Saat Permen Susu dan Sate Jaran Menemukan Jalan Pulang

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Pagi baru saja menyapa Desa Tapir, Kecamatan Seteluk, Sumbawa Barat, ketika Feti Puspita Sari menyalakan tungku di ruang produksi sederhana miliknya. Panci besar berisi susu segar dipanaskan perlahan. Tangannya terus mengaduk cairan yang kian mengental, sementara aroma susu bercampur wangi karamel memenuhi ruangan. Di sudut ruangan, puluhan kemasan menunggu berpindah ke tangan pembeli.
Susu segar dari peternak lokal itu diolah Feti menjadi permen bercita rasa manis gurih khas Tapir Barokah. Produk rumahan itu perlahan tumbuh menjadi salah satu buah tangan daerah. Slogan “Manisnya Ngangenin” menjadi penanda yang melekat pada produk sekaligus rasa yang ingin dibawa lebih jauh dari Desa Tapir.
Bagi masyarakat Sumbawa Barat, mengolah susu murni menjadi permen bukan hal baru. Dalam bahasa Sumbawa, permen susu dikenal sebagai Permen Jadi, “permen” berarti permen, sedangkan “jadi” berarti susu. Kudapan ini telah menjadi bagian dari warisan kearifan lokal yang mengakar sejak lama, bukan sekadar camilan, tetapi juga olahan susu yang menyimpan kandungan nutrisi seperti kalsium dan protein alami.
Susu dimasak perlahan hingga kadar air berkurang. Cairan encer berubah pekat, lalu menghasilkan tekstur kenyal dengan rasa khas. Proses sederhana itu membutuhkan ketekunan agar cita rasa tetap terjaga.
Bagi Feti, merawat cara pengolahan berarti menjaga jejak kuliner Sumbawa Barat tetap hidup di tengah perubahan zaman. Di balik setiap rasa, ada rantai yang lebih panjang, susu peternak, tangan pengolah, resep yang diwariskan, dan keberanian membawa produk dapur desa ke pasar yang lebih luas.
“Dari tungku sederhana, sebuah warisan menemukan jalan baru, tetap menjaga rasa sambil membuka pintu penghidupan.”
Namun perjalanan Tapir Barokah tidak selalu mudah. Keterbatasan modal, kemasan sederhana, dan persoalan legalitas pernah membuat usaha Feti nyaris berhenti.
“Saya pernah berada di titik hampir menyerah. Produknya sudah punya cita rasa yang saya yakini, tetapi rasanya seperti berjalan di tempat. Kemasan masih sangat sederhana, modal hanya cukup menjaga usaha tetap berputar, sementara izin edar dan pengelolaan usaha masih menjadi pekerjaan yang belum selesai,” kenang Feti.
Pengalaman Feti memperlihatkan bahwa kualitas rasa saja belum cukup untuk membawa sebuah usaha naik kelas. Tata kelola, legalitas, kemasan, dan akses pasar ikut menentukan kemampuan produk lokal bertahan dan berkembang.
Dari pengalaman satu usaha rumahan, terbuka gambaran yang lebih besar tentang struktur ekonomi Sumbawa Barat yang masih sangat bergantung pada pertambangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumbawa Barat, sektor pertambangan bijih logam dalam beberapa tahun terakhir menyumbang sekitar 80 hingga 85 persen PDRB, sementara seluruh sektor nonpertambangan berada pada kisaran 15 hingga 20 persen.
Ketika pertambangan dikeluarkan dari penghitungan, sektor pertanian dan perikanan menjadi penopang utama. Sementara perdagangan, jasa, serta penyediaan akomodasi dan makan minum menyumbang 21,71 persen dari PDRB nonpertambangan.
Di luar sektor ekstraktif, terdapat ruang ekonomi yang masih terbuka lebar. Lebih dari 8.000 UMKM tumbuh di berbagai pelosok Sumbawa Barat, membawa produk yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekaligus menyimpan peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Namun, rasa dan identitas perlu berjalan bersama kemasan, higienitas, legalitas, tata kelola, serta kemampuan menjangkau konsumen.
Kebutuhan memperkuat kemampuan usaha kemudian dijawab melalui pendampingan. Sejak 2021, PT Amman Mineral Nusa Tenggara atau AMMAN menggandeng Narasa Indonesia melalui program SINERGI dan SELARAS untuk mendampingi 32 UMKM, mulai dari identitas produk, strategi pemasaran hingga tata kelola usaha.
Upaya itu diperluas melalui kolaborasi AMMAN dan Mastercard yang dilaksanakan Mercy Corps Indonesia melalui program Mastercard Strive untuk memperkuat kemampuan dan daya saing pelaku usaha lokal.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menegaskan pentingnya kesinambungan pendampingan.
“Pendampingan bukan sekadar memberikan fasilitas, melainkan membantu pelaku usaha membangun fondasi yang lebih kuat agar siap berkembang dan mampu menghadapi pasar yang terus berubah,” ujar Aji.
Penguatan ekosistem UMKM juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan, Suryaman, menilai digitalisasi dan akses permodalan penting untuk membuka pasar lebih luas.
“Digitalisasi dan akses permodalan bukan lagi pilihan, melainkan kunci utama agar UMKM kita dapat melompat lebih tinggi dan bersaing di pasar yang lebih luas hingga tingkat nasional dan global,” tegas Suryaman.
Bagi Feti, pendampingan mengubah cara mengelola usaha. Pembukuan ditata, keuangan usaha dipisahkan dari rumah tangga, kemasan diperbarui, dan pemasaran mengikuti kebiasaan konsumen.
Kapasitas produksi yang sebelumnya sekitar 200 bungkus per bulan kini menembus lebih dari 400 bungkus. Pertumbuhan produksi ikut menggerakkan mata rantai di belakangnya. Kebutuhan susu meningkat dan memberi peternak lokal permintaan yang lebih pasti, sementara tambahan produksi membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.
Permen susu Tapir Barokah pun mulai menemukan pembeli di luar daerah. Konsumen dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengenalnya sebagai buah tangan yang membawa rasa khas Sumbawa Barat dalam kemasan lebih praktis. Dari tangan konsumen, produk itu melanjutkan perjalanan keluar daerah, membawa serta cerita kecil dari desa tempat ia dibuat.
Dari Rasa Menjadi Rantai Penghidupan
Belasan kilometer dari Desa Tapir, perjalanan serupa dirajut Sus di Desa Tana Kakan, Kecamatan Taliwang. Jika Feti mengolah susu menjadi permen, Sus memilih Sate Jaran, kuliner tradisional yang selama ini lebih dikenal sebagai hidangan untuk disantap langsung.

