Menaklukkan Kemiringan Ekstrem: Inovasi Bio-Geotextile Berbasis Kearifan Lokal ala AMMAN

Artikel Headlines Jereweh KSB Maluk Nasional Regional Taliwang

Oleh: Sutan Zaitul Ikhlas

Rajutan Jari Perempuan di Kaki Bukit

Pagi baru saja menyapa Desa Beru, Kecamatan Jereweh, Sumbawa Barat. Semburat cahaya matahari merambat perlahan menembus celah dinding rumah produksi sederhana. Cahaya jatuh di atas hamparan serat ijuk hitam yang menumpuk di sudut ruangan.

Sebelum riuh desa dimulai, jemari beberapa perempuan sudah sibuk bergerak. Mereka memilah, merapikan, lalu merajut serat dengan ritme konstan hingga menjadi lembaran tebal yang kokoh.

Bunyi gunting yang beradu, gesekan kasar serat aren, dan gumam percakapan ringan tentang urusan dapur menghidupkan ruangan tanpa deru mesin. Rumah produksi sunyi dari suara mekanis, tetapi tangan-tangan yang bekerja di dalamnya terus bergerak.

Di tempat sederhana itu, serat hitam yang semula terabaikan berubah menjadi lembaran pelindung yang kelak kembali menyentuh tanah. Ijuk Blanket membantu menahan erosi di area bukaan tambang, menjaga lapisan tanah pucuk atau topsoil, sekaligus memberi waktu bagi vegetasi awal untuk tumbuh dan membentuk perakaran.

Dari lantai rumah produksi, lembaran hitam itu bergerak menuju lereng reklamasi Tambang Batu Hijau. Material berbasis serat aren ini menjadi geotekstil hayati (bio-geotextile) yang membantu melindungi permukaan lereng dari kikisan air hujan serta menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan vegetasi awal.

Di tebing-tebing terjal Batu Hijau, pemulihan lingkungan berhadapan dengan kemiringan lahan yang terkadang mencapai lebih dari 45 derajat. Ketika hujan mengguyur permukaan tanah yang belum stabil, aliran air permukaan dapat mengikis lapisan subur, menghanyutkan unsur hara, dan membawa sedimen ke bagian lereng yang lebih rendah. Pada titik kritis itu, jalinan serat hitam bekerja. Selimut hayati memperlambat aliran air, meredam energi butiran hujan, dan menjaga tanah tetap berada di tempatnya ketika akar tanaman belum cukup kuat.

Serat pohon aren (Arenga pinnata) yang selama berabad-abad dikenal sebagai bahan baku sapu ijuk, atap rumah adat, atau tali tambat perahu tradisional kini memiliki peran ekologis baru. Pengetahuan lokal bertemu dengan kebutuhan pemulihan lingkungan industri berat. Pertemuan itu melahirkan solusi pengendalian erosi sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lingkar tambang. Bahan baku dari pedalaman hutan memperoleh nilai tambah setelah berpadu dengan keterampilan warga dan kebutuhan reklamasi di lapangan.

Gagasan mengembangkan material penahan erosi berbasis serat lokal lahir dari inisiatif Tarmizi Pane. Pria paruh baya itu merupakan pengelola rumah produksi sekaligus mitra binaan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN). Di tengah melimpahnya pohon aren di hutan Jereweh, Tarmizi melihat peluang. Olahan serat dapat menjadi material pendukung reklamasi sekaligus sumber penghidupan alternatif bagi warga desa.

Namun, sebelum sampai ke tangan para perempuan di rumah produksi, ijuk harus diturunkan dari pohon-pohon aren liar di pedalaman hutan berbukit. Pekerjaan di hulu menjadi ruang bagi para lelaki dengan nyali besar. Mereka menembus vegetasi rapat, memanjat batang aren yang tinggi dan licin, serta berhadapan dengan duri pelepah yang tajam. Para pengarit bekerja tanpa tali pengaman modern. Kekuatan cengkeraman kaki dan tangan serta sebilah parang di pinggang menjadi andalan.

Di sela pelepah tua, mereka mencari pijakan sambil menjaga keseimbangan di ketinggian belasan meter. Lembaran ijuk yang melekat kuat pada batang dipotong satu per satu. Hembusan angin kencang dapat mengayun tubuh dalam sekejap. Risiko lain datang dari koloni lebah hutan atau semut hitam api yang bersarang di sela pelepah.

