Teknologi Hitam yang Menghijaukan Lereng Batu Hijau

Artikel Headlines KSB Nasional Regional Taliwang

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Rajutan Jari Perempuan di Kaki Bukit

Pagi baru saja menyapa Desa Beru, Kecamatan Jereweh, Sumbawa Barat. Cahaya matahari menyusup lewat celah dinding rumah produksi, jatuh di atas tumpukan serat ijuk hitam di lantai.

Dari rumah produksi itu, sebuah lembaran hitam menempuh perjalanan yang tidak sederhana. Ia lahir dari serat aren yang dikumpulkan dari hutan, dirajut oleh tangan perempuan tangguh, lalu dibentangkan di tanah yang sedang dipulihkan.

Di antara simpul-simpul ijuk, ada pekerjaan yang berlangsung jauh dari sorotan, tangan yang mengikat, tanah yang ditata, benih yang dijaga agar tidak hanyut, hingga teknologi yang membaca perubahan vegetasi dari udara. Semuanya bertemu pada satu tujuan, memberi waktu kepada tanah untuk kembali menumbuhkan kehidupan.

Sebelum riuh desa benar-benar dimulai, jemari para perempuan sudah bergerak. Serat dipilah satu per satu, dibersihkan dari lidi, diluruskan, lalu dirajut dengan ritme konstan hingga menjelma menjadi lembaran tebal yang kokoh. Ruangan sunyi dari deru mesin. Yang terdengar hanyalah irama gunting beradu dengan serat, gesekan ijuk, dan percakapan ringan antarperempuan.

Di ruang sederhana itu, bahan tradisional yang biasa dijadikan sapu, atap rumah adat dan tali tambat perahu nelayan menemukan fungsi baru. Serat aren dirajut menjadi Ijuk Blanket, lembaran alami yang dibentang di zona reklamasi untuk membantu menahan erosi, menjaga tanah pucuk, dan memberi kesempatan kepada vegetasi muda untuk tumbuh.

Dari rumah produksi di Desa Beru, lembaran hitam dikumpulkan dan diangkut menuju kawasan Tambang Batu Hijau. Hasil kerja para perajin meninggalkan ruang sederhana tempat ia dihasilkan,  lalu menempuh perjalanan menuju lereng-lereng curam yang membutuhkan perlindungan. Di sana, lembaran ijuk dibentangkan mengikuti kontur tanah, menutup permukaan yang baru dipulihkan sebelum hujan datang mengujinya.

Tantangannya tidak main-main. Kemiringan tebing kerap melampaui 45 derajat. Ketika hujan deras mengguyur permukaan tanah yang belum ditumbuhi vegetasi, air dengan mudah membawa lapisan tanah atas beserta unsur hara menuruni lereng.

Ijuk Blanket dibentang ketika permukaan lahan masih rentan. Jalinan serat aren membantu memecah daya pukul air hujan dan memperlambat limpasan, memberi waktu bagi tunas-tunas hijau untuk tumbuh dan akar tanaman mencengkeram tanah.

Gagasan memanfaatkan serat alam untuk kebutuhan reklamasi ini lahir dari inisiatif Tarmizi Pane. Sebagai mitra kerja AMMAN, ia melihat bahan yang tersedia di sekitar masyarakat dapat digunakan untuk memulihkan lahan sekaligus membuka pekerjaan bagi warga.

Lebih dari satu dekade, AMMAN mendampingi masyarakat di sekitar kawasan pertambangan Batu Hijau melalui berbagai program yang menyentuh sisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dari rangkaian pendampingan itu, keterlibatan warga dalam reklamasi tumbuh menjadi salah satu pekerjaan yang terus berkembang.

Namun, sebelum sampai ke tangan para perajin, ijuk terlebih dahulu didatangkan dari hutan tempat pohon-pohon enau tumbuh liar. Bahan baku diperoleh melalui kerja keras para pengarit setempat yang harus menghadapi medan berat demi mendapatkan serat aren.

Pohon aren yang dipanjat menjulang belasan meter. Kulitnya licin dan berjamur, duri-duri tumbuh di sepanjang pelepah, sementara embusan angin dapat membuat tubuh oleng ketika berada di ketinggian. Risiko lain datang dari serbuan lebah liar dan semut api yang kerap bersarang di antara pelepah.

