Sebelum Trofi Terangkat: Langkah Kecil AMMAN Membuka Jalan Transformasi Lingkungan dari Sekolah

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas
Tidak ada tepuk tangan ketika anak-anak memungut daun-daun gugur di halaman sekolah. Tak terdengar pula sorak kemenangan saat mereka menenteng ember berisi sisa nasi, kulit buah, dan potongan sayur menuju bangunan sederhana di sudut sekolah. Semua berlangsung hening, berulang dari pagi ke pagi, seolah hanya rutinitas yang nyaris luput dari perhatian. Padahal, dari kebiasaan sederhana itulah kepedulian terhadap lingkungan mulai tumbuh.
Masa depan tidak lahir dari ruang rapat, bukan pula dari gemerlap panggung penghargaan. Harapan bersemi melalui tangan-tangan kecil yang tekun memilah sampah sebelum membuka buku pelajaran. Guru-guru mendampingi dengan kesabaran, memberi teladan, lalu membiarkan kebiasaan berbicara lebih lantang daripada nasihat.
Hari demi hari, kebiasaan itu melintasi pagar sekolah, masuk ke ruang keluarga, lalu perlahan mengubah cara masyarakat memandang sesuatu yang selama ini dianggap tak lagi bernilai.
Jejak perubahan dapat ditelusuri melalui Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) yang didukung PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) di Kabupaten Sumbawa Barat. Upaya ini tidak berhenti pada pelatihan mengolah sampah organik menjadi kompos. Yang dibangun adalah kebiasaan mengelola limbah dari sumbernya sekaligus pemahaman bahwa sisa organik masih dapat memberi manfaat bagi tanah.
Program ini hadir di tengah persoalan yang masih dihadapi banyak daerah. Meningkatnya aktivitas masyarakat ikut mendorong bertambahnya limbah rumah tangga, terutama sisa makanan dan sampah organik. Pada saat bersamaan, kebiasaan membuang sampah di lahan terbuka masih dijumpai di sejumlah tempat, sementara fasilitas pengolahan belum menjangkau seluruh wilayah. Akibatnya, banyak limbah berakhir di tumpukan pembakaran atau dibiarkan tanpa penanganan.
Persoalannya bukan semata ke mana sampah dibuang, melainkan bagaimana limbah dikelola sejak dari sumbernya. Ketika sisa makanan dan bahan organik dipisahkan, sampah dapat diolah menjadi kompos dan kembali memberi manfaat bagi tanah. Sekolah kemudian dipilih sebagai titik awal.
Ruang pendidikan menjadi tempat efektif untuk menanamkan kebiasaan yang dapat dibawa pulang para siswa. Apa yang dilakukan di halaman sekolah perlahan hadir di rumah, lalu menyebar ke lingkungan yang lebih luas.
Perubahan tidak datang dalam semalam. Halaman sekolah menjadi lebih bersih, asap pembakaran sampah berkurang, dan anak-anak yang dahulu terbiasa membuang sisa makanan mulai mengumpulkannya untuk diolah melalui Rumah Kompos Sekolah (RUMPOS).
Gambaran perubahan tampak dalam keseharian Suci Januarsih, siswi SMPN 6 Taliwang. Setiap pagi, sebelum bel masuk berbunyi, Suci melangkah menuju Rumah Kompos Sekolah sambil menenteng ember kecil berisi kulit buah, sisa sayuran, dan makanan yang tak lagi tersaji di meja makan. Seluruh bahan organik berasal dari dapur rumahnya. Dahulu, semuanya berakhir di belakang rumah lalu dibakar bersama tumpukan sampah lain. Kini, sisa dapur itu dibawa ke sekolah untuk diolah menjadi pupuk.
“Dulu, saya dan keluarga biasa menimbun sampah rumah tangga di belakang rumah, lalu membakarnya. Sekarang saya mengumpulkan sisa dapur ke dalam ember khusus dari sekolah, kemudian membawanya ke rumah kompos untuk diolah menjadi pupuk,” tuturnya.
Kebiasaan yang dijalani Suci menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak berhenti di ruang kelas. Praktik sehari-hari ikut memengaruhi kehidupan di rumah dan perlahan menjadi bagian dari rutinitas keluarga.