Jamal adalah salah satu pengarit lokal yang telah menjalani ritme penuh risiko selama bertahun-tahun. Baginya, setiap jengkal serat aren yang berhasil dibawa turun adalah bagian dari perjuangan.

“Kalau sudah berada di atas pohon aren, taruhannya adalah nyawa. Angin kencang dan sengatan lebah madu itu sudah menjadi makanan sehari-hari kami di tengah hutan. Tetapi, rasa letih dan gemetar di kaki itu seketika runtuh saat kami tahu bahwa ijuk yang kami ambil dengan bersusah payah ini dipasang untuk menghijaukan kembali tanah kelahiran kami di area tambang,” ungkap Jamal.

Dari punggung para pengarit seperti Jamal, ikatan ijuk mentah diangkut menuju rumah produksi. Rantai produksi berikutnya diambil alih lebih dari 20 ibu rumah tangga. Sebagian dari mereka membersihkan ijuk dari lidi, sebagian menyisir serat menggunakan sisir paku agar lurus, sementara perajin lain merajutnya dengan jarum besar dan benang nilon tahan asam.

Di antara mereka ada Haeratun Satar dan Fatimah Ahmad yang telah menekuni pekerjaan ini hampir tiga tahun. Dengan ketelitian tinggi, keduanya memastikan kerapatan rajutan memenuhi spesifikasi teknis tim lingkungan tambang.

Tarmizi Pane menjelaskan, sistem pengupahan di rumah produksinya berbasis produktivitas kelompok (piece-rate system).

Pekerja menerima Rp11.000 untuk setiap lembar Ijuk Blanket standar yang selesai dikerjakan. Ukurannya menyesuaikan kontur lereng, mulai dari 1 × 10 meter hingga 2 × 15 meter. Untuk ukuran 1 × 10 meter, perajin terampil rata-rata mampu menghasilkan hingga 10 lembar sehari. Ukuran 2 × 15 meter dapat dituntaskan lima lembar atau lebih dalam sehari.

Seorang ibu saat merajut serat aren menjadi Ijuk Blanket di rumah produksi di Desa Beru, Jereweh. (Foto: Dok. Ist)

Meski proses pengerjaan dilakukan secara manual, standar kualitas tetap dijaga. Kerapatan serat, ketebalan rajutan, hingga kekuatan simpul benang nilon harus presisi agar lembaran tidak robek ketika dipasang di tebing curam dan menghadapi curah hujan tinggi.

“Jika ikatannya longgar sedikit saja, selimut ini akan robek saat dihantam air hujan deras pertama, dan tanah subur di bawahnya pasti ikut longsor terseret air. Jadi, tingkat kepercayaan pengguna di area tambang dan keselamatan lingkungan di lapangan sangat bergantung pada kekuatan setiap simpul yang dirajut oleh ibu-ibu di sini,” imbuh Tarmizi.

Bagi Haeratun dan Fatimah, pekerjaan di rumah produksi membuka pandangan baru tentang peran perempuan desa. Tangan mereka ikut mendukung pemulihan alam pascatambang sekaligus menambah penghasilan keluarga.

“Ada pengetahuan baru yang kami dapatkan di sini. Kami jadi tahu bahwa rajutan tangan kami dipasang di tebing Batu Hijau agar pohon-pohon bisa tumbuh lagi. Selain itu, penghasilan mandiri dari pekerjaan ini sangat berarti untuk menambah ekonomi keluarga,” tutur Haeratun Satar yang diangguk setuju Fatimah Ahmad di sebelahnya.

Namun, tantangan terbesar ke depan adalah menjaga konsistensi suplai bahan baku ijuk dari hutan liar saat musim kemarau ekstrem, serta memastikan regenerasi keahlian menganyam Ijuk Blanket ini terus berlanjut ke generasi selanjutnya agar program ekonomi sirkular tidak berhenti begitu saja.

Dari rumah produksi Desa Beru, selembar ijuk membawa dua cerita sekaligus. Serat yang dirajut menjadi selimut lereng pada saat yang sama menjadi sumber penghidupan bagi warga.

Pengrajin dengan teliti menganyam serat ijuk aren di rumah produksi di Desa Beru Kecamatan Jereweh, mengubah bahan baku alami menjadi produk fungsional bernilai tinggi. Proses manual ini menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat. (Foto: Dok. Ist)

Dari Serat Aren ke Tanah yang Kembali Hijau

Kolaborasi masyarakat lingkar tambang dan AMMAN dalam pengembangan material reklamasi berbasis serat alami bukan program instan. Ikhtiar yang telah berjalan selama lebih dari satu dekade itu dirintis sejak 2015, melibatkan warga dalam pengolahan bahan hingga perajutan di tingkat desa.