Jamal adalah salah satu warga yang melakoni pekerjaan penuh risiko itu. Berbekal sebilah parang di pinggang, ia memanjat batang aren dan mengarit ijuk di antara pelepah pohon.

“Kalau sudah berada di atas, taruhannya nyawa. Angin kencang dan sengatan lebah sudah biasa kami hadapi. Tapi rasa letih itu seketika runtuh saat tahu ijuk yang kami ambil dengan taruhan nyawa ini dipasang untuk menghijaukan kembali tanah di Batu Hijau,” ungkap Jamal.

Setiap kilogram ijuk yang turun dari pohon membawa pekerjaan yang tidak terlihat pada lembaran hitam yang kelak dibentangkan di lereng. Ada waktu yang dihabiskan di hutan, risiko yang harus ditanggung pengarit, lalu ketelitian para perempuan ketika serat sampai di rumah produksi. Rangkaian panjang ini membuat Ijuk Blanket bukan sekadar material reklamasi, melainkan produk yang menyimpan jejak pekerjaan banyak tangan sebelum akhirnya dibentangkan di lereng Batu Hijau.

Di tingkat pengumpul, ijuk mentah dihargai Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram, tergantung kebersihan serat. Dengan hasil 15 hingga 20 kilogram sehari, para pengarit bisa membawa pulang pendapatan berkisar Rp75.000 hingga Rp150.000 setiap hari.

Dari tangan Jamal dan para pengarit lainnya, ijuk kemudian berpindah ke rumah produksi. Di sana, lebih dari 20 ibu rumah tangga mengambil alih proses perajutan menggunakan jarum besar dan benang nilon tahan asam.

Haeratun Satar dan Fatimah Ahmad adalah dua di antaranya. Hampir tiga tahun keduanya menghabiskan waktu di rumah produksi untuk memastikan setiap simpul terikat rapat.

Seorang ibu saat merajut serat aren menjadi Ijuk Blanket di rumah produksi di Desa Beru, Jereweh. (Foto Dok. Ist)

Tarmizi Pane menjelaskan, sistem upah dihitung berdasarkan produktivitas perajut. Untuk lembaran standar berukuran 1 x 10 meter, perajin menerima upah Rp11.000 per lembar, dengan kapasitas produksi mencapai 10 lembar sehari. Sementara ukuran jumbo 2 x 15 meter dapat dirampungkan sebanyak lima lembar atau lebih.

“Kerapatan rajutan bukan sekadar soal kualitas barang. Di lereng tambang, kekuatan simpul ikut menentukan kemampuan lembaran menahan terpaan air. Kalau simpulnya longgar, selimut ini akan langsung robek saat dihantam air hujan, dan tanah subur di bawahnya pasti ikut terseret. Keselamatan lingkungan di lapangan bergantung penuh pada kekuatan tangan ibu-ibu di sini,” jelasnya.

Selama keterlibatannya di rumah produksi, Haeratun dan Fatimah tidak lagi melihat ijuk sekadar sebagai bahan yang datang dari hutan. Mereka tahu, setiap lembar yang selesai dirajut akan dibawa ke lereng Batu Hijau dan menjadi bagian dari proses pemulihan lahan.

“Kami jadi tahu kalau rajutan tangan kami dipasang di tebing Batu Hijau supaya pohon-pohon bisa tumbuh lagi. Selain itu, penghasilan mandiri ini sangat berarti untuk dapur keluarga,” tutur Haeratun, yang diangguk setuju Fatimah di sebelahnya.

Dari sebuah rumah produksi sederhana, rajutan ijuk kemudian menempuh perjalanan yang lebih jauh daripada yang pernah dibayangkan para perajinnya.

Dari Desa Beru Menjaga Lereng Batu Hijau

Di Batu Hijau, Ijuk Blanket bukan lagi benda asing. Lembaran yang lahir dari serat alami ini telah lama menemani proses pemulihan lereng, bekerja bersama Coconet menahan erosi ketika tanah belum sepenuhnya kuat menerima gempuran hujan.

