Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Deru mesin memecah keheningan lokakarya UT School di Jakarta. Suara peralatan praktik dan instruksi para instruktur berpadu menjadi irama yang sejak pagi memenuhi ruang pelatihan mekanik.

Di salah satu meja praktik, Sugeng Adi Prayoga menundukkan kepala. Jemarinya teliti memeriksa komponen yang baru saja dibongkar, memastikan setiap bagian kembali pada tempatnya sebelum dirakit ulang dengan presisi.

Pemuda 18 tahun asal Desa Benete, Kecamatan Maluk, itu kini menjalani hari-hari yang jauh dari kesehariannya di kampung. Di sana, ritme hidupnya dirajut oleh nyanyian ombak pantai dan bisikan angin di pucuk-pucuk padi ladang leluhur. Di Jakarta, suasana pesisir berganti dengan ruang pelatihan, perangkat praktik, dan aktivitas pendidikan yang berlangsung sejak pagi.

Sugeng lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Sudarmono, bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan lokal Batu Hijau, sementara ibunya, Yayu Yunarni, mengurus rumah tangga. Ketika kesempatan mengikuti pendidikan mekanik alat berat datang, kedua orang tuanya mendorongnya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Tentunya ada rasa bangga luar biasa karena Sugeng bisa terpilih dari ratusan peserta. Jauh berada di Jakarta tidak menjadi masalah bagi kami, sebab program beasiswa ini demi membangun masa depannya,” ungkap Sudarmono dengan nada haru.

Namun, jalan menuju UT School Jakarta tidak terbuka begitu saja. Sebelum menginjak lantai lokakarya di ibu kota, Sugeng harus melewati saringan ketat bersama ratusan pemuda yang memperebutkan kesempatan yang sama.

Ketika Program Pelatihan Dasar Mekanik Alat Berat Batch I dibuka pada Maret 2026, sebanyak 868 pemuda Sumbawa Barat mendaftarkan diri. Seleksi administrasi menyisakan 659 peserta yang memenuhi persyaratan. Persaingan berlanjut hingga akhirnya tersaring 16 pemuda yang lolos kualifikasi akhir. Sugeng salah satunya.

“Seleksinya sangat kompetitif. Saya harus bersaing ketat dengan ratusan peserta dari seluruh wilayah. Namun alhamdulillah, berkat perjuangan keras dan doa orang tua, nama saya berhasil lolos,” kenang Sugeng.

Kesempatan besar datang bersama konsekuensi yang tidak ringan. Menuntut ilmu di UT School Jakarta berarti meninggalkan kehangatan keluarga, kampung halaman, dan lingkungan yang selama ini membesarkannya.

Pada 24 April 2026, rasa bangga bercampur haru mengiringi prosesi pelepasan resmi di daerah. Di hadapan tatapan penuh harap para orang tua, ke-16 pemuda itu bertolak menuju UT School Jakarta. Mereka pergi untuk menempa kemampuan teknis sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Di UT School Jakarta, Sugeng harus beradaptasi dengan lingkungan yang jauh berbeda dari kampung halamannya. Dari desa pesisir yang tenang, ia kini menghadapi ritme ibu kota yang serbacepat sekaligus mengikuti pendidikan vokasi yang menuntut disiplin dan ketelitian.

Perjalanan para pemuda ini berlangsung ketika Sumbawa Barat sedang bergerak mengubah struktur ekonominya. Sektor pertambangan masih menjadi tulang punggung utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Namun, di balik perubahan itu, deru industri hilir seperti megaproyek pembangunan smelter tembaga dan pemurnian logam di Maluk membawa kebutuhan baru akan tenaga kerja lokal yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu mengikuti standar industri.

Laju industri yang bergerak kencang membawa persoalan lain ke permukaan. Kebutuhan tenaga kerja tumbuh bersama teknologi, sementara kesiapan manusia tidak bisa ditempa dalam semalam. Ada jarak yang harus diisi antara peluang yang terbuka dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memasukinya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sumbawa Barat pada 2025 mencapai 4,13 persen, naik dari 3,10 persen pada tahun sebelumnya.

Di tengah angka itu, jalan yang ditempuh Sugeng menjadi lebih dari sekadar kisah seorang pemuda yang pergi menuntut ilmu. Ketika industri hilir membuka ruang kerja baru, sertifikasi dan keterampilan menjadi bekal penting agar anak-anak muda daerah mampu masuk ke dalamnya dengan kemampuan yang teruji.
Jalan menuju kebutuhan tenaga terampil tidak cukup dibuka oleh industri. Persiapannya juga harus dimulai dari ruang-ruang pendidikan vokasi.

Melalui Program Pelatihan Dasar Mekanik Alat Berat Batch I yang bernaung di bawah Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menggandeng Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, dan UT School untuk menyiapkan mekanik dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan dunia industri. Di ruang pendidikan vokasi, kebutuhan tenaga kerja diterjemahkan menjadi kemampuan yang bisa dipelajari, dilatih, lalu diuji.

