini dirasakan Sri Azizah, pengelola Homestay Tapak Rinjani yang kini memproduksi jajanan kering berkemasan profesional. Sementara di tengah sawah, Desi Wida Hadiana mendirikan kedai kopi mini. Mengaplikasikan ekonomi sirkular, Desi meramu ampas kopi menjadi sabun organik yang dipasarkan ke eco-resort di luar Lombok melalui kurasi rantai pasok hijau.

Membawa Nyala Api GUMI SERI ke Brang Ene

Ikhtiar kemandirian berbasis komunitas ini rupanya memiliki sayap. Nyala api dari pola manajemen modern ini memantik perhatian dari tanah seberang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Melalui program belajar lapangan yang digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) KSB, intisari keberhasilan tata kelola itu diserap untuk dibawa pulang.

Ketua PWI KSB, Khairil W. Zakaria, menegaskan pers memiliki tanggung jawab moral untuk menyebarluaskan formula pemberdayaan yang sukses agar dapat direplikasi di daerah sendiri.Baginya, model inklusi Sembalun adalah kepingan jawaban mengawal program Wisata Kerakyatan di Kecamatan Brang Ene.

“Kami turun ke lapangan bukan sekadar mencari berita, melainkan menangkap esensi bagaimana menyusun anatomi bisnis warga yang tangguh. Tugas rekan-rekan wartawan kini menyuarakan dan mengawal replikasi ini agar program daerah tidak macet sebagai slogan,” ungkap Khairil mantap.

Langkah taktis ini mewujud menjadi amunisi segar guna menyokong visi strategis KSB Maju Luar Biasa. Konsep ekonomi pariwisata tidak lagi digerakkan eksklusif dari atas, melainkan berakar kuat dari rahim ekonomi kerakyatan, menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, bukan penonton pariwisata elitis.

Sinergi Pemkab KSB: Menjadikan Rakyat Aktor Utama

Gayung bersambut, komitmen pers diapresiasi penuh jajaran birokrasi Sumbawa Barat. Pemerintah Daerah melalui Sekretaris Dinas Pariwisata KSB, Rahadian, memandang sinergi ini sebagai momentum emas untuk mengakselerasi potensi agrowisata dan wisata alam di Kecamatan Brang Ene yang tengah dipersiapkan matang menuju pembukaan akbarnya.

“Kawasan Wisata Kerakyatan Brang Ene dijadwalkan resmi dibuka pada November 2026, bertepatan dengan momentum sakral perayaan Hari Lahir Kabupaten Sumbawa Barat,” ungkap Rahadian.

Ibu Saehun (tengah) memperlihatkan produk Black Garlic premiumnya di hadapan Sekretaris Dinas Pariwisata KSB, Rahadian, dan perwakilan manajemen AMNT. Dalam potret ini, tersimpul sebuah dialog antara visi korporasi, keberpihakan birokrasi, dan keteguhan hati warga lokal.

Pemkab KSB pun mengebut pembangunan jalur jogging track sepanjang 5 kilometer yang membelah keasrian alam di sekitar kawasan Bendungan Tiu Suntuk, lengkap dengan bungalo estetik. Sesuai esensi pariwisata kerakyatan, fasilitas check point di sepanjang jalur tersebut akan difungsikan sepenuhnya sebagai lapak produktif bagi pelaku UMKM lokal untuk memasarkan produk pertanian, kuliner, dan kerajinan rakyat.

Perjuangan mengubah wajah Brang Ene kian bertenaga karena langkah pers tidak berjalan sendirian. Rombongan studi komparatif tersebut diikuti beberapa kepala desa dari wilayah Brang Ene yang mengamati langsung cara warga kaki Rinjani mengelola ekosistem wisatanya.

Salah satunya adalah Kepala Desa Manemeng, Jayadi, S.H. Ia berkomitmen segera mengadopsi cetak biru wisata Sembalun pada aspek-aspek lokal yang dianggap cocok di desanya.Bagi Jayadi, ketersediaan fasilitas megah di Tiu Suntuk tidak akan bermakna maksimal tanpa adanya transformasi kapasitas spiritual dan mental warga. Ia menekankan bahwa infrastruktur hanyalah wadah fisik yang mati. Hal terpenting menjelang pembukaan November nanti adalah mengubah pola pikir (mindset) masyarakat dari kultur agraris konvensional agar mereka siap mengelola dan menjadi aktor utama di panggung wisata kerakyatan ini.

Menenun Masa Depan yang Inklusif

Matahari perlahan tenggelam di balik punggung Rinjani, menyisakan semburat jingga dan siluet gunung yang kokoh berwibawa. Di Lembah Sembalun yang dingin, angin malam mulai menusuk kulit. Namun, kehangatan dari sebuah harapan baru kini menjalar melintasi selat, menggetarkan nadi-nadi pembangunan di tanah Brang Ene, Sumbawa Barat.

Rantai pasok baru sedang ditenun. Di bawah kaki Bendungan Tiu Suntuk, sepanjang tapak jogging track yang mulai membentang, detak ekonomi baru sedang disemai. Keuangan para pelaku usaha kecil tidak lagi menguap dalam rumpang ingatan yang kabur, melainkan tercatat rapi demi masa depan yang mandiri.

Dari pekarangan rumah Saehun di Sembalun hingga gerak kolaboratif PWI, jajaran kepala desa, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat di Brang Ene, sebuah cetak biru pariwisata masa depan sedang diwujudkan. Menyambut November 2026, masyarakat lokal menolak menjadi penonton di tengah deru kemajuan tanah kelahiran sendiri. Di bawah langit Nusa Tenggara Barat, benang-benang harapan itu kini telah ditenun jalin-menjalin menjadi selembar kain peradaban baru yakni sebuah ekonomi yang mandiri, tangguh, inklusif, dan maju luar biasa.