Jejak kolaborasi pemanfaatan material alami ini dalam reklamasi Batu Hijau mulai dirintis sejak 2015, dan terus berkembang mengikuti kebutuhan pemulihan lahan dari waktu ke waktu. Perjalanan panjang itu kemudian menemukan bentuk yang semakin luas. Bukan hanya lereng yang dipulihkan, tetapi juga keterampilan dan pekerjaan warga yang tumbuh di sepanjang rantai penyediaannya.

Kedua bahan alami bekerja pada fase ketika permukaan tanah masih rentan terhadap terpaan hujan dan aliran air. Lembaran Ijuk Blanket di bentang  mengikuti lereng dan diperkuat dengan pasak bambu sebagai penahan. Ketika hujan turun, lapisan ijuk membantu mengurangi laju aliran air sekaligus menahan benih yang disemprot melalui metode hydroseeding agar tidak hanyut.

Di Tongoloka, lembaran Ijuk Blanket dan Coconet yang dirajut warga berhadapan langsung dengan hujan dan aliran air di lereng reklamasi. Perannya bukan sekadar menutup permukaan tanah, tetapi membantu menahan erosi sekaligus menjaga benih hasil hydroseeding agar tidak hanyut.

Penggunaan kedua material tersebut menunjukkan hasil yang terukur. Laju erosi di zona reklamasi Tongoloka turun dari 0,32 meter per tahun pada 2022 menjadi 0,30 meter per tahun pada 2023.

Pengrajin dengan teliti menganyam serat ijuk aren di rumah produksi di Desa Beru, Kecamatan Jereweh, mengubah bahan baku alami menjadi produk fungsional bernilai ekonomi. (Foto Dok. Ist)

Dari lereng Batu Hijau, pengalaman penggunaan Ijuk Blanket bergerak lebih jauh. Material yang lahir dari pengetahuan warga mulai masuk ke pembahasan reklamasi yang lebih luas ketika pengalaman di lapangan dibagikan kepada praktisi pertambangan dari berbagai negara.

Dalam paper bertajuk “Collaboration with the Local Community to Implement Sustainable Reclamation Practices at the Batu Hijau Mine” yang dipresentasikan pada Mine Closure 2024 di Perth, Australia, pemanfaatan material alami di Batu Hijau menjadi bagian dari pembahasan mengenai praktik reklamasi yang melibatkan masyarakat lokal.

Paper  itu mencatat perkembangan kebutuhan terhadap Ijuk Blanket pada tahun 2019, volume pemesanan tercatat 76.000 meter persegi dengan nilai Rp585,2 juta. Hingga April 2024, volumenya meningkat menjadi 546.652 meter persegi dengan nilai Rp8,746 miliar, dengan harga patokan Rp7.680 per meter persegi.

Pertumbuhan itu memperlihatkan bahwa material yang dirajut di rumah-rumah produksi warga tidak berhenti sebagai bagian kecil dari pekerjaan reklamasi. Ia tumbuh menjadi mata rantai usaha yang memiliki nilai ekonomi dan terus terhubung dengan kebutuhan pemulihan lahan.

Hubungan antara pekerjaan masyarakat dan manfaat yang lahir kemudian dihitung melalui kajian Social Return on Investment (SROI) yang dipaparkan dalam paper itu. Nilainya diproyeksikan meningkat dari 23,59 pada 2024 menjadi 105,31 pada 2028. Dalam proyeksi lima tahun yang digunakan dalam kajian, setiap satu dolar yang diinvestasikan menghasilkan nilai manfaat sebesar 105,31 dolar.

Infografik: Proyeksi peningkatan nilai Social Return on Investment atau SROI dari program Ijuk Blanket dan Coconet dalam kurun lima tahun, 2024 hingga 2028. Nilainya diproyeksikan meningkat dari 23,59 pada 2024 menjadi 105,31 pada 2028.

Angka tersebut membawa cerita Ijuk Blanket ke ruang yang lebih luas. Lembaran serat aren yang dikerjakan dari rumah produksi ternyata mempertemukan dua kepentingan yang berjalan beriringan, kebutuhan untuk memulihkan lahan dan kesempatan masyarakat memperoleh nilai ekonomi dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Dalam pemanfaatan material lokal dan keterlibatan masyarakat dalam reklamasi ditempatkan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDGs 15 tentang kehidupan di darat. Material yang tersedia di sekitar masyarakat mendapat nilai guna baru, sementara hasil pekerjaan mereka kembali digunakan untuk membantu memulihkan lahan.