Suasana serupa terasa di SMPN 6 Taliwang. Predikat Adiwiyata yang disandang sekolah berjalan bersama praktik kepedulian terhadap lingkungan. Nilai itu hadir dalam tindakan sederhana yang terus diulang hingga menjadi bagian dari budaya sekolah.
Taofik Rahman, selaku Kepala Sekolah, menyaksikan perubahan itu. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup ditanamkan melalui teori. Anak-anak perlu mengalami, mempraktikkan, lalu mengulanginya sampai menjadi kebiasaan.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari langkah sederhana seperti memilah sampah, kami menyaksikan perubahan sikap yang luar biasa,” ujarnya.
Taofik masih mengingat masa ketika rumah kompos sekolah hanya berupa bangunan sederhana berdinding bilik. Kondisinya jauh dari memadai. Dukungan AMMAN kemudian menghadirkan fasilitas yang lebih layak sehingga para siswa memiliki ruang belajar untuk menyaksikan setiap tahapan pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Di ruang itu mereka belajar bahwa daun-daun kering, sisa makanan, dan limbah organik masih dapat dimanfaatkan. Bahan yang sebelumnya dibuang atau dibakar diolah menjadi kompos yang kembali menyuburkan tanah.
Fasilitas menyediakan ruang, sedangkan keteladanan dan kebiasaan yang dipelihara terus-menerus membentuk karakter siswa.
Salah satu sosok yang menjalankan peran itu adalah Deden Purnawan. Hampir setiap pagi ia mendampingi murid-murid memilah sampah organik sebelum membawanya ke Rumah Kompos Sekolah.
“Kami ingin anak-anak tidak sekadar menghafal teori tentang kebersihan demi mengejar nilai ujian. Kami ingin mereka terbiasa merawat lingkungannya sendiri setiap hari, dengan kesadaran dan tangan mereka sendiri,” ujar Deden.
Rutinitas itu membentuk siklus yang utuh. Sisa makanan dari kantin, dedaunan yang gugur, serta limbah organik dari rumah para siswa dikumpulkan, dipilah, lalu diolah hingga kembali menjadi unsur hara yang menyuburkan tanah.
Seluruh proses berjalan melalui pendampingan Bambang, mitra pelaksana yang mengawal operasional Rumah Kompos Sekolah. Bersama pihak sekolah, ia memastikan setiap tahapan berlangsung sesuai prosedur sehingga kompos yang dihasilkan memiliki kualitas baik dan siap dimanfaatkan.
“Gerakan ini bisa terus berjalan karena ditopang semangat gotong royong. Guru, sekolah, pemerintah daerah, dan AMMAN saling mendukung sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ungkap Bambang.
Hasil pengolahan itu kemudian dikembangkan menjadi Pupuk Organik Sekolah Kita (POSTA), yang digunakan untuk berbagai kebutuhan penghijauan dan budidaya.
Pada awalnya, POSTA dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Seiring waktu, penggunaannya meluas untuk mendukung kegiatan penghijauan di area operasional AMMAN, program penanaman Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, pemeliharaan tanaman hias di sejumlah hotel, hingga menjadi media uji coba budidaya kopi di Desa Rarak Ronges.
Pemanfaatan POSTA memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Ada hubungan yang terbentuk antara sekolah, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah melalui pemanfaatan hasil pengolahan organik.
Program Pengelolaan Sampah Sekolah yang dimulai pada 2022 melalui SMPN 1 Maluk dan SMPN 6 Taliwang terus berkembang hingga menjangkau 11 sekolah pada 2026. Gerakan yang berawal dari dua sekolah perintis kini menghubungkan ruang belajar dengan kehidupan masyarakat.
Selama periode 2022–2025, sebanyak 159,47 ton sampah organik berhasil dialihkan dari pembakaran dan tempat pembuangan akhir. Dari jumlah itu, 83,63 ton diolah menjadi Pupuk Organik Sekolah Kita (POSTA). Pengolahan tersebut juga memangkas sekitar 710 perjalanan truk pengangkut sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Angka-angka itu menggambarkan dampak yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Asap pembakaran berkurang, tanah memperoleh unsur hara, dan keluarga mulai menerapkan kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik.