UT School, sebagai lembaga vokasi di bawah naungan Yayasan Karya Bakti United Tractors (YKBUT), merancang kurikulum yang tidak berhenti pada kemampuan memahami sistem mekanis dan melakukan pemeriksaan komponen. Para siswa juga dibentuk untuk memiliki integritas, ketelitian, dan rasa tanggung jawab. Di balik setiap proses pemeriksaan dan perakitan, ada sikap kerja yang ikut ditempa.

Ketua Pengurus YKBUT, Endang Tri Handajani, menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara sikap dan keahlian teknis sebagai modal menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif.

“Kombinasi antara karakter yang kuat dan skills yang mumpuni akan membuka lebar pintu lapangan kerja, baik di level nasional hingga panggung global,” tegas Endang, seraya menambahkan UT School didirikan untuk mendukung generasi muda daerah agar berani merajut cita-cita di mana pun mereka berada.

Gagasan itu kemudian menemukan bentuknya dalam rutinitas yang keras di ruang pelatihan dan lokakarya. Instruksi para pelatih bersahutan dengan aktivitas unit praktik. Sugeng bersama rekan-rekannya mempelajari anatomi mesin, mengikuti prosedur keselamatan, menerima teguran instruktur, dan mengulang pekerjaan ketika hasilnya belum memenuhi standar. Pekerjaan yang sama mereka ulangi sampai setiap gerakan tepat.

Dihitung sejak awal kelulusannya lima bulan lalu, hari-hari Sugeng kini padat diisi Pembinaan Mental dan Fisik (Bintalsik), penguasaan teori motor diesel, hingga praktik bengkel yang menguras stamina. Rangkaian pelatihan kemudian berlanjut ke On the Job Training (OJT) hingga Uji Sertifikasi Kompetensi BNSP LSP ABI dengan skema Preventive Maintenance.

Jalan pendidikan itu pun disiapkan sampai ke pintu dunia kerja. Program beasiswa penuh yang dijadwalkan mencapai puncaknya pada kelulusan April 2027 menanggung seluruh kebutuhan peserta, mulai dari biaya pendidikan, transportasi, uang saku harian, hingga program Job Connect untuk mendukung penyaluran kerja.

Di tengah jadwal yang padat, ada sisi lain yang ikut ditempa, yakni kemandirian. Sugeng harus mengatur waktunya sendiri. Ketika malam turun dan kamar asrama merangkak senyap, ia menyempatkan diri berkomunikasi dengan keluarga. Percakapan singkat menjadi penawar rindu di tengah jarak yang membentang.

“Awalnya jujur sangat berat karena ini pertama kali saya jauh dari rumah. Rasa rindu kampung halaman kadang datang menyergap tiba-tiba di tengah malam. Tapi saya tahu, ini pengorbanan yang harus dilewati,” bisik Sugeng sembari menyeka peluh di dahinya dengan ujung lengan baju.

Peserta Program Pelatihan Dasar Mekanik Alat Berat (BATCH I) AMMAN saat melakukan praktek pemeriksaan dan penanganan komponen mesin di bengkel UT School Jakarta. (Foto: Dok. AMMAN)

Rindu yang datang dari jauh tidak menghentikan langkahnya. Ia kembali ke meja praktik, mengunci konsentrasi di antara suara mesin dan peralatan kerja, lalu menuntaskan setiap modul yang menjadi bagian dari pendidikannya.

“Di lokakarya ini saya belajar arti adaptasi dan disiplin keras. Pengalaman ini membentuk mental saya jauh lebih tangguh untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya,” imbuhnya mantap.

Ketika Keterampilan Mengejar Laju Industri

Apa yang dijalani Sugeng di UT School Jakarta berkelindan erat dengan perubahan yang berlangsung di tanah kelahirannya. Sumbawa Barat terus bergerak mengikuti deru industri. Kebijakan hilirisasi tidak sekadar menghadirkan aktivitas ekonomi baru, tetapi juga menuntut tenaga kerja terampil yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan standar industri.

Perubahan itu membawa kebutuhan yang tidak bisa dijawab hanya dengan membuka lapangan kerja. Ada keterampilan yang harus disiapkan jauh sebelum pintu industri terbuka.

Dari kebutuhan itulah Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memperkuat balai latihan kerja (BLK) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal. Program pelatihan diarahkan agar keterampilan yang diperoleh peserta selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Masa depan yang mandiri menjadi esensi utama dari setiap program pelatihan yang dirancang pemerintah daerah.

Di mata Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, BLK adalah kompas yang harus mengarahkan masyarakat langsung ke pusat industri kerja. Ia menolak keras jika pelatihan hanya menjadi kosmetik keterampilan yang indah di laporan, namun senyap dari realisasi lapangan.

“Kita ingin pelatihan ini menjadi jembatan yang kokoh. Artinya, ada ujung penempatan kerja yang pasti bagi mereka yang lulus. Kita mendesain semua program di BLK agar benar-benar berorientasi pada hasil nyata, agar keringat mereka di ruang belajar berbuah kesejahteraan,” jelas Amar.