Pertumbuhan kebutuhan tersebut juga diikuti penguatan kapasitas masyarakat. AMMAN memberikan pendampingan teknis, manajemen usaha, dan pengendalian mutu agar produk warga mampu memenuhi kebutuhan reklamasi secara konsisten. Dalam kemitraan tersebut, AMMAN menjadi pembeli utama, sementara sebagian pelaku usaha mulai menjajaki pasar di luar ekosistem tambang.

Skala kebutuhan memberi gambaran tentang ruang ekonomi yang terbuka. Untuk Coconet, area reklamasi membutuhkan sekitar 7.000 rol setiap tahun, dengan kebutuhan rata-rata 180 rol untuk setiap hektare. Dua pemasok utama di Maluk dan Taliwang bahkan mempekerjakan lebih dari 60 warga setempat.

Di tengah kebutuhan yang terus bergerak, ada pekerjaan sederhana yang terus berulang, serat dikumpulkan dari hutan, dibersihkan, lalu dirajut oleh tangan-tangan warga sebelum dikirim ke kawasan reklamasi.

Di lereng Batu Hijau, tanah topsoil yang kaya hara dikembalikan ke permukaan. Lembaran ijuk kemudian dibentangkan mengikuti kontur lereng. Di atas dan di sela-selanya, benih mulai tumbuh. Centrosema pubescens dan Calopogonium mucunoides merambat menutup permukaan tanah, sementara pohon-pohon lokal seperti beringin, saga, leban, binong, hingga ipil tumbuh lebih tinggi.

Pada tahap awal, lembaran hitam menjadi pelindung tanah. Setelah vegetasi tumbuh dan akar semakin kuat, perannya berangsur selesai.

Dalam rentang sekitar tiga hingga lima tahun, serat ijuk perlahan melunak dan terurai. Bahan alami itu akhirnya kembali menjadi bagian dari tanah.

Berbeda dari material sintetis yang harus diangkat setelah masa pakainya berakhir, ijuk perlahan menyatu dengan tanah. Ia bekerja ketika permukaan lahan paling membutuhkan perlindungan, lalu terurai setelah vegetasi mulai mengambil alih.

Ketika Si Hitam Membantu Menghidupkan yang Hijau

Pemulihan lereng Batu Hijau tidak berhenti pada lembaran ijuk yang menahan erosi. Dari sana, perjalanan pemulihan bergerak lebih jauh, tanah dipulihkan, vegetasi ditumbuhkan, dan fungsi ekologis kawasan perlahan dikembalikan.

Sepanjang 2025, reklamasi Batu Hijau mencapai 92,67 hektare, capaian tahunan terbesar dalam sejarah reklamasi di kawasan tersebut. Hingga Mei 2026, luas kumulatif lahan yang telah direklamasi mencapai 881 hektare.

Di atas lahan yang dipulihkan itu, lebih dari 1,53 juta pohon dari 99 varietas endemik Sumbawa Barat telah tumbuh. Pepohonan yang kembali memenuhi kawasan kemudian diikuti kehidupan lain. Melalui camera trap, Rusa Timor, musang, ayam hutan, hingga elang bondol terekam berada di kawasan pemulihan.

Luas-lahan yang terus bertambah itu berlangsung di tengah dinamika kebijakan pertambangan nasional. Penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada 2026 menjadi bagian dari perjalanan kegiatan pertambangan. Di saat yang sama, pekerjaan pemulihan terus berjalan pada lahan yang telah selesai ditambang.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat, pemulihan kawasan tidak berhenti pada kembalinya tutupan vegetasi. Reklamasi berlangsung di tengah kebutuhan daerah menyiapkan masa depan ekonomi yang tidak bergantung pada satu sektor.

Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah pada Forum Konsultasi Publik RKPD 2027 menyebut sekitar 80 persen PDRB daerah masih berasal dari aktivitas pertambangan. Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan sektor-sektor alternatif dan diversifikasi ekonomi sebagai bagian dari persiapan menghadapi perubahan struktur ekonomi daerah.