SROI 4,09, Angka di Balik Ribuan Langkah Kecil
Ketika kebiasaan yang tumbuh dari tangan anak-anak mulai dilakukan berulang oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat, dampaknya tidak lagi hanya terlihat dari halaman yang lebih bersih. Jejaknya dapat dihitung dan manfaatnya dapat diukur.
Dampak program ini tercermin dalam pengukuran Social Return on Investment (SROI) yang mencapai 4,09. Nilai ini berarti setiap Rp1 investasi sosial yang ditanamkan dalam program menghasilkan manfaat setara Rp4,09 bagi lingkungan, pendidikan, dan masyarakat.
Di balik angka tersebut, perubahan berlangsung dalam keseharian. Bagi Suci, memilah limbah dapur bukan lagi sekadar tugas sekolah. Kebiasaan itu ia bawa dari rumah ke sekolah, lalu kembali diterapkan di rumah.
Capaian tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat memperkuat fondasi kebijakan dari tingkat tapak. Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, mengalokasikan anggaran stimulan sebesar Rp150 juta untuk setiap desa melalui APBD Perubahan 2026. Dana tersebut diarahkan untuk mengaktifkan kembali bank sampah sekaligus mendukung target KSB Bersih pada 2027.
Pemerintah daerah juga menggerakkan Karang Taruna dan Agen Tiu Tali Aspirasi (TBA) sebagai motor di tingkat akar rumput. Pengalaman PPSS menunjukkan bahwa keberlanjutan membutuhkan fasilitas, pengetahuan, dan penggerak lokal yang bergerak seirama. Kebijakan daerah itu memperluas apa yang telah lama dipupuk di halaman sekolah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi AMMAN dalam membangun ekosistem sosial yang mandiri. Vice President Policy & Permitting dan Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, menyampaikan bahwa melalui PPSS, AMMAN ingin menguatkan peran sekolah sebagai pusat transformasi perilaku.
“Dengan program ini, AMMAN turut membangun ekosistem yang mengembangkan generasi muda masa depan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keberhasilan PPSS tidak hanya terlihat dari jumlah sampah yang dikelola, tetapi dari tumbuhnya kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Ketika pemahaman itu tumbuh di kalangan siswa, guru, dan keluarga, dampaknya meluas dari sekolah ke masyarakat,” ungkap Priyo.
Mengubah budaya yang mengakar membutuhkan waktu, keteladanan, dan konsistensi. Kerja sunyi yang dirawat dari sekolah-sekolah di Sumbawa Barat itu akhirnya menggema di panggung nasional. Program PPSS yang didukung AMMAN sukses meraih Lestari Awards 2026 untuk kategori Waste Management dari KG Media.
Penghargaan itu lahir dari ketekunan harian tangan anak-anak yang memilah, kesabaran guru yang mendampingi, ketegasan kepala sekolah, ruang kebijakan pemerintah daerah, serta dukungan berkelanjutan dari AMMAN.
Sesaat setelah trofi terangkat di panggung megah Jakarta, di sudut Sumbawa Barat, Suci masih menjalani kebiasaan yang sama. Ia tetap menjinjing ember kecilnya, memilah sisa dapur, dan memastikan keluarganya tidak lagi membakar sampah.
“Sekarang saya lebih terbiasa memilah sampah di rumah. Saya juga mengingatkan keluarga supaya sisa makanan tidak langsung dibakar,” kata Suci.

Kesaksian sederhana Suci menegaskan bahwa trofi dan penghargaan nasional hanyalah bonus dari konsistensi yang berlangsung jauh dari sorotan. Kemenangan sesungguhnya hadir dalam tangan anak-anak yang memilih memilah sampah, dalam keluarga yang berhenti memproduksi asap pembakaran, dan dalam sekolah yang terus menjaga kesadaran itu tetap hidup.
Ribuan langkah kecil yang berlangsung tanpa sorotan akhirnya menemukan maknanya dalam perilaku yang berubah. Sampah yang dahulu dibakar kini menjadi berkah, sisa makanan kembali menyuburkan tanah, dan kepedulian tumbuh menjadi budaya baru masyarakat Sumbawa Barat.**