Skala pemanfaatannya kemudian terlihat dalam catatan pemesanan AMMAN. Pada tahun 2019 misalnya, tercatat 76.000 meter persegi Ijuk Blanket dipesan dengan nilai Rp585,2 juta. Data itu menjadi bagian dari catatan pemesanan Ijuk Blanket dan Coconet untuk kebutuhan reklamasi yang ditelusuri dalam kajian hingga April 2024

Ketika memasuki kawasan reklamasi Tambang Batu Hijau, lanskap memperlihatkan kontras yang tajam. Lereng berundak (benches) memotong perbukitan curam. Lapisan tanah dan batuan lapuk yang semula gersang terbuka terhadap ancaman erosi.

Sebelum Ijuk Blanket dibentangkan, tanah pucuk (topsoil) lebih dahulu dikembalikan ke permukaan lereng yang telah dibentuk. Lapisan kaya unsur hara yang diselamatkan sejak awal pembukaan lahan menjadi media tumbuh bagi vegetasi baru. Barulah Ijuk Blanket dan Coconet (serabut kelapa) produksi warga lingkar tambang lainnya dibentangkan mengikuti kontur lereng. Serat aren meredam hantaman hujan, memperlambat aliran permukaan, dan menjaga lapisan tanah agar tidak mudah tergerus.

Di balik anyaman yang rapat tetapi tetap berpori, benih vegetasi perintis yang disemai melalui metode hydroseeding memperoleh perlindungan dari terik matahari. Tunas rumput penutup tanah seperti Centrosema pubescens dan Calopogonium mucunoides mulai muncul. Berikutnya tumbuh bibit kayu beringin, saga, leban, binong, ipil, serta berbagai jenis tanaman lokal lainnya.

Pada fase awal reklamasi, yang terpenting bukan tinggi tanaman, melainkan kemampuan akar muda mencengkeram media tumbuh. Ijuk Blanket memberi waktu bagi proses itu. Ketika vegetasi semakin kuat, peran serat perlahan berkurang. Dalam rentang tiga hingga lima tahun, jalinan ijuk mulai melapuk akibat aktivitas mikroorganisme tanah. Serat terurai secara alami dan kembali menjadi bagian dari humus. Material yang semula melindungi tanah akhirnya menyatu kembali dengan tanah yang dijaganya.

Karakter serat aren yang kuat, tahan terhadap kondisi tanah asam, sekaligus elastis membuat Ijuk Blanket sesuai untuk perlindungan awal lereng. Berbeda dari geotekstil sintetis berbasis plastik, material hayati ini tidak perlu diangkat setelah masa kerjanya selesai.

Penggunaan material lokal ini dapat memangkas biaya logistik dan emisi karbon dari rantai pasok manufaktur polimer, sebuah keuntungan ekologis yang mustahil didapatkan jika mengimpor geotekstil sintetis. Ijuk Blanket menjadi solusi berbasis alam (nature-based solution) yang berasal dari sumber daya lokal, di mana setelah masa kerjanya selesai, seratnya terurai dan kembali menjadi bagian dari tanah.

Reklamasi yang Terus Bergerak

Skala pemulihan lahan Batu Hijau terus bergerak. Sepanjang 2025, AMMAN mereklamasi 92,67 hektare lahan, menjadi capaian tahunan terbesar yang pernah dicatat. Dengan tambahan itu, total luasan kumulatif reklamasi mencapai 859,61 hektare pada akhir 2025. Pergerakan itu berlanjut hingga Mei 2026, luas lahan yang berhasil dipulihkan kembali telah mendekati 881 hektare.

Di atas hamparan yang dipulihkan, lebih dari 1,53 juta pohon telah ditanam, terdiri atas 99 varietas tanaman lokal endemik Sumbawa Barat. Perkembangan tutupan vegetasi dipantau menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), sementara camera trap membantu merekam kehidupan liar yang kembali hadir. Dari pantauan itu, sejumlah fauna endemik seperti rusa Timor, musang, ayam hutan, hingga burung predator seperti elang bondol kembali terdeteksi di kawasan reklamasi.

Pemulihan juga menjangkau wilayah di luar kawasan tambang. AMMAN menjalankan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan cakupan sekitar 3.600 hektare. Di kawasan pesisir, program Transformaseas mencakup rehabilitasi terumbu karang buatan di Gili Balu serta pelestarian penyu di pesisir selatan Sumbawa Barat.