Dalam konteks itu, pekerjaan yang tumbuh dari rantai reklamasi memperoleh makna yang lebih panjang. Produksi Ijuk Blanket dan Coconet, pembibitan tanaman lokal, serta keterlibatan kelompok masyarakat dalam pemulihan kawasan mempertemukan kebutuhan lingkungan dengan ruang ekonomi yang dapat dikerjakan warga. Reklamasi tidak hanya mengembalikan lahan, tetapi juga membuka kemungkinan agar sebagian manfaat dari proses pemulihan tinggal lebih lama di tengah masyarakat.

Ruang itu tumbuh melalui pekerjaan yang dekat dengan kehidupan warga, pembibitan tanaman lokal, produksi Ijuk Blanket dan Coconet, hingga keterlibatan kelompok masyarakat dalam pemulihan kawasan. Warga tidak sekadar menunggu lereng kembali hijau. Mereka ikut mengerjakan prosesnya, memperoleh penghasilan dari keterampilan yang dimiliki, sekaligus membawa pengetahuan lokal ke dalam pekerjaan pemulihan lahan.

Namun, pemulihan tidak berhenti pada batas kawasan tambang. Di wilayah hulu, rehabilitasi Daerah Aliran Sungai mencakup sekitar 3.600 hektare. Di pesisir, Gili Balu dirawat melalui program Transformaseas, sementara pantai selatan mendapat perlindungan melalui program suaka penyu.

Pada sektor energi, Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 26,8 MWp turut berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 34.794 ton CO₂e sepanjang 2025.

Di tengah bentang pemulihan yang lebih luas, rantai Ijuk Blanket tetap dekat dengan kehidupan warga. Sebanyak 167 warga terlibat dalam penyediaan Ijuk Blanket dan Coconet. Di Desa Tongo dan Sekongkang, kelompok masyarakat juga mengelola pembibitan mandiri atau Community Nursery.

Pembibitan masyarakat menjadi bagian penting dari rantai pemulihan karena kebutuhan reklamasi tidak hanya berhenti pada penataan tanah. Bibit tanaman asli harus tersedia, dirawat, dan siap dipindahkan ketika lahan memasuki tahap revegetasi. Model ini sekaligus membuka ruang agar masyarakat ikut mengambil bagian dalam pemulihan kawasan.

Program Community Nursery AMMAN bahkan meraih Subroto Award 2023 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk inovasi dalam penyediaan, pembangunan, dan pengelolaan fasilitas pembibitan/persemaian pada kegiatan pertambangan mineral dan batubara. Penghargaan itu memperlihatkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam reklamasi tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas pendukung, tetapi dapat menjadi bagian dari inovasi pengelolaan pertambangan.

Bagi sebagian pihak, reklamasi dipandang lebih jauh daripada sekadar memulihkan permukaan lahan. Pemulihan perlu berjalan progresif, mengikuti area yang telah selesai ditambang, sehingga tanah yang kembali hijau sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat di lingkar operasi. Cara pandang ini membuat reklamasi tidak berhenti sebagai kewajiban lingkungan, tetapi bergerak menjadi bagian dari pembangunan ekonomi lokal.

Pemulihan yang berjalan progresif juga menyentuh fungsi ekologis yang lebih luas. Vegetasi yang kembali tumbuh membantu memperkuat tutupan tanah, menjaga tata air, dan menopang fungsi hidrologi kawasan, termasuk keberlangsungan mata air. Pada saat yang sama, kembalinya pepohonan lokal menyediakan ruang bagi flora dan fauna yang menjadi bagian dari ekosistem asli Sumbawa Barat.

Ukuran keberhasilan akhirnya tidak hanya berhenti pada luasan lahan yang telah dipulihkan. Ada tata air yang kembali terjaga, mata air yang terus ditopang, serta habitat yang perlahan kembali memberi ruang bagi kehidupan. Dari sana, reklamasi mulai memperlihatkan wajah yang lebih utuh, memulihkan tanah sekaligus menghidupkan kembali hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.

Membaca Hijau dari Langit

Setelah lahan ditata, vegetasi tumbuh, dan proses pemulihan berjalan, perubahan kawasan kemudian dipantau dari waktu ke waktu melalui citra satelit. Di sinilah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan, bukan sebagai bagian dari proses merajut atau membentangkan Ijuk Blanket, melainkan sebagai salah satu cara membaca perkembangan vegetasi setelah pekerjaan reklamasi berlangsung.