Bagi masyarakat Sumbawa Barat dan Sumbawa, daging jaran merupakan bagian dari tradisi kuliner turun temurun. Dagingnya digemari dan dikenal memiliki protein tinggi, menambah stamina, serta relatif rendah lemak dibandingkan sejumlah daging ternak lainnya.
Sus melihat peluang membawa cita rasa itu keluar dari meja makan dan menjadikannya buah tangan tanpa kehilangan karakter asli. Daging jaran dipotong, diracik, lalu dibumbui rempah sebelum diolah.
Namun, menjadikan sate sebagai buah tangan untuk perjalanan jauh bukan perkara sederhana. Pada tahap awal, Sus harus berulang kali menguji cara pengolahan dan pengemasan untuk menemukan formula yang tepat. Ia perlu memastikan daging tetap enak, bumbu tidak berubah, tekstur terjaga, dan produk tetap higienis ketika dibawa keluar daerah. Dari percobaan demi percobaan itulah Sate Jaran Sus akhirnya menemukan bentuk yang lebih siap dibawa sebagai buah tangan.
Daging jaran pilihan dari peternak lokal diracik dengan rempah berkarakter kuat. Aroma bumbu meresap sebelum produk dikemas secara higienis. Slogan “Sekali Gigit Langsung Nendang” menjadi penanda rasa sekaligus kedekatan produk dengan selera konsumen.
Sus kemudian menata pembukuan, mempelajari pemasaran digital, dan memanfaatkan bazar UMKM yang difasilitasi AMMAN untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Permintaan meningkat dari 4 hingga 6 kilogram daging jaran per hari menjadi sekitar 10 kilogram pada momen keramaian. Peternak memperoleh pasar lebih pasti, sementara warga sekitar ikut mendapat kesempatan kerja.

Sate Jaran Sus pun mulai dikenal sebagai buah tangan yang lebih mudah dibawa. Selain dinikmati masyarakat Sumbawa Barat, produk ini juga banyak digemari warga dari luar daerah, terutama Kabupaten tetangga, Sumbawa.
Ketika produk tradisional masuk ke ruang pamer dan pasar yang lebih luas, rasa yang semula hadir di meja makan memperoleh kesempatan bertemu konsumen dari tempat berbeda. Di balik satu kemasan, ada rantai yang saling menguatkan. Daging harus tersedia dari peternak, bahan baku dipilih dengan cermat, proses dijaga higienis, dan pesanan dilayani tepat waktu. Pertumbuhan satu usaha ikut menggerakkan peternak, pengolah, pekerja, hingga rumah tangga di sekitarnya.
“Saat rasa lokal menemukan pasar, yang tumbuh bukan hanya penjualan, tetapi juga mata rantai kehidupan yang menopangnya.”
Feti dan Sus datang dari komoditas berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi. Susu dan daging jaran bergerak dari bahan pangan menjadi produk yang membawa cita rasa, identitas, dan nilai ekonomi dari desa ke pasar.
Perjalanan keduanya menunjukkan bahwa hilirisasi tidak selalu berbentuk pabrik besar. Di tingkat masyarakat, hilirisasi dapat dimulai dari memberi nilai tambah pada bahan lokal, memperbaiki mutu, menjaga higienitas, memperkuat kemasan, lalu membawa produk ke pasar dengan nilai lebih tinggi.
Pariwisata dan pertumbuhan ekonomi Sumbawa Barat membuka ruang baru bagi produk lokal. Buah tangan tidak lagi sekadar pelengkap perjalanan, tetapi menjadi cara membawa pulang sebagian identitas daerah. Yang dibawa pulang bukan hanya permen atau Sate Jaran. Ada aroma susu yang berubah menjadi karamel, rempah yang melekat pada daging, tangan yang mengaduk dan meracik, peternak yang memasok bahan baku, serta ketekunan menjaga resep sambil mengikuti zaman.
Pada akhirnya, rasa adalah memori. Selama tangan masih mau mengaduk, meracik, menjaga mutu, dan belajar mengikuti zaman, warisan kuliner itu akan terus menemukan bentuk baru, menghidupi lebih banyak orang tanpa kehilangan ingatan tentang tanah asalnya. **