Upaya menekan jejak emisi berjalan melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 26,8 MWp. Pada 2025, energi surya tersebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 34.794 ton CO₂e.

Rangkaian pemulihan itu bergerak bersama masyarakat. Di Desa Tongo dan Sekongkang, kelompok warga mengelola Community Nursery untuk memasok bibit tanaman lokal ke kawasan reklamasi. Hingga 2025, sebanyak 167 warga desa tercatat terlibat secara kumulatif dalam rantai pasok produksi Ijuk Blanket dan Coconet.

Dampaknya kemudian terlihat dalam kajian Mine Closure 2024 melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI). Nilai kemanfaatan sosial diproyeksikan meningkat dari 23,59 pada 2024 menjadi 45,84 pada 2025. Angka itu kembali naik menjadi 66,83 pada 2026 dan 86,63 pada 2027, sebelum mencapai 105,31 pada 2028.

Deretan angka itu tidak berdiri sendiri. Di belakangnya ada lahan yang dipulihkan, vegetasi yang kembali tumbuh, satwa yang mulai terpantau, serta warga yang terlibat dalam rantai ekonomi.

Kajian itu juga mencatat bahwa pelaku usaha masyarakat telah mampu memenuhi permintaan pasar dari wilayah lain, menunjukkan bahwa usaha berbasis komunitas memiliki ruang untuk berkembang melampaui kebutuhan di sekitar tambang.

Infografis proyeksi peningkatan nilai Social Return on Investment (SROI) yang signifikan dari dua proyek berbasis komunitas, Ijuk Blanket dan Coconet, dalam kurun waktu lima tahun (2024-2028). Berdasarkan Kajian Mine Closure 2024, kedua inisiatif rehabilitasi lahan ini diproyeksikan mencatatkan lonjakan nilai SROI, dari 23,59 pada tahun 2024 menjadi 105,31 pada tahun 2028.

Menurut Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communications AMMAN, rancang bangun program reklamasi sejak awal didesain agar manfaat ekonominya tidak berhenti di dalam pagar area operasional tambang semata.

“Goal besar dari seluruh inisiatif keberlanjutan kami adalah menciptakan dampak positif berganda (multiplier effect) yang sirkular dan dapat terus dirasakan secara nyata oleh masyarakat luas di tingkat tapak,” jelas Kartika.

Dampak berganda tersebut bukan sekadar klaim di atas kertas, melainkan komitmen nyata yang diakui formal sekaligus dirasakan langsung.

Rangkaian pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat itu akhirnya mendapat pengakuan melalui predikat PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 2026.

Studi M. Adit Aryadi dan Abdul Azis dari Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) pada awal 2026 memperkuat gambaran itu. Melibatkan 150 responden di Desa Pasir Putih, Kecamatan Maluk, dan Desa Bukit Damai, penelitian ini menilai persepsi masyarakat terhadap kondisi lingkungan, kualitas air, serta tata kelola program pascatambang AMMAN. Hasilnya, indeks persepsi warga berada pada kategori “Baik” hingga “Sangat Baik”. Temuan ini memperlihatkan apresiasi positif masyarakat lingkar tambang terhadap upaya pemulihan lingkungan dan pengelolaan program yang dijalankan perusahaan.

Perjalanan selembar Ijuk Blanket mempertemukan banyak tangan dalam satu rangkaian. Pohon aren menyediakan bahan baku di hulu. Para pengarit seperti Jamal membawa serat turun dari ketinggian. Di Desa Beru, perempuan-perempuan merajutnya dengan ketelitian sebelum lembaran hitam itu dikirim menuju lereng Batu Hijau. Di sana, ijuk menjalankan tugasnya pada masa awal pemulihan. Ia membantu menjaga topsoil, meredam erosi, dan memberi kesempatan bagi vegetasi muda untuk tumbuh.

Dari serat hitam pohon aren, lahir pekerjaan bagi warga, keterampilan bagi perempuan desa, tambahan penghasilan bagi keluarga, sekaligus bagian dari perjalanan tanah yang perlahan kembali hijau.

Pada akhirnya, reklamasi di Batu Hijau bukan sekadar menunaikan kewajiban setelah tambang bekerja, melainkan meninggalkan warisan tentang bagaimana tanah yang pernah dibuka dapat dipulihkan, kehidupan kembali ditumbuhkan, dan keberlanjutan menjadi standar bagi masa depan.**

About The Author