Vice President Corporate Communications & Investor Relations AMMAN, Kartika Octaviana, menjelaskan bahwa AMMAN menganalisis citra satelit secara berkala untuk memantau pertumbuhan vegetasi di area reklamasi. Data NDVI juga digunakan untuk membantu menentukan jenis tanaman yang sesuai.

“Kami menganalisa citra satelit secara berkala untuk memantau pertumbuhan vegetasi di area reklamasi. Data NDVI ini juga membantu kami untuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam. Berkat analisis NDVI, AMMAN berhasil mengubah lahan bekas tambang menjadi oasis hijau, dengan nilai NDVI area reklamasi mendekati nilai NDVI hutan alami yaitu +1, menunjukkan kepadatan daun hijau yang tinggi,” ujar Kartika.

Di balik angka-angka itu, tetap ada orang-orang yang menggerakkan rantai pekerjaan, pengarit yang mengambil ijuk dari hutan, pengumpul yang menyalurkannya, dan perempuan di rumah produksi yang mengubah serat menjadi lembaran siap pasang.

Ekosistem program ini memang dirancang oleh AMMAN agar mampu berdiri mandiri di tengah masyarakat.

“Goal besar dari seluruh inisiatif keberlanjutan kami adalah menciptakan dampak positif berganda yang sirkular dan dapat terus dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas di tingkat tapak,” jelas Kartika.

Konsistensi pengelolaan lingkungan itu akhirnya memperoleh pengakuan pada 7 April 2026, ketika AMMAN menerima predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup. Penghargaan ini diberikan atas kinerja yang melampaui standar kepatuhan dalam pengelolaan lingkungan serta pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

Bagi perjalanan reklamasi Batu Hijau, predikat itu bukan titik akhir. Ia lebih tepat dibaca sebagai penanda bahwa pekerjaan yang berlangsung jauh dari panggung penghargaan menata tanah, menanam kembali, mengendalikan erosi, memantau vegetasi, dan melibatkan masyarakat telah memperoleh pengakuan dari negara.

Riset independen Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) pada awal 2026 yang melibatkan 150 responden di Desa Pasir Putih dan Bukit Damai menunjukkan indeks persepsi publik terhadap tata kelola lingkungan pascatambang berada pada kategori baik hingga sangat baik.

Di Desa Beru, ukuran keberhasilan hadir dalam bentuk yang lebih sederhana. Ijuk yang mereka kumpulkan memiliki pembeli, rumah produksi tetap menerima pesanan, tangan-tangan perempuan masih memiliki pekerjaan, dan hasil rajutan mereka kembali ke tanah di wilayah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Di belakang angka-angka yang tercatat, tetap ada pekerjaan yang sama, serat dipilah, diluruskan, dirajut, diikat, diperiksa, lalu dikirim.

Ketika Ijuk Blanket sampai ke panggung Mine Closure 2024 di Perth, yang ikut dibawa bukan hanya sebuah teknologi reklamasi. Di dalamnya ada tangan para perempuan Desa Beru, langkah Jamal menaiki batang aren, serat yang dikumpulkan dari hutan, penghasilan yang dibawa pulang ke rumah, serta tanah di lereng Batu Hijau yang membutuhkan waktu untuk kembali hijau.

Di Desa Beru, pekerjaan itu masih berlangsung. Ketika pagi bergeser menuju siang, gunting kembali beradu dengan serat. Ijuk hitam yang semula berserakan di lantai perlahan berubah menjadi lembaran-lembaran yang siap dibawa ke lereng.

Tidak ada deru mesin besar di sana. Hanya tangan, serat, jarum, dan ketekunan yang membuat lembaran-lembaran itu terus lahir. Kelak, ketika hujan jatuh di lereng Batu Hijau, lembaran-lembaran itu akan menerima pukulan pertama air sebelum tanah benar-benar mampu menahannya. Ketika pepohonan telah cukup kuat, ijuk itu akan hilang perlahan ke dalam tanah. Yang tersisa bukan lagi warna hitamnya, melainkan hijau yang tumbuh di atasnya.**

About The Author