Langkah taktis pemerintah daerah ini bersambut gayung dengan komitmen dunia usaha di wilayah operasional tambang. Kolaborasi strategis antara pemerintah dan industri menjadi kunci agar penyerapan tenaga kerja lokal berjalan optimal. Mencetak tenaga terampil bukan sekadar soal memenuhi kuota pekerja bagi AMMAN, melainkan tentang merawat masa depan.

Aji Suryanto selaku Senior Manager Social Impact AMMAN melihat pendidikan vokasi yang bermutu sebagai jembatan untuk menghubungkan bakat anak-anak daerah dengan kebutuhan industri alat berat.

“Kami melihat program beasiswa ini sebagai sebuah jalan yang mempertemukan apa yang anak-anak kita miliki dengan apa yang dunia kerja cari. AMMAN ingin membuka akses itu selebar-lebarnya, agar pendidikan berkualitas bukan lagi barang mewah, dan anak-anak muda kita punya bekal yang cukup untuk melangkah percaya diri,” ungkap Aji.

Harapan itu memiliki jejak yang bisa dilihat dari angkatan sebelumnya. Dari sekitar 170 putra daerah yang telah merampungkan pelatihan melalui berbagai skema vokasi, sekitar 90 persen di antaranya mendapatkan penawaran kerja dari berbagai korporasi. Jejak para lulusan bahkan melampaui batas negeri. Sejumlah alumni UT School tercatat meniti karier di Jepang dan memperkuat lini perusahaan global seperti UD Trucks Ltd., Mitsubishi Fuso Corp., hingga Tadano Ltd.

Cerita para senior itu memberi bayangan tentang jalan yang mungkin terbuka untuk Sugeng dan 15 pemuda daerah lainnya. Namun, pintu industri tidak akan terbuka hanya karena selembar sertifikasi. Kemampuan mendiagnosis kerusakan mesin, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja (K3), disiplin personal, dan ketelitian tetap menjadi pembuktian utama ketika mereka benar-benar masuk ke dunia kerja.

Bekal pendidikan, pelatihan kerja lapangan (On the Job Training), dan sertifikasi resmi memberi Sugeng pijakan untuk melangkah lebih jauh. Dunia industri yang menantinya tidak terbatas pada satu perusahaan atau satu tempat. Peluang terbuka di pasar domestik maupun panggung global.

Gambaran tentang luasnya kebutuhan tenaga kerja terlihat dari ekosistem yang dibangun AMMAN bersama para mitra bisnisnya. Sekitar 37.000 tenaga kerja terserap di seluruh ekosistem operasional dan proyek konstruksi AMMAN beserta mitra bisnisnya, dengan 98 persen di antaranya merupakan pekerja lokal dan nasional.

Di tengah bentang industri sebesar itu, proses penempaan Sugeng di UT School Jakarta menemukan urgensinya. Sementara angka-angka tadi memperlihatkan skala kebutuhan tenaga kerja, di ruang bengkel Sugeng masih menjalani bagian kecil dari perjalanan panjang menuju dunia industri. Jadwalnya padat, kerinduan pada Sumbawa Barat sesekali datang, tetapi setiap hari ia tetap menjalani praktik, menerima koreksi instruktur, dan bersiap menghadapi ujian kelulusan.

Komponen mesin yang disentuhnya setiap hari perlahan berubah makna. Benda-benda yang diperiksa, dipelajari, lalu dipasang kembali sesuai prosedur bukan lagi sekadar alat peraga. Dari meja praktik itu, keterampilan kerja dibentuk sedikit demi sedikit.
Jarak dari kampung halaman, persaingan sejak fase seleksi, hingga ritme hidup ibu kota yang serbacepat menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya.

Peserta Beasiswa Bacth I AMMAN saat mempelajari petunjuk teknis mesin melalui buku panduan di UT School Jakarta. (Foto: Dok. AMMAN)

Perjalanan itu belum sampai di ujung. Teori, praktik lapangan, dan sertifikasi masih menanti sebelum ia benar-benar memasuki dunia kerja.
Namun, setiap hari yang dilaluinya di ruang bengkel telah mengubah cara ia memandang masa depan. Dulu, mesin-mesin berat hanya sesuatu yang jauh dari kehidupan seorang pemuda di Desa Benete. Kini, torque wrench, feeler gauge, multimeter, dan peralatan ukur lainnya menjadi bagian dari kesehariannya. Dari meja praktik itu, ia semakin dekat dengan dunia industri yang kelak akan dihadapinya.

Dari meja praktik di Jakarta, langkah Sugeng belum berhenti. Bekal yang ditempa di ruang pelatihan menjadi pijakan untuk menyongsong dunia industri yang terus bergerak. Ketika hilirisasi semakin berkembang di tanah kelahirannya, ia siap mengambil bagian dan menatap masa depan dengan keyakinan. **

About The Author