Meniti Jalan Sebelum Hilirisasi Membuka Pintu

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Deru mesin memecah keheningan lokakarya UT School di Jakarta. Suara gerinda, denting peralatan kerja, dan instruksi para instruktur berpadu menjadi irama khas ruang pelatihan mekanik yang sejak pagi dipenuhi aktivitas.
Di salah satu meja praktik, Sugeng Adi Prayoga menundukkan kepala. Tangannya teliti memeriksa setiap komponen yang baru dibongkar, memastikan setiap bagian kembali sesuai prosedur sebelum dirakit.
Pemuda 18 tahun itu kini berada ratusan kilometer dari Desa Benete, Kecamatan Maluk, tempat ia tumbuh di antara deburan ombak dan sawah ladang. Di ruang lokakarya, aroma laut berganti bau pekat oli dan gemuruh mesin.
Ayahnya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Dari lingkungan itu, Sugeng berangkat menuju UT School Jakarta untuk menempuh pendidikan vokasi dan memperdalam keterampilan mekanik.
Kini, teknologi dan peralatan yang sebelumnya ia kenal dari lingkungan industri di daerahnya berada tepat di depan mata. Ia bukan hanya mempelajari mesin, tetapi juga sistem kerja yang menuntut kemampuan teknis dan ketelitian pada setiap tahapan.
Jalan menuju ruang pelatihan itu tidak mudah. Sebanyak 868 pemuda mendaftarkan diri ketika Program Pelatihan Dasar Mekanik Alat Berat Batch I dibuka. Setelah seleksi administrasi, 659 peserta dinyatakan memenuhi persyaratan. Pada akhirnya, hanya 16 pemuda yang lolos. Sugeng menjadi salah satu di antaranya dan harus meninggalkan kampung halaman untuk menjalani pendidikan vokasi di UT School Jakarta.
Perjalanan itu membawa konsekuensi lain, jauh dari keluarga, berada di lingkungan baru, serta mengikuti jadwal pelatihan yang padat. Sugeng harus menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan berbeda sekaligus mengatur waktu agar setiap tahapan pembelajaran berjalan baik.
“Industri boleh tumbuh cepat, tetapi tenaga kerja lokal harus lebih dulu menyiapkan diri agar tidak sekadar menyaksikan perubahan dari luar.”
Sumbawa Barat sedang bergerak mengikuti perubahan struktur ekonomi. Sektor pertambangan masih menjadi penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, sementara perkembangan industri hilir membawa kebutuhan baru terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan teknis dan mampu beradaptasi dengan teknologi.
Namun, pertumbuhan industri dan kesiapan tenaga kerja tidak selalu bergerak dalam waktu yang sama. Keterampilan membutuhkan proses untuk dibentuk, sementara kebutuhan industri terus berkembang mengikuti teknologi dan jenis pekerjaan yang muncul.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumbawa Barat pada 2025 berada di angka 4,13 persen, meningkat dari 3,10 persen pada tahun sebelumnya. Pada tahun yang sama, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumbawa Barat mencapai 73,17 persen. Angka tersebut menggambarkan dinamika pasar kerja ketika semakin banyak penduduk usia kerja berada dalam angkatan kerja. Pada saat yang sama, kebutuhan industri berubah, terutama terhadap tenaga kerja dengan kemampuan lebih spesifik.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mencatat serapan tenaga kerja lokal selama ini sangat bergantung pada orientasi proyek. Ketika proyek besar berlangsung, kebutuhan tenaga kerja meningkat. Setelah proyek selesai, sebagian tenaga kerja kembali menghadapi risiko menjadi penganggur terbuka.
Pemerintah daerah juga menemukan ketidaksesuaian antara kualifikasi angkatan kerja dengan kebutuhan lapangan kerja. Persoalan itu semakin terlihat ketika industri membutuhkan keterampilan yang lebih spesifik.
Dalam pembangunan smelter, misalnya, pemerintah daerah menyebut kebutuhan tenaga kerja yang besar belum seluruhnya dapat diisi tenaga kerja lokal karena persoalan kesesuaian kompetensi. Dalam sebuah forum ketenagakerjaan, disebutkan pembangunan smelter yang menyerap sekitar 12.000 hingga 14.000 pekerja hanya mampu menyerap sekitar 2.700 tenaga kerja lokal karena ketidaksesuaian kompetensi. Di balik angka itu terdapat persoalan yang lebih nyata, bagaimana tenaga kerja lokal menyesuaikan kemampuan dengan pekerjaan yang lahir dari perkembangan ekonomi daerah.
Di sinilah pendidikan vokasi menemukan perannya. Lapangan kerja yang tumbuh tidak hanya membutuhkan jumlah pekerja, tetapi keterampilan yang sesuai dengan jenis pekerjaan, teknologi, serta standar keselamatan dan kerja yang berlaku di industri.
PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, dan UT School merancang Program Pelatihan Dasar Mekanik Alat Berat Batch I untuk membuka akses pendidikan vokasi berstandar tinggi bagi anak muda lokal. Program ini sekaligus memperkenalkan keterampilan mekanik dan pola kerja yang akan mereka hadapi ketika memasuki industri.
Di ruang pelatihan, mesin tidak sekadar dipelajari sebagai benda yang harus dioperasikan. Ia menjadi bagian dari sistem kerja yang menuntut tanggung jawab, kecermatan, dan kemampuan membaca persoalan sebelum pekerjaan berlanjut.

Ritme lokakarya nyaris tak pernah surut. Instruksi para instruktur terdengar dari berbagai sudut ruangan. Peserta bergerak dari satu tahapan praktik ke tahap berikutnya, membawa peralatan, menerima koreksi, lalu mengulang pekerjaan ketika hasil belum memenuhi standar.
Sugeng belajar mengenali komponen, memahami fungsi, mengikuti prosedur, hingga memperbaiki kesalahan secara mandiri. Di sudut lain, 15 pemuda lainnya menjalani proses yang sama, datang dari daerah yang sama dengan latar belakang masing-masing dan dipertemukan oleh tantangan serupa.
Dunia mekanik mengajarinya bahwa kemampuan bekerja tidak hanya ditentukan oleh keberanian mengoperasikan mesin, tetapi juga ketelitian, kesabaran, dan kesediaan terus belajar ketika menghadapi persoalan yang belum pernah ditemui.
Selama mengikuti program, peserta menjalani pembelajaran teori, praktik di bengkel, hingga uji kompetensi. Kemampuan dibangun melalui latihan, koreksi, dan pengulangan prosedur, sehingga standar kerja tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi terbentuk melalui praktik setiap hari.
Sejak April 2026, hari-hari Sugeng berganti. Meninggalkan deburan ombak dan hijau sawah ladang Benete, ia kini berkutat dengan Pembinaan Mental dan Disiplin (Bintalsik), teori mesin diesel, dan praktik bengkel yang menguji ketahanan mental. Rangkaian pembelajaran masih berjalan, mulai dari kelas dan praktik bengkel hingga persiapan menghadapi On the Job Training serta Uji Sertifikasi Kompetensi BNSP LSP ABI dengan skema Preventive Maintenance.
Perjalanan itu masih panjang. Sekitar delapan bulan harus dijalani dengan disiplin, keringat, dan kesabaran di ruang pelatihan UT School Jakarta. Setiap tahapan mempertemukannya dengan materi mekanik sekaligus standar kerja di lingkungan industri.
Tantangan Sugeng bukan hanya mempelajari mesin diesel berkapasitas besar, tetapi juga menjalani kehidupan jauh dari keluarga. Ada pekerjaan yang harus diulang karena hasil belum sesuai standar, komponen rumit yang membutuhkan ketelitian, dan kesalahan yang menuntutnya kembali memeriksa setiap langkah.
“Awalnya memang tidak mudah karena harus jauh dari keluarga. Ada rasa rindu rumah yang kadang datang tiba-tiba, tetapi itu bagian dari proses yang harus saya lewati,” ujar Sugeng sambil menyeka peluh di dahinya.
Kerinduan itu berjalan berdampingan dengan tuntutan untuk mandiri. Ia harus mengatur kehidupan sendiri, menjaga konsentrasi, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai tahapan yang ditetapkan.
“Di sini saya belajar beradaptasi, mengatur waktu, menjaga disiplin, dan menyelesaikan setiap tahapan pelatihan dengan sungguh-sungguh. Pengalaman ini membuat saya jauh lebih siap menghadapi dunia kerja yang sebenarnya.”
Ketika Keterampilan Mengejar Laju Industri
Di UT School, persoalan ketenagakerjaan daerah terasa dalam bentuk paling konkret. Ada mesin yang harus dipahami, komponen yang harus dipasang dengan benar, serta prosedur yang harus diikuti dengan teliti. Setiap kemampuan yang dibangun di bengkel menjadi bekal menghadapi lingkungan industri dengan teknologi dan peralatan yang semakin kompleks.
Pelatihan Sugeng bersama 15 peserta lainnya menjadi salah satu upaya mendekatkan keterampilan anak muda lokal dengan kebutuhan industri. Kesempatan kerja yang tumbuh dari ekspansi industri membutuhkan kemampuan yang sesuai, terutama ketika teknologi dan standar kerja terus berkembang.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat merespons persoalan itu dengan memperkuat pelatihan yang berorientasi pada penempatan kerja. Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., memandang pelatihan bukan sekadar kegiatan meningkatkan keterampilan, tetapi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja yang memiliki arah setelah menyelesaikan pendidikan.
Bagi Amar, setiap program pelatihan perlu memiliki tujuan jelas agar peserta dapat memasuki dunia kerja. Karena itu, program pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) diarahkan agar tidak berhenti pada pembelajaran, tetapi memiliki keterkaitan dengan kebutuhan dan penempatan kerja.
“Pelatihan yang kita siapkan bukan sekadar meningkatkan keterampilan semata, tetapi harus memiliki arah penempatan kerja yang jelas. Semua program pelatihan di BLK nantinya wajib berorientasi pada hal tersebut,” tegas Amar.
Langkah pemerintah berjalan beriringan dengan upaya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menyiapkan generasi muda menghadapi kebutuhan industri melalui akses pendidikan vokasi yang memberi kesempatan kepada putra daerah memperoleh keterampilan sesuai perkembangan dunia kerja.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengatakan perusahaan melihat potensi besar pada pemuda Sumbawa Barat dan Sumbawa untuk berkembang bersama industri yang terus tumbuh di daerah.
“Kami melihat potensi besar pada pemuda Sumbawa Barat dan Sumbawa. Melalui program beasiswa ini, AMMAN ingin membuka akses seluas-luasnya terhadap pendidikan vokasi berkualitas, agar putra daerah tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa menjadi pelaku utama di industri alat berat,” ungkap Aji.
Dampak program terlihat dari rekam jejak peserta pada angkatan sebelumnya. Dari sekitar 170 putra daerah yang telah menyelesaikan pelatihan melalui berbagai skema, sekitar 90 persen berhasil mendapatkan penawaran kerja di berbagai perusahaan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi yang dirancang berdasarkan kebutuhan industri dapat mempertemukan keterampilan peserta dengan kebutuhan pasar kerja.
Capaian peserta sebelumnya menjadi dorongan bagi Sugeng menjalani setiap tahapan dengan lebih sungguh-sungguh. Keterampilan yang diperolehnya kelak bukan hanya modal mencari pekerjaan, tetapi bekal untuk ikut mengisi ruang kerja yang tumbuh di daerah tempat ia dibesarkan.
Momentum perjalanan Sugeng berlangsung beriringan dengan babak baru industri di tanah kelahirannya. Ketika hilirisasi dan ekspansi industri terus digulirkan di Sumbawa Barat, Sugeng tidak sedang berada di sana. Ia berada ratusan kilometer dari kampung halaman, di ruang lokakarya yang bising, tengah menempa diri.
Masih ada praktik yang harus dituntaskan, koreksi yang harus diterima, serta uji kompetensi yang harus dihadapi. Waktu pelatihan menjadi ruang untuk memastikan keterampilan yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi siap digunakan ketika memasuki dunia kerja.
Ekosistem kerja yang dibangun AMMAN bersama mitra usahanya telah menyerap sekitar 37.000 tenaga kerja, dengan 98 persen di antaranya merupakan tenaga kerja lokal dan nasional. Hilirisasi tidak hanya menghadirkan investasi dan fasilitas industri, tetapi juga membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi yang berkembang.
Peluang kerja tumbuh bersama ekspansi industri, sementara tuntutannya ikut meningkat. Dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang bukan hanya tersedia dalam jumlah, melainkan memiliki kompetensi, ketelitian, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Kemajuan Sumbawa Barat pada akhirnya tidak hanya dilihat dari fasilitas industri yang berdiri atau besarnya investasi yang masuk, melainkan dari kapasitas anak-anak negeri mengisi ruang kerja yang lahir dari pertumbuhan ekonomi.
“Hilirisasi baru benar-benar berarti ketika anak-anak daerah memiliki keterampilan untuk mengisi ruang kerja yang lahir bersamanya.”
Langkah Sugeng mencerminkan ikhtiar generasi muda daerah mendekatkan diri pada lingkar industri melalui pendidikan dan keterampilan. Jarak dari kampung halaman, padatnya jadwal pelatihan, dan persaingan sejak proses seleksi perlahan membentuk kemandirian dan ketelitian.
Ia belum sampai pada garis akhir. Masih banyak hal yang harus dipelajari sebelum waktunya kembali ke tanah kelahiran. Suara mesin yang dahulu terasa asing kini perlahan menjadi bahasa kerja yang ia pahami.
Di tengah deru industri Sumbawa Barat yang terus bergerak, Sugeng sedang menyiapkan diri agar ketika masa pelatihan usai dan ia kembali ke tanah kelahiran, ia tidak sekadar mencari tempat di dalam industri, tetapi telah memiliki kemampuan untuk mengisinya.**